Senin, 30 Juli 2018

Menengok Pesona Lombok (Bagian 1)

Ini catatan perjalananku di Lombok sebelum musibah gempa bumi 6,4 scala Richter tanggal 29 Juli 2018 pukul 05.47 sampai dengan 09.20 yang menewaskan 15 jiwa. Turut bela sungkawa kepada seluruh korban bencana dan berdoa semoga masyarakat Lombok diberi kekuatan dan ketabahan, serta Pemerintah Lombok dapat bertindak dengan sigap menolong warganya dan bangkit kembali membangun daerahnya.  Aamiin...........


I love Lombok


28 tahun yang lalu aku pernah menghabiskan waktu liburan sekolah di kota ini.  Lombok dibenakku adalah pulau yang belum begitu populer di mata orang Indonesia, namun ironisnya sudah lebih dikenal oleh wisatawan mancanegara.  Bagi turis nusantara, Lombok lebih cenderung sebagai destinasi alternatif setelah Bali.  Fokus perhatian mereka tidak bisa beranjak dari pulau dewata.  Bisa dikatakan propinsi dengan ibukota bernama Mataram ini masih dilihat sebelah mata oleh bangsa sendiri. Aku masih ingat, saat itu Lombok hanya punya 1 bandara yang berukuran kecil dan hanya diterbangi oleh pesawat berbadan kecil.  Selaparang nama bandara itu.  Sedangkan kota Mataram pun juga masih sepi di malam hari.  Sebagian besar aktifitas warga banyak dilakukan di pagi sampai sore hari.  Tempat keramaian di kota hanya ada di restaurant cepat saji KFC yang menempati gedung 2 lantai dan menjadi yang pertama kali serta satu-satunya perusahaan komersial yang mengoperasikan eskalator.  Makanya KFC tidak pernah sepi pengunjung dan menjadi tempat favorit warga setempat.  Disamping menarik perhatian penduduk lokal, aku sering kesini karena sekalian mendapat hiburan gratis berupa tingkah polah warga yang terlihat 'kaget' dengan tangga berjalan modern itu.  Sebagian bertanya-tanya dan ingin tahu bagaimana naik ke lantai 2 pakai eskalator.  Ada yang main lompat aja karena takut kakinya kejepit tangga eskalator, ada yang maju mundur ragu tidak berani naik, ada juga yang teriak dan tidak sedikit yang jatuh terjengkang ke belakang.  Lucu!


I love Lombok International Airport

Bandara Internasional Lombok, tampak dari airside


Kini Lombok sudah banyak perubahan.  Pulau ini sekarang punya bandara yang berdiri megah di kota Praya Lombok Tengah sebagai pintu gerbang utama propinsi Nusa Tenggara Barat, menggantikan bandara Selaparang di kota Mataram.  Meskipun tidak sebesar Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, tapi fasilitas dan pelayanan yang diberikan lebih baik dari bandara sebelumnya.  Bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura I ini berusaha mempromosikan beberapa obyek wisata yang ada di Nusa Tenggara Barat.


2 conveyor belt untuk pengambilan bagasi domestik

Promosi wisata Lombok

Promosi wisata Sumbawa Barat

Menuju area parkir kendaraan


Perjalananku kali ini diawali dengan berkunjung ke gua Prabu Bangkang yang kabarnya adalah wisata baru yang lagi nge-hits.  Lokasinya di desa Prabu kecamatan Pujut, Lombok Tengah.  Tidak jauh dari Bandara Internasional Lombok.  Sudah banyak turis asing yang datang kesini dan mendapatkan foto-foto yang indah selama berada di dalam gua.  Karena masih baru, tempat wisata ini minim sekali fasilitas.  Tidak ada toilet, tidak ada petunjuk yang jelas, bahkan tidak ada guide profesional yang stand by disana.  Aku saja hanya mendapat penjelasan dari seorang ibu yang katanya tinggal di sekitar gua tersebut dan tahu sejarah gua ini.  Meskipun harus bayar Rp 25.000 per orang untuk sekali masuk, sang ibu menjelaskan bahwa uang itu hanya sebagai donasi, bantuan biaya perawatan fasilitas wisata ini.  Menurut cerita sang ibu, gua Prabu Bangkang dulunya ada gua seorang raksasa yang sakti mandraguna.  Saking saktinya si raksasa, maka tidak ada seorang pun yang berani mendekati gua itu.  


Bagian depan menuju gua

Bagian depan gua

Bau guano sudah tercium dari bibir gua


Spot menarik ada di bagian tengah gua yang persis punya lobang ke atas.  Sinar matahari akan tepat menyinari bagian lobang itu sehingga terlihat seperti sinar Illahi atau kalau kita foto di tengah lobang itu seperti seorang hamba yang mendapat pancaran keberkahan dari Tuhan.


Dinding luar gua

Bagian dalam

Tempat sembahyang di dalam gua


Tapi untuk menuju tempat foto itu, kita harus tahan dengan bau kotoran kelelawar yang sangat menyengat hidung kita.  Tumpukan guano ada di seluruh dasar dan dinding gua bagian dalam.  Kondisinya lumayan gelap dan pengap, sehingga dengan segala pertimbangan, kuputuskan untuk tidak pergi ke spot itu.


Bagian favorit untuk berfoto tapi gelap, pengab dan bau

Siluet dilihat dari dalam gua


Masih satu arah dengan Gua Prabu Bangkang, perjalananku berlanjut ke Tanjung Aan.  Tempat ini adalah wisata pantai yang menjadi lokasi yang tepat melihat matahari tenggelam.  Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa turis asing suka berjemur di sore hari sambil menikmati sunset.  Disamping itu, pantai ini punya keunikan karena memiliki 2 macam pasir.  Ada yang sehalus pasir putih seperti di pantai-pantai lain di Indonesia, tapi ada juga yang berbentuk seperti biji merica.  Kalau tidak percaya, datang saja kesini.  Mau bawa pulang itu pasir pun bisa.  Bahkan beberapa anak kecil akan menyerbu kita menawarkan jasa termasuk menawarkan pasir unik itu yang dikemas di dalam botol air mineral.  Harganya Rp 5.000 per botol.  Jasa lain yang ditawarkan oleh anak-anak pantai ini yaitu pemotretan.  Untuk yang satu ini jangan ditolak karena bakal nyesal jadinya.  Kenapa?  Ternyata anak-anak ini punya kemampuan yang luar biasa dalam mengoperasikan gadget untuk mendapatkan foto-foto yang bagus.  Mereka tidak pernah mematok harga jasa, tapi dengan upah Rp 10.000 saja mereka sudah senang.  Hasil-hasil fotonya menimbulkan decak kagum kita.


Jalan menuju Tanjung Aan

Pasir pantai yang putih dan bersih


Fenomena pengelolaan pantai sepertinya mengenai Tanjung Aan juga.  Kulihat beberapa pengusaha cafe mem-blok area pantai sehingga terkesan eksklusif hanya pengunjung cafe itu saja yang boleh masuk.  Apalagi guide yang membawaku pun mengarahkan ke tempat yang lebih terbuka dan tidak ada nama cafe disana.  Sebagai seorang traveler dan warga negara yang punya hak menikmati kekayaan alam Indonesia, rasa-rasanya perlu khawatir kalau fenomena ini mengarah kepada sesuatu yang negatif, merugikan warga setempat atau wisatawan lainnya.  Pantai, apalagi laut seharusnya tidak menjadi aset hak milik seseorang.  Setiap warga negara Indonesia mempunyai hak yang sama dalam menikmati kekayaan alam negerinya.  Di Bali dulunya orang tidak boleh sembarangan lewat ke pantai dimana disitu berdiri sebuah hotel.  Security hotel tidak akan segan-segan lagi mengusir kita untuk pergi dari pantai itu seolah-olah pantai sampai ke laut yang ada di depannya itu milik pengusaha hotel itu.  Apalagi kalau yang lewat itu wajah-wajah Asia seperti kita?  Ironisnya, para bule cenderung dibiarkan keluar masuk hotel menikmati fasilitas hotel seperti kolam renang atau pantai, padahal tidak semua bule-bule itu berduit.  Banyak juga yang bule kere, tapi itulah kisah sedih yang terjadi di Bali dulu.  


Bagian pantai yang berpadu, pasir dan karang

Spot berfoto


Aku terlalu dini sampai di Tanjung Aan ini, maksudnya tidak saat matahari tenggelam.  Jam saat itu masih menunjukkan pukul 13.30 siang. Matahari memang sudah mulai condong ke bawah, tetapi sinarnya masih berasa seperti ada di atas kepala kita.  Untungnya, angin semilir berhembus sedikit mengatasi panasnya udara saat itu.  Tempat favorit wisata ini berada di puncak sebuah batu karang yang bertengger di bibir pantai selaksa bukit kecil.  Para wisatawan menyempatkan diri untuk menaiki bukit itu dan mengambil gambar dari atas.  Tapi menurutku justru pemandangan dari arah bawah yang lebih indah karena kita bisa berfoto diatas lempengan batu karang dan merasakan percikan ombak.  Perpaduan biru langit dengan deburan biru ombak membentuk harmonisasi keindahan di Tanjung Aan.


Pemandangan alam yang indah

Bukit kecil di bibir pantai


Berikutnya aku mampir sebentar ke Bukit Merese yang lumayan kerap dikunjungi wisatawan.  Sepintas tidak ada yang special dengan tempat ini.  Hanya sebuah bukit tinggi dan lembah di bawah yang langsung berhadapan dengan laut lepas.  Bukit-bukit itu pun bisa dikatakan gersang, tidak banyak ditumbuhi tanaman.  Rumput-rumput kecil di permukaan bukit terlihat menguning dan meranggas diganti dengan batu-batu bukit.  Tapi anehnya, tempat ini sering menjadi spot foto yang bagus oleh mereka yang pandai mempermainkan kamera.  Sekali lagi, disini tersedia 'jasa pemotretan' oleh anak-anak lokal.  Cukup dengan imbalan Rp 10.000, mereka dengan antusias akan mengarahkan berbagai macam gaya kepada kita.  Keahlian mereka menggunakan kamera handphone sering menghasilkan foto-foto yang unik dan menarik.


Mulai pendakian

Pantai di seberang Bukit Merese

Pantai di bawah Bukit Merese

Dominasi turis lokal

Bukit kering, panas dan angin kencang

Seperti dapat cahaya illahi (karya anak pantai)


Dari Bukit Merese, aku menyempatkan diri mampir ke desa wisata Sasak Ende karena tempat ini menjadi wajib kita kunjungi bila kita ingin mengenal lebih jauh tentang Lombok.  Sasak adalah suku asli pulau Lombok.  Di desa inilah Pemerintah Daerah membuka diri dan memberi kesempatan bagi siapa pun yang ingin tahu orang Sasak, seperti bagaimana mereka membangun rumah, bagaimana mereka bercocok tanam, menenun dan membuat pakaian, sampai ke bagaimana adat dan tradisi dalam keluarga Sasak.


Billboard lokasi

Gerbang masuk

Perkampungan Sasak Ende-1

Perkampungan Sasak Ende-2

Perkampungan Sasak Ende-3

Perkampungan Sasak Ende-4


Dulu mereka menutup diri dengan dunia luar, namun sekarang, dengan perkembangan jumlah populasi penduduk, berkembangnya perumahan, teknologi dan perekonomian Lombok, rasanya sulit bagi mereka bila harus menutup diri atau menjauhi dunia luar.  Dengan kearifan lokal, Pemda setempat melakukan pendekatan dan berhasil menyakinkan mereka untuk membuka diri dan mau berinteraksi dengan orang lain, sehingga di kehidupan mereka kini sudah bersentuhan dengan teknologi modern.


Guide dan penduduk setempat

Penenun kain tradisional

Kain tenun yang siap dijual

Memilah buah asam kering

Lihat antena parabola sebelah kanan

Anak-anak Sasak Ende


Lombok selalu dibandingkan dengan Bali.  Bisa jadi karena lokasi kedua pulau ini berdekatan dan bisa jadi karena sama-sama mengedepankan wisata alam sebagai andalan.  Kedua pulau ini memang dikarunia keindahan alam yang luar biasa oleh Sang Pencipta.  Pantai, bukit, gunung, hutan, sungai semua mereka punya.  Bagi Lombok, wisata pantai masih menjadi daya tarik ampuh memikat hati para wisatawan.  Salah satu wisata pantai itu adalah gugusan pulau kecil atau gili yang sangat terkenal itu.  Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan.  Ketiga gili ini mempunyai ukuran yang berbeda dan masing-masing punya kelebihan tersendiri.  Hal yang sama diantara mereka adalah sama-sama punya pasir putih yang bagus, air laut yang bersih berwarna hijau kebiru-biruan dan alam bawah laut yang indah.  Namun dari ketiga gili ini, Gili Trawangan-lah yang paling terkenal.


Perahu yang siap membawaku ke wisata Gili

Kapasitas sampai 12 orang

Ombak cenderung tinggi di sore hari


Mungkin saja karena areanya yang paling luas atau karena tempat hiburannya yang paling banyak, sehingga Gili Trawangan selalu menjadi destinasi utama orang ke Lombok.  Sewaktu pulau ini dibuka untuk umum, Gili Trawangan sempat menjadi nudist beach terutama bagi turis asing.  Mereka tidak ragu untuk telanjang berjemur atau berenang di pantai.  Bisa jadi karena saat itu penduduk sangat sedikit dan wisatawan lokal belum mengenal gili.  Tapi sekarang, bisa dikatakan pemandangan itu tidak ada lagi.  Tidak ada yang benar-benar telanjang, mereka menggunakan pakaian pantai semua.  Disamping aturan main yang diberlakukan oleh Pemda setempat, mereka juga tidak ingin menjadi pusat perhatian wisatawan lokal.


Turis asing menikmati keindahan laut Lombok

Gradasi warna yang indah

Saat yang tepat untuk bersantai di pantai


Banyak sekali aktivitas yang dapat kita lakukan di Gili Trawangan.  Bagi penggemar alam bawah laut, mereka bisa melakukan snorkling atau diving sekalian.  Diantara Gili Meno dan Gili Trawangan, terdapat tempat snorkling yang bagus dan selalu ramai pengunjung karena disini ditempatkan puluhan patung di dasar laut.  Dengan air yang jernih dan cuaca yang mendukung, dapat dipastikan para snorkler tidak akan mengalami kesulitan menemukan patung-patung tersebut.  Namun, perlu diwaspadai, air laut yang terlihat tenang dari atas, bukan berarti tenang juga di bawah.  Arus air di bawah laut terkadang cukup kuat sehingga membuat snorkler tidak menyadari sudah terseret arus.  Ini yang paling ditakuti oleh pemandu wisata, jangan sampai kehilangan tamunya gara-gara hilang di bawa gelombang.


Para snorklers beraksi

Alam bawah laut yang indah

Taman patung bawah laut

Menjadi tempat snorkling favorit


Bagi yang tidak senang berbasah-basahan dengan air laut, mereka bisa jogging atau bersepeda.  Kita tidak perlu bawa sepeda sendiri dari rumah, cukup pinjam di tempat penyewaan sepeda yang hampir ada di sepanjang pantai.  Tarifnya bervariasi.  Ada yang menawarkan Rp 25.000 untuk per jam pemakaian atau Rp 50.000 untuk seharian.  Maksudnya seharian itu bukan 24 jam, melainkan mulai jam buka penyewaan yaitu jam 8 pagi sampai jam tutup 6 sore.  Tapi sebenarnya semua bisa dinegosiasikan.


Romantis

Jalan pasir dan tanah


Jadi banyak sekali aktifitas yang dapat kita lakukan di Gili Trawangan.  Bagi yang beragama islam, jangan khawatir, di gili ini tersedia masjid berukuran besar untuk beribadah warga atau tamu yang datang. Makanan halal pun sangat mudah di dapat disini.  Gili Trawangan menerima semua umat, tidak pernah mempermasalahkan latar belakang agama, etnis atau budaya.  Semua berbaur disini.  Di Gili Trawangan anda akan melihat yang berjilbab dan yang berbikini.  Masih ingin tahu berikutnya? simak aja bagian keduanya.





Minggu, 01 Juli 2018

2 Obyek Wisata Yang Belum Siap Untuk Diungkap (Edisi Solo 2018)

Bisa jadi aku terlalu peduli dengan Solo sehingga perhatianku begitu detail dengan kota yang satu ini, apalagi menyangkut obyek-obyek wisata yang ada disini.  Pengalaman kali ini merupakan anti klimaks dari perjalananku yang benar-benar tidak ingin terulang lagi.  Tidak ada unsur benci, dongkol, atau marah atas pengalaman ini, tapi setidaknya ini menjadi pelajaran bagi diriku pribadi untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi dengan obyek wisata yang baru diluncurkan, salah duanya yang akan aku sampaikan secara singkat di bawah ini.

1. The Heritage Palace
Obyek wisata ini baru diluncurkan sebulan yang lalu oleh pengusaha swasta yang ingin memberikan warna baru bagi pengunjung di Solo.  Sepertinya sengaja dibuka di peak season Lebaran karena Solo sampai sekarang masih menjadi destinasi 'mudik' dan jalan-jalan warga Indonesia.  Kontras banget dengan Jakarta yang menjadi sangat sepi di Idul Fitri.  Penerbangan, kereta api, bus sudah di-booking jauh-jauh hari oleh warga Solo yang bermukim atau sekadar mencari penghasilan di ibukota.  Ditambah lagi yang nekat atau 'suka' mudik dengan mobil sendiri dan para penduduk non muslim ibukota pun ikut-ikutan memanfaatkan libur panjang untuk bersenang-senang ke Solo, meskipun sebenarnya bukan itu alasannya.  Faktor penyebab utama sebenarnya karena si asisten rumah tangga alias pembantu sudah pada mudik semua, jadinya tidak ada yang bersih-bersih rumah.  Penyebab yang lain, Jakarta sangat sepi dan belum bisa menjadi tempat yang énak' untuk berlibur lebaran.  Suasana Idul Fitri tidak bisa didapat di Jakarta, kecuali kalau kita memang tidak merayakannya atau memang hidup sebatang kara, atau memang kita lebih suka suasana yang sepi.  Akibatnya, Solo menjadi sangat sibuk menyambut kehadiran 'warga baru' dari luar kota.  Kendaraan berplat B hilir mudik di jalan-jalan kota Solo.  Aku hanya bisa tersenyum melihat pemandangan ini.  Masa' dari kota macet ketemu macet lagi??


The Heritage Palace, tempat hiburan baru di Solo

Gedung tua dan mobil kuno sebagai daya tarik THP


Keramaian kota Solo oleh penduduk asli dan pendatang dimanfaatkan pengelola The Heritage Palace (THP) untuk me-launching produknya.  Wajar saja menurutku, karena bagi seorang pengusaha, moment ini tidak boleh disia-siakan.  Ini saat yang tepat untuk memanfaatkan 'pasar' yang ada.  Tapi apakah kita siap atau tidak menerima respon dari pasar?  Apakah kita siap menerima dan melayani pengunjung yang datang berduyun-duyun?  Apakah kita siap memberikan perhatian dan kepuasan bagi semua pengunjung?  Itu yang menurutku perlu disiapkan dengan matang oleh THP dan sepertinya mereka belum siap betul menyambut tamunya.


Tempat parkir yang lumayan luas

Seharusnya tenda-tenda tidak menutupi keindahan gedung tua


Dengan membayar Rp 50.000 untuk tiket masuk yang harus kita beli di loket yang dibangun ála kadarnya', kita boleh menikmati fasilitas yang ditawarkan THP.  Pintu masuk menjadi satu dengan pintu keluar.  Petugas di depan hanya menanyakan tiket kita, lalu memberikan stempel kecil bertinta di tangan kita sebagai tanda kita telah bayar.  Tiket masuk dapat kita tukar dengan segelas minuman ringan kemasan plastik di dalam gedung 3D.  Oiya, THP juga menyediakan arena 3D selain mobil-mobil kuno yang di pajang di area terbuka.


Tiket yang bisa ditukar dengan minuman plus bonus stiker

Resto di dekat pintu masuk, debu lantai harus diantisipasi

Pemandangan tidak sedap yang harus segera diatasi oleh Pengelola


Aku acungin jempol untuk pemilihan lokasi dan gedung tuanya.  Konsep heritage yang vintage menjadi nyambung.  Tapi jumlah mobil yang dipajang serta area untuk mempertontonkan mobil-mobil jadul sangat terbatas, bahkan sangat sempit menurutku.  Apalagi THP berani mengusung promosi sebagai Museum Angkut, ekspektasiku langsung teringat Museum Angkut yang ada di Malang.  Kalau boleh jujur, jauh sekali perbandingannya, baik dari sisi jumlah koleksi maupun luasannya.  Meskipun yang di Malang tidak punya bangunan outdoor yang seindah THP, tapi desain interiornya lebih unggul dan boleh diacungin jempol. 


(hanya ini) area terbuka tempat pajangan mobil kuno

Petugas berkaos merah yang siap membantu pengunjung berfoto


Aku juga menghargai upaya pengelola THP untuk mempekerjakan tenaga-tenaga muda yang stand by membantu pengunjung dalam mengabadikan atau berfoto di area pameran.  Mereka menggunakan seragam casual kaos merah dan cukup ramah melayani pengunjung, namun dengan jumlah koleksi terbatas dan area yang tidak luas, serta pengunjung yang berjubel itu apakah kita bisa dengan leluasa dapat berfoto dengan nyaman?  Pengunjung cenderung sulit diajak kompromi untuk bergantian.  Mereka merasa punya hak untuk menikmati fasilitas disini karena mereka sudah bayar.  Pekerja THP pun merasa tidak enak hati kalau harus 'menghalau' mereka saat membantu pengunjung lain yang minta difoto.  Kebayang kan harus ngantri berdiri di tempat terbuka yang panas?  Apalagi suhu di Solo sangat panas akhir-akhir ini, aku dan bisa jadi pengunjung lainnya benar-benar kurang nyaman berlama-lama disini. 


Museum 3D penambah variasi hiburan

Antusias pengunjung sehingga ruangan terasa sesak dan panas


Hal lain yang perlu menjadi perhatian yaitu museum 3D.  Meskipun menempati area yang luas dan menawarkan berbagai macam ilustrasi, tapi aku kurang sreg dengan material yang dipakai.  Sebaiknya mereka menggunakan lukisan atau gambar tempel yang tidak glossy karena yang dipakai di THP ini hasil fotonya malah kurang hidup dan memantulkan sinar.  Siapa pun pasti menginginkan punya foto yang seakan-akan menyatu dengan latar belakang gambar yang ada, makanya pemilihan material, tata cahaya ruangan dan penempelan atau seni lukis background itu menjadi prioritas.


Spot favorit, arena World Cup 2018

Cukup bervariasi

Material gambar perlu diperhatikan



2. Agrowisata Jawa Unik
Tempat wisata ini lebih parah dari THP.  Mulai dari pintu depan sampai dengan wahana ataupun spot-spot di dalamnya, benar-benar belum siap menerima pengunjung.  Mungkin tidak perlu diulas secara detail kekecewaanku setelah berkunjung disini, tapi minimal memberikan gambaran yang riil dan jujur tentang tempat ini.  At least bisa menjadi pelajaran bagiku agar tidak terlalu berharap dengan obyek wisata baru dan pelajaran juga buat pengelola tempat wisata agar tidak terburu-buru meluncurkan produk dengan persiapan yang minim.


Brosur promosi


Agrowisata Jawa Unik (AJU) ini baru diluncurkan di tanggal 17 Juni 2018, tepatnya di musim liburan Lebaran 2018.  Awalnya aku super antusias saat mengetahui ada obyek wisata baru di Solo.  Maklum, selama ini aku belum pernah punya pengalaman buruk jalan-jalan ke Solo, bahkan kota ini menjadi tempat favoritku dengan berbagai alasan.  Intinya, aku ingin lebih dalam mengetahui kelebihan ataupun potensi kota ini, sama seperti saat aku memutuskan untuk berangkat ke AJU.  Yang ada dibenakku saat itu adalah tempat yang berada di dataran tinggi dengan tanah yang subur dan ditumbuhi pohon-pohon rindang serta mempunyai desain landscape yang fenomenal, sehingga punya nilai komersial yang layak untuk menjadi obyek wisata.  Terbayang di pikiranku, aku bisa berjalan di kebun-kebun buah dan bunga, menapaki pematang sawah, memanen beberapa buah yang sudah ranum di pohon, atau melihat cipratan air dari ikan-ikan di kolam.  Tapi, apa yang kubayangkan tidak sama seperti kenyataan.


Pintu depan tempat pembelian tiket masuk

Tiket masuk dengan harga tertulis, bukan tercetak

Patung buah naga, buah aslinya belum ada

Patung buah lagi


Dengan ongkos masuk Rp 50.000 per orang yang menurutku terlalu mahal untuk ukuran Solo, pengunjung harus kecewa dengan fasilitas yang ada di AJU.  Akses jalan menuju lokasi memang sudah baik, tapi jalan yang mendekati lokasi terasa sempit untuk lalu lalang mobil dan belum diaspal.  Tempat parkirnya cukup luas untuk kendaraan roda empat dan roda dua, tapi petugas parkir terlihat bekerja asal-asalan, tidak menggunakan seragam, kurang cekatan membantu pengunjung memarkirkan atau mengeluarkan kendaraan dan sepertinya hanya peduli dengan uang parkir saja.  Bayangkan suasana hati pengunjung siang itu yang sudah kepanasan bertemu dengan tukang parkir yang begitu?  Jelas saja, kesan pertama sudah tidak baik sebelum memasuki lokasi.


Bagian depan luar yang masih banyak perbaikan

Bagian depan dalam setelah pintu masuk

Pajangan di dekat pintu masuk

Bangunan 2 lantai terlihat dari halaman depan

Pengunjung cukup menikmati patungnya dulu


Di AJU terdapat bangunan 2 lantai yang berisi desain-desain interior dalam rumah.  Pengunjung bisa melihat berbagai macam pahatan daun pintu, jendela, atau partisi ruangan yang semuanya terbuat dari kayu.  Sayangnya, penjelasan atau pun cerita singkat dari masing-masing produk itu sangat kurang, sehingga pengunjung dipaksa memahami sendiri pajangan yang dilihat.  Belum lagi pengaturan suhu di setiap ruang pameran yang kurang diperhatikan, sehingga pengunjung merasa kegerahan.  


Mebelair kayu di lantai bawah

Coba kalau ada sejarah atau cerita singkat tentang meja ini?

Furniture kayu ukir di sepanjang lorong

(kembali lagi) miskin informasi, pengunjung tidak mendapat pengetahuan


Boleh-boleh saja pihak pengelola memberlakukan larangan bagi pengunjung untuk membawa makanan atau minuman dari luar, tapi bagaimana kalau pihak pengelola tidak memberikan banyak pilihan makanan dan minuman yang dijual di dalam?  Saat aku berada di dalam, kulihat ada beberapa tempat untuk makan atau minum di pinggir kolam, tetapi disitu tidak ada petugas ataupun informasi menu makanan, sehingga pengunjung mengira itu sekadar tempat untuk duduk-duduk santai.  Ada juga beberapa orang berseragam kaos hijau yang kutanya tentang hal ini dan mereka menjawab bahwa pengunjung boleh menempati tempat itu tapi harus pesan makanan yang ada di restaurant dekat situ.  Aku pun langsung menuju restaurant.  Sontak saja aku ilfil setelah melihat menu makanan yang kurang menarik dan harganya yang menurutku terlalu mahal untuk ukuran Solo yang terkenal super murah bila dibanding Jakarta. 


Resto pinggir kolam

Masih sepi atau kurang promosi?

Rumah tradisional berukuran besar

Yang ini berukuran kecil


Memang aku tidak mengeksploitasi keadaan dengan menampilkan gambar-gambar buruk dari kedua obyek wisata itu dengan maksud agar kita tidak fokus pada hal-hal yang tidak baik yang hanya akan mengingatkanku atas pengalaman buruk ini. Juga aku harus tetap yakin serta memberi kesempatan kepada pengelola untuk setiap hari berusaha memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumennya.  Tapi catatan pribadiku ini harus bisa jujur menuturkan kondisi yang sebenarnya yang aku lihat dan aku rasakan.  Minimal adalah bukti dari penglihatanku tanpa bermaksud untuk menjelek-jelekan tempat wisata itu.  Kalau orang bijak bilang, berikan informasi yang berimbang, sampaikan dengan jujur, dan selanjutnya biarkan pembaca yang menilai.


Kolam ikan sekaligus pasar apung

Masih sepi pengunjung

Spot menarik untuk foto

Colorful dan eye catching


Semoga informasi ini bermanfaat sebagai masukan buat kedua pengelola wisata THP dan AJU serta pengelola wisata lainnya, dan juga untuk pemerhati sekaligus penikmat obyek wisata dalam merencanakan tempat wisata yang akan dikunjungi.  Aku berharap saat artikel ini dibaca publik, kondisi THP dan AJU menjadi lebih baik.  Jangan berhenti berkarya dan memberikan yang terbaik bagi negeri ini.  Maju terus pariwisata Indonesia.