Rabu, 07 Agustus 2019

Ke Paris, Tetap Gaya Tanpa Bikin Kantong Tipis



Memang, begitulah adanya.  Meskipun Paris terkenal dengan orang-orangnya yang bergaya aristokrat, cenderung pamer dan suka barang-barang bermerek, bukan berarti kita harus takut atau khawatir tidak bisa jalan-jalan disana.  Hal itu juga bukan alasan yang tepat untuk mengurungkan niat karena ketakutan tidak dapat menanggung semua biaya selama tinggal disana.  Apalagi semua tour and travel agent tidak ada yang pasang harga murah per orang bila ingin jalan-jalan ke Paris.  Sebagian orang mungkin tidak terlalu peduli dengan harga travel, bila memang punya uang berlebih atau memang biasa 'dilayani' sehingga sadar betul perlakuan seperti ini berkonsekuensi pada biaya.  Tapi bagi orang yang memang hobi jalan-jalan apalagi ramai-ramai dengan keluarga, mereka akan lebih cenderung mengatur dengan baik biaya yang akan dikeluarkan.  Kalau bisa biaya yang dikeluarkan seminim mungkin, tapi kenikmatan atau kebahagiaan yang didapat maksimal.  Orang yang kaya tapi bijak pun akan sepaham, meski kita banyak duit, bukan berarti harus bayar mahal untuk semua kebutuhan kita kan? Dari sinilah, baru kita sadar, betapa pentingnya informasi dari luar yang mau berbagi pengalaman mengatur perjalanan sendiri.  Nah, itulah salah satu fungsi media blog atau vlog perjalanan.


Tujuan utama ke Paris


Penghematan pertama yaitu tiket pesawat.  Acara travel fair atau pameran wisata yang mengikutsertakan maskapai-maskapai penerbangan atau pameran tunggal salah satu maskapai adalah ajang yang tepat untuk mendapatkan tiket murah.  Perjalanan kali ini aku dapat harga murah dari Emirates.  Pada travel fair di salah satu mal di Jakarta itu, semua airlines asing banting harga. Bisa jadi mereka ingin menggenjot load factor menjelang low season 2019.  Jelas saja aku tidak mau kehilangan kesempatan ini untuk ikut berburu tiket ke Eropa.  Aku sudah kangen betul dengan Paris dan rasanya sudah pengin sekali kembali kesana.  Jam penerbangan yang kupilih yaitu malam atau dini hari dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta dengan harapan saat tiba di Bandara Charles de Gaulle Paris pagi menjelang siang.  Hitung-hitung proses imigrasi dan pengambilan bagasi yang sering makan waktu serta perjalanan dari bandara ke hotel, aku berharap tiba di hotel bisa langsung check-in dan rehat sebentar sebelum memulai acara jalan-jalan.


Dari jendela pesawat Emirates

Dari Dubai (transit) ke Paris


Perhitunganku agak meleset sedikit.  Ternyata proses pengambilan bagasi di Bandara Charles de Gaulle lebih lama dari di Soekarno-Hatta.  Tidak sebanding dengan proses imigrasi dan bea cukainya.  Alhasil aku tiba di Hotel Mercure Gare de Lyon tempatku menginap di Paris menjelang sore hari alias jam 3.  Kenapa Mercure Gare de Lyon?  Awalnya aku sudah booking di hotel Mercure Bastile Saint Antoine, tapi setelah kulihat di peta bahwa hotel ini lumayan jauh dari stasiun metro dan aku memang ada perlu dengan stasiun metro, makanya aku tidak mau menginap di hotel yang berjauhan dari stasiun.  Acara jalan-jalan dan shopping pasti membutuhkan aktivitas mondar-mandir dan perlu energi ekstra bawa belanjaan.  Kalau lokasi hotel jauh dari stasiun, konsekuensinya aku akan capek jalan kaki bawa barang atau harus keluar uang untuk naik taksi.  Disamping harganya mahal, yang berisiko juga kalau kita dapat supir yang nakal dan mau ambil keuntungan dari turis yang tidak hafal jalan.  Bisa saja kita diputar-putar atau sengaja dicari jalan yang macet sehingga argo jalan terus.  Daripada kita menyesal dan was-was, mending naik metro.  Dan pilihanku sangat tepat saat kuputuskan untuk menginap di Mercure Gare de Lyon yang berlokasi tepat di area stasiun kereta api besar Gare de Lyon Paris.  Penghematan kedua.


Gare de Lyon, hotel Mercure ada di bagian ujung kanan

TV dalam kamar

Fasilitas dalam kamar mandi, hanya sabun batang dan body lotion

Minibar dalam kamar

View di depan hotel


Hotel Mercure Gare de Lyon adalah hotel berbintang 4 yang sangat strategis lokasinya.  Keluar dari pintu masuk hotel, belok kanan dan jalan 5 meter sudah kita masuki pintu ke stasiun kereta api cepat bawah tanah yang disini disebut metro.  Beruntungnya, Gare de Lyon punya semua rute atau jurusan di seluruh penjuru kota Paris.  Aku ingin menggunakan fasilitas dari Pemerintah Perancis untuk turis asing yaitu Paris Visite Card (PVC) sejenis kartu abonemen yang dapat kita gunakan sepuasnya dalam menggunakan transportasi publik selama jangka waktu tertentu.  Di stasiun metro besar ini kita dapat membeli PVC di counter informasi di lantai terbawah atau 2 lantai dari lantai dasar.  Harga kartu ini tergantung dari jumlah hari yang kita inginkan. Kelebihan mempunyai PVC, kita dapat menggunakan semua transportasi publik di Paris seperti bus, metro/kereta bawah tanah, kereta api/atas tanah, selama 24 jam.  Kita bisa berpindah-pindah moda transportasi atau bolak-balik ke jurusan itu-itu saja sepuasnya.  Kartu PVC itu kita gunakan untuk membuka portal masuk dan keluar (sortie) di peron.  Sebelum menggunakan kartu itu, diwajibkan kita menulis nama kita sesuai yang tercantum dalam passport dan tanggal berlakunya kartu karena polisi secara random bisa saja menanyakan tiket atau kartu yang kita miliki.  Oiya, transportasi publik di Paris dibagi atas 5 zone.  Harga PVC itu juga tergantung dari banyaknya zone yang akan kita datangi.  Kalau kalian memang ingin jalan-jalan ke banyak tempat dalam 1 hari, menggunakan PVC akan jauh lebih hemat daripada harus beli ketengan di mesin pembelian tiket.  Sudah begitu, dengan PVC kita terhindar dari risiko beli tiket lagi bila salah kereta atau salah masuk/keluar peron.  Meskipun signage atau rambu petunjuk cukup jelas disini, tapi risiko salah masuk/keluar selalu ada, apalagi bagi yang belum pernah ke Paris, tidak hafal daerah atau nama-nama tempat di Paris atau tidak terbiasa menggunakan transportasi umum.  Makanya sangat disarankan untuk membeli PVC.  Penghematan ketiga.


Paris Visite Card yang sangat bermanfaat dan hemat


Sebenarnya banyak sekali tempat wisata menarik di Paris, tetapi kembali lagi, semua tergantung ketersediaan waktu dan kemauan kita sendiri.  Bagi yang belum pernah ke Paris, kalian wajib ke tempat-tempat yang menjadi icon atau landmark kota Paris.  Yang pertama pastinya menara Eiffel.  Caranya sangat mudah menuju ke Eiffel, cukup naik metro jurusan Trocadero.  Keluar dari stasiun Trocadero, jalan kaki 10 meter langsung akan terlihat menara Eiffel yang berdiri tegak menanti kedatangan pengunjung.  Kebanyakan orang sudah tidak sabar ingin mengambil gambar disini.  Kalau anda tiba di sore hari, di Trocadero inilah background view Eiffel-nya bagus karena tidak melawan sinar matahari.  Langit akan terlihat sangat biru.  Tapi kalau anda datang di pagi atau siang hari, sebaiknya mengambil gambar di sisi sebaliknya.  Anda harus turun dulu dari Musee National de la Marine ke arah jembatan Pont d'Lena dan lanjut berjalan kaki ke taman Champ de Mars.  Disinilah spot terbaik untuk foto dengan background Eiffel di pagi dan siang hari.


Eiffel dilihat dari Trocadero di siang hari

Pont d'Lena, jembatan ke arah Champ de Mars

Eiffel dilihat dari Champ de Mars


Yang kedua, Arc de Triomphe, termasuk icon dan landmark kota Paris.  Pokoknya kalau orang lihat gambar bangunan seperti gerbang ini, pasti mereka langsung tahu kalau itu Paris.  Arc de Triomphe adalah monumen untuk mengenang kemenangan Napoleon dalam perang. Kalau mau kesini, naik metro jurusan Charles de Gaulle-Etoile karena turun dari stasiun ini anda akan langsung dapat 2 tempat wisata sekaligus yaitu Arc de Triomphe dan Champs Elysees, surga belanja bagi kaum jetset yang suka produk dari brand-brand internasional seperti Cartier, Montblanc dan lain-lain.  


Diresmikan pada tahun 1836
Butik-butik elite di Champs Elysees


Yang ketiga, Notre Dame,  Katedral utama kota Paris ini sangat terkenal namanya sampai pernah dibuat film oleh Disney pada tahun 1996, The Hunchback of Notre Dame. Disamping sebagai tempat ibadah umat Nasrani, Notre Dame adalah titik 0 km kota Paris.  Semua tempat jaraknya dihitung dari Notre Dame, oleh karena itu keberadaan katedral ini menjadi sangat penting bagi Paris.  Sayangnya, waktu aku kesini, Notre Dame sedang diperbaiki pasca kebakaran tragis bulan April yang lalu.  


Bentuk katedral pasca kebakaran bulan April lalu


Yang keempat adalah yang paling unik.  Bangunan ini bukannya ciri khas Paris, melainkan icon atau landmark negara Mesir.  Dan bangunan ini pun berada di salah satu museum yang bukan satu-satunya museum di Paris, bahkan bisa dibilang bukan museum terbesar di negara ini.  Tapi Pemerintah Perancis berhasil membuat bangunan ini menjadi sangat terkenal dan masuk jajaran icon kota Paris.  Adalah piramid kaca di museum Louvre.  Bentuknya yang unik dan di kelilingi oleh bangunan tua gaya Eropa menjadi piramid ini destinasi utama para pelancong.  Untuk sekadar foto di piramid ini tidak dipungut biaya, anda tinggal masuk dari gerbang utama pintu museum Louvre tepatnya di depan stasiun metro Palais Royal Musee du Louvre.  Bahkan di sortie atau pintu keluar stasiun ini terdapat beberapa bangunan penting yang cocok untuk menjadi background foto.  


Stasiun metro

Gerbang masuk museum Louvre

Bangunan di sekitar stasiun metro

Gedung di dalam Louvre

Inilah Louvre Pyramid, salah satu icon kota Paris




Kalau sudah mengunjungi ke 4 landmark itu artinya anda sudah lulus dan benar-benar membuktikan pernah ke Paris.  Destinasi berikutnya tergantung dari anda sendiri.  Yang suka belanja produk brand internasional bisa melanjutkan ke galeri Lafayette. Yang suka sneakers sepertiku, sebaiknya mampir ke Chatelet, distrik ekonomi atau area belanja yang sangat terkenal di Paris.  Chatelet juga merupakan station transit metro terbesar karena semua jurusan melewati stasiun ini.  Disini banyak sekali counter-counter individual produk sneakers terkenal seperti Nike, Vans, Puma atau yang gabungan berbagai merk seperti Footlocker, Size dan lain-lain.  Di sekitar Chatelet juga terdapat beberapa spot menarik untuk berfoto seperti Fontaine des innocents, air mancur bergaya Renaissance yang dibangun di masa kekuasaan Raja Henri IV.


Surga belanja

Tidak pernah sepi

Sneaker shop ada disini

Belanja dan belanja

Berapa box sneaker itu?


Fontaine des innocents


Aku juga menyempatkan diri mengunjungi Stadium Les Parc des Princes tempat markas klub sepak bola Paris Saint Germain (PSG) yang disegani di Perancis.  Di seberang stadium terdapat Megastore yang menjual produk-produk yang berkaitan dengan klub PSG.  Semua asli khususnya jersey yang sama dipakai oleh pemain PSG.  Para fans PSG selalu memadati toko ini karena disamping berburu produk-produk PSG, mereka dapat bertemu antar penggemar atau kalau mujur berkesempatan ketemu dengan pemain PSG.


Spot berfoto terbaik

Megastore, toko khusus merchandize PSG

Bawaannya pengin borong semuanya

Mau ada nama dan nomor sendiri di jersey?


Lokasi Les Parc des Princes sebenarnya berdekatan dengan Rolland Garros, stadium tempat pertandingan tenis grand slam Perancis Terbuka.  Jadi, bagi penggemar tenis, mereka bisa sekaligus berkunjung ke Rolland Garros.  Namun searah dengan perjalanan ke stadium lapangan tanah liat itu, tidak ada salahnya mampir ke botanical garden atau kebun tanaman Jardin des serres d'Auteuil.  Bangunannya unik, koleksi tanamannya banyak dan tersedia toilet gratis yang bersih dan terawat baik.


Botanical garden di dekat stadium

Spot terbaik untuk foto


Bagi yang suka ngemil, perlu dicoba toko-toko kue kering yang ada stasiun metro atau ada di pinggir jalan seperti La mie caline, hmm.......kuenya fresh dari oven dan rasanya enak banget.  Atau yang ingin nyimpan makanan ringan atau minuman di hotel atau dalam perjalanan, bisa mampir ke Monop, Carrefour atau supermarket lainnya. Harganya, jauh lebih murah daripada di restaurant.  Untuk makanan halal pun banyak di Paris.  Restaurant Timur Tengah atau yang berbau Arab dan Turki bisa dikatakan halal semua.  Kalau di dekat hotel Mercure Gare de Lyon, restaurantnya ada di seberang depan stasiun. Harganya murah, tapi porsinya besarrrrr bangettzz....... Kalau masih susah nyarinya, kalian bisa pergi ke KFC yang serba ayam semua, hanya bentuk pelayanannya berbeda disini.  Anda harus pilih dan pesan makanan/minuman di mesin order, lalu bayar sekalian dengan menggunakan kartu kredit.  Tapi kalau ingin bayar cash, anda harus ke counter order atau pay untuk bayar, lalu antri orderan datang di depan counter pengambilan makanan.  Yang kerap jadi masalah, mereka teriaknya pakai bahasa Perancis bila menyebutkan nomor order yang sudah siap diambil. 


La mie Caline

Buah-buahnya fresh semua

Minumannya macam-macam

Ada yang self service ada juga yang dilayani kasir

Untuk beli oleh-oleh makanan pun oke juga


So, tidak ada alasan sekarang untuk tidak jalan-jalan ke Paris.  Transportasi hemat, penginapan hemat, makan hemat.  Belanjanya doang yang ngga hemat hehe...........maklum yang satu ini tidak masuk hitungan dalam penghematan, sangat personal.  Yang penting perjalanan kita menjadi lebih murah, meriah, aman, seru dan tetap penuh gaya.   






Sabtu, 09 Maret 2019

Sejuta Pesona Derawan Di Sebelah Timur Kalimantan

Pesawat bombardier milik maskapai Garuda Indonesia yang kutumpangi mendarat mulus di landasan Bandara Kalimarau Tanjung Redeb Kabupaten Berau Kalimantan Timur.  Nama bandara itu baru kutahu setelah mendarat dan taxiing ke apron.  Di boarding pass tertulis Tanjung Redeb, bukan Kalimarau dan publik malah lebih kenal dengan Berau atau Derawan.  Mereka tidak tahu bahwa Derawan, meskipun bagian dari Kabupaten Berau, tapi Derawan adalah sebuah kepulauan di sebelah timur pulau Kalimantan yang berbatasan dengan negeri Sabah Malaysia.  Ada empat pulau yang sangat terkenal di gugusan pulau ini yaitu Maratua, Sangalaki, Kakaban dan pulau Derawan itu sendiri.  Setiap pulau memiliki daya tarik tersendiri dan hari ini aku ingin mengeksplor semua hal yang menarik dan membaginya ke pembaca setia blog-ku.


Pesawat menuju apron bandara Kalimarau

CRJ1000, pesawat milik Maskapai Garuda Indonesia

Meski kecil tapi nyaman


Keberadaan Bandara Kalimarau sangat menunjang program pariwisata atau promosi obyek wisata Derawan.  Turis domestik dan lokal jadi lebih mudah bila ingin mengunjungi pulau yang terkenal di manca negara ini.  Meskipun berukuran kecil, namun bandara ini sudah melayani 5 airlines besar domestik, Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Nam Air, Wings Air dan Susi Air.  Penumpang yang bareng denganku di bombardier itu pun terlihat penuh, padahal aku terbang kesana bukan di akhir pekan.  Load factor-nya tinggi, artinya penerbangan tujuan Berau menjanjikan keuntungan bagi maskapai.


Bandara Kalimarau yang mungil

Bersih dan masih sedikit penerbangan ke bandara ini

Tempat pengambilan bagasi

Akustik di terminal kedatangan


Bandara Kalimarau tidak berada di Derawan.  Kita harus naik kendaraan via darat dengan jarak tempuh sekitar 2 jam menuju pelabuhan Tanjung Batu.  Kondisi jalan raya lumayan bagus, hanya di beberapa tempat agak rusak.  Kata sopir yang membawaku, kondisi jalan itu bukannya rusak, melainkan dalam proses perbaikan dan jalan yang kami lalui adalah jalan pintas menuju pelabuhan.


Minuman gratis di tempat pengambilan bagasi

Berfoto ria sebelum keluar dari tempat pengambilan bagasi

Area kedatangan

Jalan menuju pelabuhan-1

Jalan menuju pelabuhan-2

Jalan menuju pelabuhan-3


Sesampai di pelabuhan, beberapa speed boat sudah stand by di pinggir dermaga.  Selesai menggunakan toilet yang jorok di pelabuhan, aku bergegas menaiki boat agar segera sampai di tempat tujuan dan tidak bertemu dengan gelombang pasang.  Sekitar 1 jam di atas laut, akhirnya sampai juga di Dive Resort yang ada di Pulau Derawan.  Kondisi resort ini mengingatkanku saat berkunjung ke Maldives.  Penginapannya berupa rumah kayu di atas bibir pantai sampai ke pinggir laut.  Material kayu sangat dominan dan dermaga yang seperti jalan setapak itu terbuat dari kayu dengan tiang-tiang kayu yang terlihat kuat menancap di dasar laut.  Sebagian tiang ditambah papan kayu dengan posisi menyilang, bertujuan untuk memperkuat tiang dan menahan air laut saat pasang.


Mendekati dermaga penyeberangan

Speed boat yang mengantarkanku ke Pulau Derawan

Kapasitas 20 orang, cepat dan aman

Dermaga terbuat dari kayu

Tempat penginapan terapung di Dive Resort


Setiap bangunan rumah bisa terdiri dari beberapa kamar.  Setiap kamar dilengkapi dengan fasilitas seperti AC, TV, kamar tidur dan kamar mandi serta beberapa fasilitas pendukung untuk meningkatkan kenyamanan penghuninya.  Namun sayangnya, dekoder digital yang ada di kamarku bermasalah.  Aku hanya bisa menikmati satu channel saja, selebihnya hanya ada tulisan di display TV 'tidak ada pesan/channel tidak tersedia'.  Mungkin kita harus keluar kamar dan beraktivitas diluar lebih lama daripada di dalam kamar?.


Dive resort di Pulau Derawan

Tempat tidur di Dive Resort

Interior di dalam kamar

Ruang lega di bagian belakang kamar

Fasilitas di dalam kamar


Kegiatan outdoor pertamaku adalah mengenal lingkungan sekitar.  Makan siang di restoran di Kampung Wisata Bahari yang lokasinya persis di belakang Dive Resort.  Suasana di kampung siang itu tidaklah ramai.  Hampir setiap rumah disini menawarkan diri sebagai homestay bagi wisatawan, namun kali ini kondisinya lagi sepi pengunjung.  Kata penduduk disini, semua penginapan akan ramai di musim liburan dan saat cuaca bersahabat bagi para pecinta alam bawah air.  Harga makanan disini juga tidak mahal untuk ukuran pulau yang harus ditempuh 1 jam perjalanan dari pelabuhan.  Disinilah aku mengenal buah lokal Berau, Lai yang bentuknya mirip durian namun bentuknya lebih kecil dan kulitnya seperti cempedak.  Rasanya memang tidak semanis dan selegit durian, namun baunya lebih bersahabat.


Kampung Wisata Bahari

Rumah-rumah penduduk di sekitar resort

Material didominasi oleh kayu

Buah Lai, mirip 'kawin silang' durian dengan cempedak

Rasanya begitu menggoda


Banyak aktifitas yang dapat dilakukan di pulau ini di sore hari.  Ada spot yang menarik yang masih berada dalam kawasan resort ini yaitu semacam tugu berbentuk perahu dengan tulisan huruf kapital besar Derawan.  Kalau ada waktu, tidak ada salahnya untuk bersepeda keliling pulau.  Hanya sekitar 30 menit bersepeda santai sudah dapat mengenal pulau dan penduduk disini.  Setelah bersepeda, kita bisa melepas lelah dengan duduk di pinggir pantai atau dermaga kayu sambil menikmati matahari terbenam.  Jangan melewatkan indahnya sunset disini dengan kamera.


Bersepeda di kampung wisata

Anak-anak di kampung Wisata Bahari

Senja di Derawan


Keesokan harinya setelah sarapan di pondok ujung dermaga, acara wisata laut dimulai dengan berkunjung ke Pulau Sangalaki.  Tujuannya untuk berenang dengan Manta atau ikan pari yang berukuran besar dan melihat penangkaran serta pelestarian penyu laut.  Binatang yang satu ini kondisinya sudah mengkhawatrikan di Indonesia.  Banyak perburuan liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.  Memang penyu adalah binatang yang bernilai komersial.  Telurnya diburu untuk dikonsumsi dan konon berkhasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh.  Dagingnya pun bisa dikonsumsi.  Beberapa daerah malah menjadikan penyu sebagai santapan khusus di ritual acara kebudayaan.  Terakhir, punggung atau batok keras penyu pun dapat diolah menjadi suvenir atau cindera mata.  Menyedihkan.  Apalagi ada predator yang bukan berbentuk manusia yang juga mengancam keberadaan penyu.  Untuk menghindari dari predator inilah, makanya bayi-bayi penyu atau biasa disebut tukik ini dilepasnya ke laut dari penangkaran pada malam hari.


Rumah untuk pertemuan satu-satunya di Sangalaki

Signage penangkaran penyu di Sangalaki

Kolam pengembang-biakan penyu

Boleh foto bersama si tukik



Dari Sangalaki, acara dilanjutkan ke Pulau Kakaban.  Di tempat ini terdapat danau air asin yang dihuni oleh ubur-ubur tidak beracun.  Danau itu terletak di tengah pulau yang ukurannya kecil dan tidak berpenduduk karena tidak ada sumber air tawar,  Pengunjung pulau ini tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menceburkan diri di danau dan berfoto dengan ubur-ubur.  Namun, guide-ku mengingatkan bila berfoto dengan ubur-ubur, jangan memegang apalagi meremas ubur-ubur karena itu masuk kategori menyiksa binatang dan pasti akan mendapatkan respon negatif bagi siapa pun yang melihatnya.


Gerbang masuk pulau Kakaban

Air pantai bersih dan jernih
Jalan menuju danau di tengah pulau

Danau yang dipenuhi ubur-ubur

Lihat yang berwarna coklat itu


Pulau Kakaban ini sebenarnya indah banget pemandangannya,  Lautnya berwarna hijau jernih sehingga kita bisa melihat dasar laut dan batu-batu koral yang ada di dalamnya.  Juga tanaman mangrove yang hampir tumbuh di sekeliling pantai memberi keindahan tersendiri pulau ini.  Namun sayangnya, fasilitas umum yang ada disini tidak dirawat dengan baik.  Toilet, ruang ganti dan jembatan kayu yang ada pada rusak.


Siap berenang bersama ubur-ubur

Air danau yang payau

Dermaga kayu saat harus kembali ke boat

Kamar ganti yang tidak terawat/rusak


Dari Kakaban, perjalanan selanjutnya menuju Maratua.  Disini terdapat resort mewah yang sangat terkenal di Kepulauan Derawan.  Disamping menyediakan fasilitas yang bagus, resort ini menempati area dengan pemandangan pantainya yang menakjubkan.  Air laut itu berwarna hijau jernih di dekat pantai dan kebiruan di sisi luarnya.  Dermaga kayunya terawat baik dan dibangun cafe bar di ujung dermaga.  Banyak pengunjung yang berfoto di dermaga menikmati keindahan pantai sambil duduk di kursi kayu di atas dermaga.


Air laut hijau nan bersih dan jernih

Dermaga yang cocok sebagai tempat berfoto


Pulau Maratua mempunyai wilayah yang sangat luas dengan populasi penduduk yang lumayan padat.  Ini pulau satu-satunya yang dibangun bandar udara.  Meskipun berukuran kecil, tetapi bandara ini sangat membantu bagi transportasi wisatawan yang ingin cepat tiba di Maratua dan menjadi jalur alternatif bilamana air laut sedang bergejolak.  Namun daya tarik pulau ini lebih tertuju pada kolam gua yang bentuknya unik.  Untuk menikmati kolam gua itu ada dua cara.  Kita bisa terjun langsung ke kolam atau turun tangga menuju mulut gua. Bila terjun langsung, sang guide mengingatkan kita untuk berhati-hati karena kalau salah titik jatuhnya. badan kita bukannya terjun ke air, tapi malah menghantam batu karang yang ada di bawah kolam.  Bentuk kolam itu seperti ceruk, jadi sangat dalam dan menyempit ke bawah.  Katanya, ada turis asing yang berani menyelam di ceruk itu yang hanya muat untuk satu tubuh manusia.  Kedalamannya lebih 20 meter dan di akhir ceruk itu si turis menemukan area yang sangat lapang.  Namun, karena sangat sepi, belum pernah dijamah manusia dan berpotensi risiko lebih parah, si turis bergegas kembali ke daratan.


Menuju Goa Halo Tabung

Pos depan di goa

Jalan setapak di daerah goa

Tidak akan menyesal setelah melihat yang indah ini

Ceruk kolam yang misterius itu



Sama seperti di beberapa daerah wisata pantai di Indonesia, Derawan juga punya pulau pasir yang dikenal dengan nama gusung pasir.  Pulau ini sangat kecil, seperempat lapangan bola dan hanya terbentuk dari pasir laut.  Tidak ada tanaman dan sudah pasti tidak berpenduduk.  Namun pulau ini tidak pernah sepi pengunjung karena di tempat ini dapat menghasilkan foto yang sangat bagus, apalagi di siang hari.  Pasir putih, air laut hijau muda, langit biru dengan serpihan awan putih merupakan kombinasi warna yang indah.


Gusung pasir

Ada yang bergulung-gulung di pasir

Atau sekadar berfoto


Itu baru yang terlihat di atas permukaan.  Derawan punya yang lebih indah lagi yaitu alam bawah lautnya.  Di gugusan pulau ini tersebar keindahan bawah laut yang sudah diakui dunia.  Tidak mengherankan turis asing berdatangan kesini untuk snorkeling atau pun diving.  Sebagai warga Indonesia, kita pasti bangga dan berharap keindahan alam di Derawan tidak pudar karena ulah manusia.


Yang penting, Let's get fun