Kamis, 01 September 2016

Jogyakarta, Surga Kuliner Yang Tak Lekang di Telan Jaman

Tugu salah satu icon kota Jogyakarta


Jam 2 lewat 45 menit siang, pesawatku Sriwijaya SJ230 mendarat di Bandara Adi Sucipto.  Telat hampir satu jam dari yang dijadwalkan.  Tak apalah, yang penting selamat sampai di tempat.  Aku tetap excited mengunjungi kota pelajar dan budaya ini meskipun tujuan utamanya adalah urusan kantor.  Sayang sekali kan kalau hanya untuk urusan kantor sepanjang hari?  Masa' jauh-jauh dari Jakarta ke Jogya hanya untuk meeting, makan, minum dan tidur di hotel?  Kasian banget kalau ada orang yang ketiban nasib kayak begitu atau suka dengan yang begituan.  Hidup sekali kok ga dinikmati apalagi di kota yang penuh dengan pilihan makanan khas, unik dan murah yang sulit kita temukan di Jakarta atau kota lainnya.  So, aku sudah punya rencana panjang untuk berwisata kuliner di Jogyakarta.  


Guci unik di teras hotel Grand Zuri


Setelah menjejakan kaki di hotel Grand Zuri, aku langsung check-in dan masuk kamar untuk ganti pakaian yang lebih santai karena aku sudah tidak sabar lagi untuk segera keluar dari hotel memulai perjalanan di Jogya yang hanya 3 hari ini.  Rasa capek perjalanan dari Jakarta ke Jogya sudah terbayarkan di udara.  Aku sempat tidur pulas meski hanya sebentar di dalam pesawat.  Waktu melihat ranjang hotel sebenarnya aku pengin rehat sebentar, apalagi melihat kolam renang yang lumayan menarik, aku pengin juga turun dan berenang.  Tapi mengingat waktu yang hanya sebentar di Jogya, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan.  Kembali ke rencana semula, wisata kuliner.


Bar di lobby hotel

Resepsionis dengan ornamen serba batik

Kamar tidur
Kebaca ga kalimat bijak di atas ranjang?

Ini sekadar kondisi di dalam kamar hotel.  Gaya minimalis tapi super fungsional semua perabotnya serta lay out atau tata ruangnya yang bagus sehingga terkesan luas.  Wifi free di kamar dengan password yang dapat kita ketahui dari dalam kantong kunci kamar dan di layar tv.  Kecepatannya oke banget!


Kamar mandi-1

Kamar mandi-2

Pintu kamar dan lemari pakaian

Kolam renang di lantai 3

Pak Pramono, sopir hotel yang menjemputku di bandara bilang bahwa aku harus ke Gadri Resto karena inilah satu-satunya restaurant yang direkomendasikan bagi siapa pun yang ingin merasakan sensasi makanan dan suasana ala raja Jawa.  Taksi yang sudah kupesan dari hotel ternyata tahu tempat yang ingin kutuju.  Ternyata lokasinya ga jauh dari hotel.  Kalau bule pasti jalan kaki kesana haha...


Pintu depan Gadri Resto

Halaman depan bagian kiri

Gamelan di bagian depan dekat pintu gerbang
Halaman utama bagian depan


Gadri Resto tempatnya persis disamping kanan kraton atau istana raja.  Nama restoran tidak begitu terlihat karena sedikit tertutup daun pohon di depan pintu masuk.  Suasana lumayan teduh sore itu dan sepi pengunjung, tapi ada beberapa anak kecil sedang belajar mengaji.  Kata pelayan resto, itu kegiatan rutin di Gadri dan pengunjung khususnya orang asing malah senang melihat aktifitas keagamaan seperti itu.  Bagus juga menurutku, ini bisa menambah keberkahan bagi resto.


Area depan sebelah kanan

Kain dan perangkat membatik

Menu yang unik

Cerita singkat sejarah Gadri Resto di dalam buku menu
Sangkar burung ukuran besar untuk acara tradisional

Jam kuno dan foto-foto lawas


Sebelum pesananku keluar, aku menyempatkan diri untuk mengabadikan setiap ruangan di gedung yang dibangun pada tahun 1916 ini.  Banyak sisi-sisi menarik untuk dilihat dan difoto di setiap sudut ruangan.  Masih di bagian teras depan, kita dapat temui ruangan membatik lengkap dengan alat membatiknya.  Disini juga bisa kita lihat barang-barang unik seperti kurungan burung ukuran besar yang digunakan untuk acara tradisional merayakan anak kecil yang mulai dapat berjalan.


Pintu menuju bagian dalam (ruang tamu utama)
Ruang tamu khas kraton Jogya

Bagian kanan ruang tamu

Bagian kiri ruang tamu

Koridor menuju ruang makan

Kamar tidur-1

Kamar tidur-2


Masuk ke dalam terlihat ruangan tamu yang dipenuhi dengan pajangan-pajangan unik dengan ornamen kental kerajaan Jogya.  Dari ruangan ini juga kita bisa melihat kamar tidur keluarga kerajaan.  Semakin ke dalam, kita akan diperlihatkan hal-hal yang lebih privasi seperti ruangan makan utama, dapur dan gamelan lagi untuk menghibur keluarga kerajaan atau tamu-tamunya.


Pintu tengah yang dipenuhi bunga melati
Ruangan santai di belakang rumah

Teras belakang sebelah kanan

Teras belakang bagian kiri
Ruang gamelan (lagi) di bagian belakang

Area menuju ruang makan utama

Ruang makan utama tempat menjamu para tamu


Menu yang kupesan akhirnya datang juga.  2 minuman khas Gadri sengaja ku-order yaitu Bir Jawa dan Royal Secang.  Gimana ga kaget saat baca ada bir di restoran kerajaan?  Apa keluarga raja terbiasa dengan minuman keras?  Ternyata yang dimaksud bir Jawa sangat berbeda dengan bir-bir yang sering kita temui karena dia bukanlah bir dalam arti yang sebenarnya.  Ini mengingatkanku dengan bir pletok Betawi yang lebih cenderung menyegarkan dan menghangatkan daripada memabukkan.  Bir Jawa justru terbuat dari beberapa rempah khas tanah Jawa.  Dijamin badan malah bugar kalau meminum bir ini dan pasti tidak bikin kita mabuk.  Bagaimana dengan Royal Secang?  Minuman ini lebih manis.  Dari bentuk dan rasanya, menurutku malah seperti syrup meskipun ada campuran beberapa rempah juga di dalamnya.


Tampilan di menu
Aslinya....


Makanan yang kupesan sore itu adalah menu special kesukaan sang raja yaitu Nasi Blawong.  Namanya unik, tapi tampilannya tidak asing bagiku.  Makanan ini terdiri dari nasi yang dibumbui seperti nasi goreng, ada telur rebus, daging sapi cincang, ayam goreng, peyek dan sambal.  Daging sapinya lembut, peyeknya gurih, dan sambalnya pedas tapi masih bisa kutoleransi.  Nasinya agak keras menurutku dan ayam gorengnya kurang juicy alias cenderung kering sehingga dagingnya terasa keras.  Untuk dessert aku pesan telo ijo.  Kupikir makanan ini terbuat dari ubi jalar karena dari gambar di menu seperti ubi jalar.  Ternyata aku salah, yang benar terbuat dari singkong rebus yang dilumuri fla hijau manis.  Aku suka banget singkong yang lembut dan fla yang manis itu.  Sayangnya perutku sudah kenyang dengan main course, jadinya makanan penutup hanya kuhabiskan seperlimanya.  Pelan-pelan menikmati telo ijo sambil chatting dengan teman pakai wifi yang free tanpa password.  Tapi kualitas kecepatan wifi-nya sangat lambat, so lebih baik pakai paket internet berbayar punya pribadi.


Menu dan harganya yang murah
Nasi Blawong yang special itu
Telo ijo dalam menu

Tampilan aslinya...


Karena hari masih sore dan aku masih malas kembali ke hotel, kuputuskan untuk berlanjut acara wisata kulinerku ke Raminten.  Kali ini aku pilih yang berlokasi di Kotabaru yang sangat dekat dengan hotel tempatku menginap.  Rumah makan ini buka 24 jam, so aku ga perlu buru-buru menuju kesini.  Pas banget aku masih kenyang dari Gadri, jadinya aku bisa break sebentar di Raminten sebelum pesan makanan.


Branding yang menarik

Pintu masuk

Dinding pembatas menuju tempat makan di dalam

Area makan bergaya lesehan dengan kursi sandaran


Karena perut masih kenyang, aku to the point nanya waiters Raminten yang berpakaian tradisional Jawa, meskipun ada juga yang mengenakan baju bernuansa Bali.  Menu yang kupesan malam itu adalah Ayam Koteka.  Kata pelayan perempuan yang dandan menor kayak foto branding Raminten yang memang nyentrik itu, ayam koteka adalah menu andalan dan banyak diminati pengunjung karena unik.  Daging ayam dilumuri goreng telur dimasukkan dalam batang bambu.  Terinspirasi oleh koteka khas Irian yang digunakan oleh kaum pria disana.  Setahuku mereka tidak pakai batang bambu kan?  Mungkin sedikit dipoles biar terlihat inovasinya.  Ayam koteka disajikan dengan sambal ijonya yang pas di lidahku.  Sayangnya aku ga bisa menghabiskan makanan itu.  Sama juga es buah Raminten yang kupesan pun hanya kuminum separuh.  Disamping nama besar si pemilik dan buka 24 jam, kelebihan Raminten lainnya adalah harga makanan dan minuman lumayan murah, tempatnya cocok untuk segala usia, pelayannnya ramah-ramah, free wifi meski ber-password,  dan lokasi yang mudah ditempuh. 



Area lesehan di lantai dasar
Area lesehan di bagian depan sekaligus ruang tunggu 'take away'
Cocok untuk berduaan

Ayam koteka, menu andalan di Raminten

Es buah Raminten

Nasib kurang beruntung di malam kedua dan ketiga.  Undangan makan malam membuat acara kulinerku terganggu.  Namanya juga undangan, kita kan tidak bisa milih mau makan dimana dan makan apa.  Semua tergantung si tuan rumah.  Tapi tidak menjadi masalah, toh masih ada juga waktu untuk jalan-jalan mencari tempat hang-out yang enak di kota gudeg ini.  Untungnya ada teman yang baik hati mau mengantarku keliling kota.  Saat berkeliling itulah, aku melihat ada parkiran motor yang penuh dan ramai di depan cafe yang berderet.  Ada kali 200 motor!  Padat banget parkirnya.  Hal ini sangat menarik perhatianku dan mau tidak mau aku minta berhenti dan pengin tahu ada apa dengan cafe itu.  Adalah Legend Cafe yang menempati bangunan berupa rumah penduduk di jalan Abu Bakar Ali.  Memang itu deretan rumah penduduk yang disulap menjadi area komersial berupa tempat hang-out anak-anak muda Jogya.  Kalau malam Jumat saja seperti ini ramainya, gimana kalau malam minggu ya?.


Terlihat dari samping
Terlihat dari depan


Halaman depan khususnya trotoar disamping diisi oleh kendaraan bermotor, di area teras ditempatkan tempat duduk dan dilengkapi dengan fasilitas layar lebar untuk nonton TV bareng.  Kata pelayan, khusus malam Jumat saja tidak ada live music.  Setiap hari ada acoustic music live yang menghadirkan band-band lokal.  Kalau malam minggu, tempat ini penuh oleh anak muda dan alamat kita bakal kesulitan untuk mendapatkan tempat duduk.  Semua ruangan di dalam rumah itu pun dijadikan tempat nongkrong.  Ternyata cukup luas juga area cafe ini, bahkan mereka menyediakan meeting room yang muat 50 orang.  Sepanjang 2 jam hang-out disini, pengunjung didominasi oleh para anak muda kuliahan.  Menu yang ditawarkan pun selera anak muda seperti pisang goreng, kopi, wedang uwoh, dan lain-lain dengan harga yang cocok untuk anak kuliah.


Buku menu Legend

Kopi Legend yang full coklat

Wedang uwoh

Manajemen Grand Zuri punya strategi jitu untuk mendapatkan sebanyak-banyak uang dari pengunjung.  Mereka tidak melewatkan peluang pendapatan dengan memanfaatkan lokasi hotel yang sangat strategis di kawasan Malioboro yang terkenal itu.  Halaman depan hotel diubah menjadi Barbeque Cafe dengan model all you can eat.  Cukup bayar 99 ribu rupiah per orang, tamu dapat makan sepuasnya menu yang disajikan.  Malam ini aku melihat ada sushi, salad sayur dan buah, puding, rawon, cap cay wortel, brokoli dan jagung muda, mie goreng, nasi putih, aneka sate.  Khusus untuk BBQ, tamu tinggal pilih ikan atau daging yang ingin di bakar.  Petugas dengan sigap akan melayani permintaan tamu,  Pada malam Sabtu atau weekend, ada live music yang membuat malam makin ceria.


Barbeque Cafe. persis di depan hotel Grand Zuri

Live music saat weekend


Ke Jogya terasa belum lengkap kalau belum menikmati lesehan ala masyarakat kota.  Dekat dengan hotel, beberapa kali setiap lewat tempat ini, aku melihat gerobak ini selalu dikerubuti oleh pengunjung, bahkan ada dari mereka yang bule alias turis asing.  Melihat fenomena seperti itu, rasanya sayang kalau dilewatkan.  Meskipun perut sudah kenyang, aku melangkahkan kaki menuju Angkringan Gareng Petruk.  Malam itu kulihat belum banyak orang disekitar gerobak, kupikir mungkin sedang sepi pengunjung.  Tapi ternyata aku salah.  Di belakang gerobak itu berderet orang duduk diatas terpal plastik yang digelar memanjang di depan emperan toko.  Memang, toko-toko itu tutup bila sudah sore.  Inilah bentuk kerjasama yang baik simbiosis mutualisme antara pemilik toko dengan pengusaha angkringan.  Pelajaran yang dapat kita ambil dalam hidup kita.


Angkringan Gareng Petruk-1

Angkringan Gareng Petruk-2

Angkringan Gareng Petruk-3


Benar kata orang, angkringan ini menjual makanan siap saji beraneka ragam, mulai dari nasi kucing karena porsinya yang sedikit seperti makanan kucing, sampai dengan aneka bentuk sate.  Nasi bungkusnya sendiri beraneka rasa, ada nasi teri, ada nasi pedas dan ada juga nasi bakar.  Sate-nya pun tidak kalah bervariasi.  Ada sate jeroan ayam, sate udang, usus ayam, keong/siput sawah, kerang, bakso urat, bakso goreng, telur dadar dan lain-lain.  Lauk lain pun juga tersedia seperti tahu isi, tahu bakar, ayam goreng dan sebagainya.  Demikian juga untuk minuman.  Kita bisa menikmati wedang jahe murni atau pake susu, atau mau minum wedang ronde atau sekali-kali boleh juga kita coba wedang tape panas. 


Menu-1


Pelayan yang berkostum tradisional Jawa


Ternyata tempat makan pengunjung tidak hanya berupa lesehan.  Bagi yang kesulitan duduk bersila atau di bawah, pengunjung boleh juga masuk ke ruangan yang menyediakan bangku dan meja duduk.  Sayangnya tempat ini selalu penuh.  Tapi ga apalah kita berlesehan ria, sensasinya lain lho. 


Menu-2

Menu-3
Berlesehan di emperan toko


Harga makanan di Gareng Petruk tergolong murah.  Nasi bungkus rata-rata dihargai Rp 3.500, sate berkisar Rp 2.000 s.d. 4000 per tusuk.  Wedang jahe berkisar Rp 8.500.  Makanya banyak sekali turis lokal dan manca negara datang untuk berselfi dan makan di angkringan ini.




Sabtu, 13 Agustus 2016

Dari Hungaria Berakhir di Polandia Berburu T-Shirt Hard Rock Cafe dan Melihat Kekejaman Nazi di Auswitch

Paling ga enak kalau mau jalan-jalan tapi ga punya banyak waktu.  Mana mungkin meng-eksplor suatu negara dalam waktu 1 atau 2 hari.  Sekecil-kecilnya sebuah negara, tetap mustahil bisa mengunjungi semua tempat wisata dan mengenal budayanya.  Itulah yang terjadi pada diriku yang harus muter otak cari jalan keluar agar bisa memaksimalkan waktu yang ada dan dapat mengunjungi sebanyak-banyaknya tempat wisata.  Ceritaku kali ini dimulai dari kota Budapest Hungaria.  Tujuannku ke Budapest sebenarnya hanya ingin menambah koleksi T-shirt Hard Rock Cafe (HRC).  Pikirku, kota sebesar Budapest pasti punya HRC karena negara tetangganya Polandia saja punya 2, satu di Warsawa, satu lagi di Krakow.  Makanya, setelah memasuki negara Hungaria di siang hari, aku bergegas menuju Chain Bridge, jembatan di tengah kota yang dibawahnya mengalir deras sungai Danube yang membelah dua wilayah, Buda dan Pest.  Lumayan sulit bisa berfoto ria di jembatan itu.  Traffic sangat padat siang itu.  Temanku bilang, lebih baik aku pergi ke Fisherman's Bastion, sebuah benteng tua yang dibangun pada tahun 1895.  Katanya dari puncak kastil di benteng itu kita dapat melihat seluruh kota Budapest termasuk jembatan terkenal itu.  Tanpa berfikir panjang, aku langsung ke Fisherman's Bastion.


Maksain foto di tempat yang kurang pas

Suasana kota dilihat dari benteng Fisherman's Bastion

Chain Bridge dari jauh
Chain Bridge dengan sungai Danube


Puas mengelilingi setiap sudut Fisherman's Bastion, kembali ke tujuan semula, aku mencari HRC.  Dengan percaya diri mengelilingi dua kota, Buda dan Pest, tapi masih ga ketemu juga.  Coba cek GPS, ga ditemukan lokasi HRC.  Rasa percaya diri mulai turun dan memutuskan menanyakan ke resepsionis hotel Novotel tempatku menginap, ternyata.....tidak ada HRC di Hungaria!  Melihat aku yang kecewa banget, sang teman membawaku ke sebuah restaurant yang katanya sangat terkenal di Budapest karena tidak hanya menyajikan makanan khas Hungaria, tetapi juga tari atau dansa ala Hungaria.  Nama restaurant itu susah disebut.  Aku sempat memotret pintu masuk restaurant, so baca sendiri namanya.


Kotak pos unik dekat hotel

Restaurant tempat dinner yang ngetop di kota
Hiburan 1

Hiburan 2

Hiburan 3

Hiburan 4

Hiburan 5

Hiburan 6

Hiburan 7

Hiburan 8


Pagi-pagi sekali aku menuju Polandia.  Perjalanan pertama ke Krakow.  Sudah barang tentu, di kota kecil ini cuman pengin datang ke HRC, hang-out sebentar, beli merchandise HRC lalu melanjutkan perjalanan.  Destinasi berikutnya Warsawa, ibukota Polandia.  Disini ada HRC yang lumayan besar dan ramai pengunjung. 


Bangunan dekat HRC yang menarik perhatianku

Jauh-jauh ke Polandia cuman pengin yang ini!

Tiba di Auswitch sekitar pukul 2 siang hari.  Aku harus bergegas memasuki gerbang Auswitch yang terkesan angker itu.  Disini, jutaan orang menjadi korban kekejaman Nazi.  Cerita horor tentang Nazi menarik perhatianku untuk datang ke Auswitch, pusat camp tentara perang yang paling sadis itu.  Didampingi oleh seorang guide, kita dibawa ke barak-barak yang menyimpan segala cerita sedih, memilukan dan menakutkan yang dialami oleh bangsa Yahudi.  Dulu, aku ga pernah percaya cerita ini karena semua kuanggap sebagai propaganda dan strategi marketing biar film-film Hollywood laris manis.  Kalau tentang Perang Dunia sih percaya.  Manusia saling bunuh, saling merusak yang penting tujuannya menang menaklukan kekuatan lawan.  Tapi cerita di balik tentang peperangan, kebanyakan di-improvisasi oleh para sutradara film.  Ada yang dibumbui dengan kisah romantis atau cerita-cerita konyol.  Tapi di Auswitch, aku benar-benar melihat sejarah itu!


Barak-barak saksi bisu kekejaman Nazi

Setiap barak menceritakan kisah yang berbeda.  Pertama-tama aku dibawa oleh sang guide ke cerita awal bagaimana orang-orang Yahudi dari penjuru Eropa untuk datang ke Auswitch.  Mereka dijanjikan untuk hidup di tanah impian, berduyun-duyun dan digiring Nazi memasuki gerbong kereta api yang mengantarkan mereka ke 'tanah impian'.  Foto-foto perjalanan kaum Yahudi mulai dari keluar rumah, pakaian-pakaian mereka, barang-barang yang dibawa dan gerbong kereta api terlihat jelas.  Sayangnya, setiap memasuki barak selalu tertera di dinding tanda kamera disilang yang artinya kita tidak boleh memotret di dalam barak.  Tak apalah, yang penting kita bisa melihat langsung dan di Auswitch serasa kita dibawa kembali ke masa-masa kelam bangsa Yahudi.  Barang-barang peninggalan warga Yahudi diletakan di sebuah kamar yang bagian depannya ditutup rapat oleh dinding kaca.  Kata guide, ini sterilisasi untuk melindungi kita dari bahaya bakteri atau kuman yang melekat di barang-barang tersebut.  Maklum, umurnya sudah puluhan tahun dan tidak ada yang berani menjamin kebersihannya.  Ada potongan rambut-rambut yang konon dulunya diambil paksa dari warga Yahudi, lalu dikumpulkan untuk dijadikan baju.  Ini cara mudah Nazi daripada harus mengambil bahan kain dari bulu domba atau kapas.  Boro-boro mikirin ternak domba atau nanam pohon randu, jaman perang yang dipikirin bagaimana tetap hidup dan lolos dari tembakan peluru musuh.  

Di dalam barak juga kita dapat melihat tumpukan kopor-kopor kulit, sisir dan pomade, baju-baju, dan semua perkakas yang dibawa oleh warga Yahudi.  Khusus di barak 11 yang dikenal dengan barak kematian, kita bisa melihat alat-alat penyiksa tahanan, penjara super sempit dan lapangan penembakan eksekusi tahanan.  Siapapun yang masuk ke barak 11, alamat hanya meninggalkan nama.  Tidak hanya itu, disini juga kita bisa mengunjungi kamar gas atau uap beracun untuk membunuh dengan cepat warga Yahudi dalam jumlah besar.


Pagar dengan pos pengawas

Salah satu barak yang digunakan sebagai kantor

Barak Kematian

Semua pagar berlistrik mematikan

Kamar uap beracun

Di akhir perjalanan, guide menunjukkan tempat panglima Nazi yang berkuasa di camp digantung setelah kekalahan Nazi oleh tentara sekutu.  Sayangnya suasana sudah gelap dan aku tidak membawa flash kamera, sehingga tidak dapat mengabadikan tempat itu.  Itulah dukanya kalau mengadakan perjalanan di musim dingin.  Jam 4 sore sudah kayak jam 10 malam, gelap!!!