Senin, 28 Januari 2019

Taman-Taman Di Puncak Bogor

Mungkin sudah puluhan kali atau bahkan sudah memasuki angka seratus, aku menginjakkan kaki ke daerah Puncak di Bogor Jawa Barat.  Bisa jadi karena Puncak masih menjadi destinasi bagi warga Jakarta yang ingin melepaskan kepenatan kerja dan tidak punya waktu banyak untuk istirahat.  Puncak yang secara jarak memang tidak lah jauh dari Jakarta, walau secara waktu tempuh, bisa jadi lebih lama penerbangan dari Jakarta ke Surabaya.  Karena sudah bukan rahasia umum lagi, kedua kota ini sama-sama terkenal macet.  Jalan tol Jagorawi yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor terkadang tidak bisa diandalkan dan belum bisa benar-benar berfungsi sebagai jalan tol yang bebas hambatan.  Belum seperti yang ada di Eropa atau Amerika, tol di Jakarta cenderung hanya sebagai 'jalan baru' bagi kendaraan warga ibukota yang jumlahnya semakin banyak atau pertumbuhannya lebih cepat daripada pertumbuhan panjangnya jalan raya, sehingga tidak mengherankan kalau Pemerintah menerapkan berbagai macam cara untuk mengerem laju pertumbuhan pergerakan kendaraan di jalan raya seperti ketentuan 3 in 1, nomor plat genap-ganjil, bahkan khusus untuk daerah Puncak diberlakukan jam buka-tutup bagi kendaraan yang akan naik ke Puncak dan yang mau turun dari Puncak. Memang sih belum menunjukkan hasil yang signifikan, karena seperti yang aku bilang tadi, pertumbuhan jumlah kendaraan lebih tinggi dari jalan raya!


Banyak cara untuk menuju Puncak.  Mau pakai kendaraan umum atau pribadi bisa.  Atau mau pakai sepeda motor, bus, kereta api atau mini bus juga bisa, hanya kalau yang naik kereta api belum bisa langsung ke Puncak karena jalur rel-nya belum ada dan mungkin tidak pernah ada karena biaya infrastruktur-nya akan memberatkan anggaran Pemerintah, apalagi medannya lumayan berat.  Tapi kita mungkin agak terhibur dengan akan dioperasikannya LRT dari Jakarta ke Bogor, meskipun stasiunnya berakhir di Bogor dan harus melanjutkan perjalanan ke Puncak, tapi setidaknya transportasi ini mempercepat jarak tempuh dari Jakarta ke Bogor.


1.  Taman Safari Indonesia
Sekarang kita bicara tentang tempat-tempat wisata yang ada di Puncak yang layak untuk menjadi pilihan anda.  Kalau bicara tentang 'Taman' di Puncak, pasti semua orang langsung menjawab Taman Safari karena cukup beralasan dan wajar, keberadaan taman ini sudah sangat lama dan yang pertama kali ada di Indonesia.  Bisa jadi hampir semua warga Jakarta pernah ke taman yang satu ini.  Disamping terkenal mempunyai koleksi binatang yang banyak dari bumi nusantara dan manca negara, disini kita bakal disuguhi pertunjukkan lucu tingkah pola para binatang yang sengaja di kurung di dalam kandang atau yang dibiarkan lepas bebas berinteraksi dengan pengunjung.


Mereka berani mendekati pengunjung

Mungkin sudah terbiasa berinteraksi dengan pengunjung

Termasuk 'berciuman' seperti ini

Atau berani coba yang ini?

Dia cuman mangap di tempat doang

Ayo lempar makanan ke mulutku


Oleh karena kita bisa berinteraksi dengan binatang-binatang itulah, kita jadi punya kesempatan untuk memberi makan, berfoto bersama atau melihat dengan jelas bentuk, warna kulit atau bulu, dan gerak-gerik mereka.  Pengunjung disarankan membeli wortel atau sayuran segar yang dijual di sepanjang jalan menuju pintu gerbang Taman Safari.  Beli sebanyak-banyaknya karena hampir setiap tempat kita berkesempatan dekat dengan binatang-binatang itu.


Jerapah

Beruang

Gajah 

Memasuki area tertentu

Binatang buas pun hanya melihat mobil kita lewat

Yang ini hanya memantau dari ketinggian


Semua pengunjung tidak ingin melewatkan kesempatan baik berfoto dengan binatang.  Tidak sedikit yang berani menyodorkan muka untuk dapat lebih dekat secara fisik dengan mereka.  Namun untuk area tertentu di tempat binatang-binatang buas seperti harimau, singa atau hewan-hewan yang perlu diwaspadai seperti kuda nil atau gajah, sebaiknya kita berhati-hati, tidak membuka kaca jendela bila tidak perlu atau mengambil jarak dengan mereka.  Kuda nil bisa saja marah dan menyeruduk mobil kita, sedangkan gajah terkadang iseng dengan menyemburkan air atau ingusnya ke kita.  


Badak

Rusa

Antelop

Beruang madu

Gemsbok

Alpaka



2. Taman Wisata Matahari
Bisa jadi karena dulu masyarakat kita sangat haus dengan hiburan, makanya kalau sekadar berkunjung ke Taman Safari sepertinya belum cukup, apalagi kalau kita membawa anak-anak balita atau remaja tanggung usia 10 sampai 15 tahun.  Peluang ini yang ditangkap oleh pemilik bisnis Matahari Group untuk mendirikan Taman Wisata Matahari (TWM) di puncak.  Lokasinya tidak jauh dari Taman Safari, makanya setelah dari Taman Safari, kita bisa melanjutkan perjalanan ke TWM, namun perlu dipertimbangkan waktu dan tujuan kita disana karena TWM akan tutup pada jam 6 sore dan di dalam area ini terdapat banyak sekali wahana yang bisa kita kunjungi.



Billboard di area masuk

Menuju telaga

Saung-saung di pinggir telaga

Sepeda air

Taman bunga


Kalau di Taman Safari kita bisa membawa mobil kita menelusuri jalan yang lumayan panjang sebelum bertemu pintu gerbang utama, tetapi di TWM hanya dibutuhkan sekitar 200 meter untuk sampai ke loket pintu masuk.  Kalau di Taman Safari, pintu gerbang terlihat jelas, rapi dan lebar, tapi di TWM sangat berbeda.  Signage menuju pintu gerbang kurang jelas, jalanan sempit banyak tertutup oleh pedagang dan pejalan kaki. Menjadi tantangan tersendiri bagi kita karena harus berbagi jalan dengan orang lain, termasuk juga mencari tempat parkir mobil.


Flying fox

Hall serba guna

Kadang digunakan untuk resepsi

Mobil kereta keliling taman

Berkuda pun ada


Bagi anak-anak, tempat ini seperti surga.  Segala bentuk permainan ada disini, mulai dari kolam renang, kolam bola, sepeda air, mobil kereta, museum boneka, sampai tempat jualan jajanan atau makanan ringan.  Pokoknya orang tua tidak perlu bingung bila membawa buah hatinya, yang penting sediakan uang dan waktu yang cukup untuk mendampingi mereka.  Selebihnya tinggal bersabar melihat tingkah polah mereka yang sangat excited masuk ke 'dunianya'.


Taman Jamur (gratis)

Taman Gorila King Kong (gratis)

Kolam renang anak-anak (bayar)

Kid zone (bayar)

Istana boneka (gratis)

Istana bawah laut (gratis)

Boat keliling danau (bayar)


Bagi para remaja dan dewasa, disini juga tersedia tempat menarik untuk melepaskan kepenatan.  Ada Trick Art museum bagi yang suka berfoto dengan gambar-gambar 3 dimensi, ada juga gua hantu, taman-taman bunga, atau aula terbuka yang menyediakan guru gratis bagi yang ingin belajar menari atau berdansa.


3D house

Pintu depan Trick Art Museum (gratis)

Tempat penyewaan kostum

Di dalam museum bawah laut (gratis)

Fantasy land (gratis)

Gua Misteri (harus bayar)

Les dansa gratis


Kekurangan dari tempat wisata ini terletak pada perawatan area dan isinya.  Beberapa area terlihat kotor, sampah plastik atau makanan dimana-mana, serta fasilitas atau peralatan yang ada disini kurang terawat dengan baik.  Warnanya sudah kusam, sebagian peralatan sudah berkarat, sompel atau patah.  


3. The Ranch
Kalau yang satu ini bisa dibilang pintar membaca pasar.  Konsumen itu selalu menginginkan yang lebih baik dalam segala hal.  Urusan wisata, mereka ingin yang berbeda, tidak sekadar meniru apa yang sudah ada.  Kalaupun sudah pernah ada, konsumen ingin yang mempunyai nilai tambah misalnya dikemas atau disajikan lebih baik atau lebih modern dengan menggunakan teknologi canggih sehingga tampilan dari produk itu lebih menarik dan kualitasnya lebih bagus.  Disamping kualitas produk lebih bagus, konsumen juga ingin tempat wisata yang mengakomodir semua kebutuhan.  Maksudnya, di tempat itu bisa sekalian berlibur, belajar/menambah pengetahuan, makan dan belanja.  Kalau bisa memenuhi segala usia, sehingga tidak hanya ibunya saja yang puas, tetapi si bapak dan anak juga senang.


Bagian depan/pinggir jalan raya

Gedung utama

FO disamping kanan gedung utama

Pasar petani di dekat pintu masuk

Tempat penukaran tiket menjadi segelas susu

Di bagian depan dalam gedung utama


Menyadari akan kebutuhan pasar dan perilaku konsumen, the Ranch hadir untuk memberikan pilihan baru bagi keluarga untuk bersenang-senang di Puncak.  Mengapa the Ranch masuk dalam daftar taman wisata di Puncak yang perlu dikunjungi?  Karena the Ranch punya taman-taman yang indah yang justru menurutku terlihat lebih terawat dan berkarakter.  Coba lihat taman bunga dengan kastil yang mirip di Perancis, atau lihat juga pekarangan dengan rumah mungil si hobbit.  Belum lagi landscape outdoor garden-nya benar-benar diperhatikan dengan baik, sehingga setiap spot terasa saling mendukung, menciptakan pemandangan yang indah.  Tidak mengherankan, semua pengunjung berebut untuk mengabadikan keindahan itu.


Serasa di pedesaan

Kombinasi Asia dan Eropa

Mirip taman di Eropa

Terawat dengan baik

Mana nyangka ini di Indonesia?

Adem di mata


The Ranch juga punya tempat untuk belajar bila kita tertarik dengan dunia hewan.  Disini kita bisa belajar bagaimana menyusui anak sapi atau berkuda keliling taman.  Bisa juga kita belajar berkebun dengan cukup melihat bagaimana para tukang kebun merapikan tanaman, memupuk dan menyirami.  Atau bisa juga kita belajar memanah.  Ya, disini ada fasilitas panahan.  Bahkan disediakan kostum kalau kita ingin bergaya ala Robinhood. 


Anak-anak sapi

Susah cari pemandangan yang 'sepi' pengunjung

Datang pagi-pagi sekali kalau ingin bebas foto tanpa gangguan


Lay-out-nya sangat bagus

Ada area untuk berkuda

Bersih dan bikin betah


Setiap pengunjung berhak mendapatkan satu gelas susu dengan cara menunjukkan tiket masuk yang dibeli di pos depan pintu masuk.  Bagi yang punya banyak waktu, mereka bisa bersantai di kursi balkon sambil menikmati pemandangan atau berbelanja oleh-oleh di store depan gedung.


Area food court di bawah 

Bola air untuk anak-anak

Trampolin

Counter souvenir



4.  Kebun Raya Cibodas 
     Namanya mirip dengan Kebun Raya yang ada di kota Bogor, tapi kebun yang satu ini berbeda, bahkan orang sering menyebutnya Taman Bunga Cibodas.  Mungkin untuk membedakan dengan kebun raya yang di kota Bogor.  Tapi kalau dilihat dari papan nama yang ada di depan, namanya memang Kebun Raya Cibodas (KRC), bukan taman bunga, karena memang lebih tepat kalau dibilang kebun karena di tempat wisata ini kita akan lebih banyak ketemu dengan tanaman-tanaman yang notabene tidak menghasilkan bunga, misalnya kebun karet, pohon-pohon jati, palem dan lain-lain.


Gerbang depan

Taman hijau-1

Taman hijau-2

Taman hijau-3

Taman hijau-4


Check point ke tempat wisata KRC adalah Taman Safari karena lokasinya sekian ratus meter dari Taman Safari.  Nanti ada petunjuk jalan ke arah KRC.  Namun kalau dihitung dari belokan pertama ke arah KRC, kita masih harus mengendarai mobil kita jauh ke arah tujuan.  Jalan rayanya lebih sempit dan tidak semuanya dalam kondisi bagus.  Dengan medan yang lumayan berat, jauh dan menanjak, disarankan menggunakan mobil yang kondisi mesinnya baik dan kuat tanjakan.


Gedung informasi di bagian depan

Gedung konservasi di bagian dalam

Taman mawar

Taman obat

Taman hijau-5


Kita bisa membawa mobil kita memasuki area KRC atau parkir di luar pintu gerbang/kawasan KRC.  Kalau aku menyarankan masuk saja.  Meskipun harus bayar lebih, tapi kita akan lebih puas mengunjungi satu-persatu spot menarik di dalam KRC.  Dan juga kalau parkir diluar, keamanan tidak terjamin karena parkirnya di sepanjang jalan di pasar, tarif tidak jelas dan tidak ada karcis parkir. Kalau naik mobil wisata, kita harus bayar dulu Rp 10.000 per orang, mengantri beli tiket dan naik mobil wisata yang jumlahnya tidak banyak.  


Loket pembelian tiket masuk

Karcis/tiket masuk

Bibit-bibit tanaman

Cafe di bagian depan

Mobil wisata keliling kebon raya

Foto-foto


Di dalam kawasan KRC banyak yang dapat kita kunjungi, salah satunya taman sakura yang sangat terkenal itu.  Namun sayang seribu sayang, bunga sakura tidak muncul setiap hari.  Saat kudatangi, pohon itu hanya terlihat daunnya saja dan tempat itu berubah menjadi 'kebun manusia'.  Pengujung memadati tempat ini karena disini terdapat sungai dengan bebatuan dan alur yang natural sehingga bagus menjadi tempat berkumpul dan berfoto.


Pengujung di kebon sakura

Mereka memadati sungai bebatuan di bagian tengah

Kebon sakura berubah jadi 'kebon manusia'

Iidak dapat dibayangkan kalau musim liburan



5. Taman Bunga Nusantara
    Kalau yang satu ini recommended bagi yang suka tanaman karena meskipun nama tempatnya pakai kata 'bunga', bukan berarti yang ada disini bunga semua.  Di Taman Bunga Nusantara (TBN) ini juga punya koleksi tanaman palem, bonsai, bahkan ada tempat pembibitan beberapa tanaman yang hampir punah.  


Hamparan bunga-1

Hamparan bunga-2

Hamparan bunga-3

Taman Palem

Taman Amazon


Lokasi TBN lumayan jauh dari jalan raya puncak.  Check point-nya Factory Outlet Brasco yang ada di Cipanas.  Kenapa Brasco? Karena FO yang satu ini lumayan terkenal di puncak dan tidak sulit bagi kita kalau menanyakannya ke orang yang ada di puncak.  Bisa dikatakan rata-rata orang tahu dimana itu Brasco.  Dan sebelum FO itulah ada jalan ke kiri menuju TBN.  Sebenarnya ada signage sebelum belokan ke arah TBN.  Signage-nya bareng dengan petunjuk arah ke Hotel Sahid karena memang mereka sama satu jalur.  Namun, bagi siapapun pasti akan kesulitan mencari lokasi TBN karena petunjuk arah berikutnya diletakkan jauh sekali.  Sudah begitu, ada beberapa belokan di sepanjang jalan yang berpotensi membingungkan kita.  Saranku, kalau bisa pakai mbah google map saja atau aplikasi petunjuk arah lainnya.


Area parkir yang luas tapi terlihat sempit di musim liburan

Taman jam yang berfungsi dengan baik

Taman di dekat menara


Tiket masuk gerbang dihitung berdasarkan jenis kendaraan yang kita gunakan.  Kalau pakai kendaraan roda dua kita harus bayar Rp 10.000 selanjutnya angkanya lebih mahal untuk mobil roda 4 (Rp 15.000), mini bus (Rp 20.000) dan bus (Rp 25.000).  Tiket masuk itu sekaligus parkir.  Di pintu masuk kita hanya dapat kartu dan nanti kita kembalikan saat keluar dari lokasi.  Pembayaran belum selesai.  Untuk memasuki area dalam TBN, setiap pengunjung dikenakan biaya Rp 40.000.  Kalau ingin menikmati kereta wisata, dotto train atau garden tram keliling taman, kita bisa bayar tiket yang satu paket seharga Rp 50.000 per orang.


Bayar Rp 10.000 bila ingin naik Dotto train

Kereta atas monorail tersedia juga disini

Ada stasiun kecilnya

Wisata sepeda air

Arena gokart


Acara keliling taman memang gratis, tapi untuk menikmati salah satu wahana disana seperti sepeda air atau mau masuk ke taman rumah kaca Begonia, kita harus bayar lagi.  Apalagi kalau mau makan di kafe atau restaurant yang ada di dalam.  Makanan disini harganya cukup mahal dan rasanya, mohon maaf, jangan terlalu berharap.  Makanya disarankan pengunjung bawa makanan sendiri.  Kita boleh lho bawa tikar dan gelar pesta kebun disini.  Aku lihat banyak tamu-tamu yang datang berkelompok pada gelar tikar, makan siang bareng atau bersantai di bawah pohon rindang.  Yang penting tidak buang sampah sembarangan dan tidak usil tangannya untuk memetik bunga.


Rumah kaca Begonia

Harus bayar tiket kalau mau masuk

Taman Labirin, berani masuk?

Untuk piknik atau pesta kebun


Banyak pilihan tempat berupa taman di dalam TBN ini yang bisa dikunjungi.  Ada yang produk domestik seperti Taman Bali, ada juga yang produk internasional seperti Taman Mediterania dan Taman Perancis.  Pengunjung benar-benar dipuaskan dengan aneka ragam taman yang indah-indah dari penjuru dunia.  Tak ayal tempat ini jarang sekali sepi pengunjung.  Sehingga menjadi hal yang sulit kalau ingin foto-foto disini dengan bebas tanpa gangguan atau ada background orang lain.  Kita sendiri yang dituntut pandai memanfaatkan kesempatan.  Maksudnya di sela-sela waktu orang lain tidak ke spot yang kita tuju atau saat mereka lagi sibuk dengan yang lain, kita harus cepat bertindak untuk ngambil pose duluan.


Taman Bali

Taman Perancis

Danau buatan

Taman Dinosaurus

Taman air mancur



6. Little Venice di Kota Bunga
    Sebenarnya masih satu arah dengan TBN atau malah posisinya lebih dekat dari belokan pertama jalan raya puncak, kita bisa mampir dulu ke Kota Bunga dengan tempat wisata andalannya yang dikenal dengan Little Venice.  Little Venice (LV) adalah bagian dari komplek perumahan Kota Bunga yang ada di Puncak Bogor.  Awalnya ini adalah fasilitas tempat bermain bagi penghuni perumahan, namun setelah melihat animo masyarakat luar yang ingin menikmati fasilitas ini, akhirnya tempat ini dibuka untuk umum dan menjadi salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi.


Gerbang depan mirip dunia fantasi

Loket pembelian tiket

Tiket masuk berupa gelang kertas

Danau buatan di sekeliling arean

Taman dengan background perumahan

Gedung di tengah kawasan



Di gerbang masuk, kita cukup mengambil tiket dari security perumahan yang stand-by di pos gerbang.  Kita tidak perlu bayar dan tiket itu harus kita kembalikan saat kita keluar perumahan.  Tempat parkir kendaraan ada di depan gerbang LV.  Sayangnya, kapasitas sangat terbatas sehingga kalau musim liburan, beberapa pengunjung terpaksa memarkirkan mobilnya jauh dari tempat wisata.


Antrian gondola selalu lebih banyak daripada wahana lainnya

Dengan pendayung gondola kita diajak keliling kawasan

Kapal besar tempat pertunjukan

Biasanya ada live music disini

Merlion pun ada disini


Untuk memasuki LV, kita diberi 2 pilihan.  Bayar sekadar tiket masuk yang seharga Rp 25.000 dan kita akan bayar tiket lagi di dalam bila ingin menikmati setiap wahana yang ada disana, atau beli tiket paket seharga Rp 60.000 dan kita diberi kesempatan 'free' 2 wahana di dalam.  Tiket untuk wahana di dalam harganya bervariasi, mulai dari Rp 15.000 s.d. Rp 80.000 per orang.  Bila sudah bayar tiket, kita akan dapat gelang kertas yang akan di-scan oleh petugas di depan portal masuk dan gelang itu harus kita pakai sepanjang ada di dalam LV.  Disamping sebagai bukti bahwa kita sudah sah masuk kawasan, gelang kertas itu akan diberi tanda oleh sang petugas bila kita menggunakannya untuk menaiki salah satu wahana.


Taman-taman di dalam kawasan

Setiap sudut danau punya tema masing-masing

Air mancurnya sedang off


Jadi banyak pilihan hiburan di Puncak Bogor.  Sangat jelas tidak mungkin kita bisa mengeskplor keindahan semua tempat wisata itu dalam waktu satu hari, disamping tempatnya yang berjauhan, traffic di Bogor kurang bersahabat.  Juga kita harus mempertimbangkan status Bogor sebagai kota hujan dan kebanyakan wisata yang ada berjenis outdoor, pastinya kita tidak akan leluasa berfoto atau mendapatkan kualitas foto yang baik bila cuaca mendung atau hujan.  Belum lagi, di Puncak juga tersedia tempat-tempat makan yang menarik yang tidak hanya punya menu enak, tetapi punya interior dan outdoor view yang instragramable.  So, buruan jalan-jalan ke Puncak. 



Rabu, 12 Desember 2018

Yvoire, Daya Pikat Bagi Siapapun Yang Melihat

Memang betul, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.  Siapa sangka, sebuah kota yang sangat kecil di perbatasan suatu negara dan berpenduduk sangat minim jumlahnya, bisa mendatangkan devisa?  Dialah Yvoire, tempat wisata dengan luas 3,12 km2 di Perancis yang berada tepat di garis perbatasan dengan Swiss, dengan populasi dibawah 1.000 jiwa namun bisa mendatangkan devisa rata-rata diatas 1000 Euro setiap hari.  Artinya produktivitas penduduknya sangat tinggi, satu orang bisa menghasilkan 1 Euro lebih per hari!!


Boat, transportasi ke Yvoire


Awalnya aku juga ragu, apa sih menariknya berkunjung ke Yvoire?  Terbayang dipikiranku saat itu, bisa jadi ada sesuatu yang indah luar biasa disana yang tidak jauh dengan produk-produk andalan wisata Perancis seperti puri, istana kerajaan, taman atau gedung-gedung tua.  Atau kota di abad pertengahan ini punya nilai sejarah tinggi di masa perjuangan Perancis atau peradaban bangsa Eropa.  Kalau kita tanya mbah Google ya memang ada beberapa tempat wisata disana, tapi semua tidak bisa dinilai bila hanya sekadar baca artikel, lihat gambar atau dengar cerita teman.  Lebih baik kita lihat dengan mata kepala sendiri, bisa jadi obyek wisata itu bukan satu-satunya alasan orang bepergian kesana.  Mungkin saja ada faktor X yang menjadi daya tarik wisatawan.  Nah, silakan saja cari tahu jawabannya.  Aku hanya cerita apa dan bagaimana perjalanan singkatku ke Yvoire.


Siap-siap meninggalkan Swiss menuju Perancis


Aku berangkat dari pelabuhan kecil di tengah kota Geneva ke Yvoire.  Kapal kecil berkapasitas 50 orang yang 2 jam sekali membawa penumpang ke Yvoire.  Kita dibuat terkesima dengan kondisi kapal yang berumur cukup tua tetapi masih terawat dengan baik.  Lantai setiap ruangan semuanya bersih.  Dinding bercat putih yang tidak banyak ornamen pun terlihat bersih.  Toiletnya juga terjaga kebersihannya.  Tapi yang paling mengagumkan adalah kapal ini digerakkan oleh mesin Sulzer Freres Winterthur yang telah berusia 104 tahun !!  Dan kondisinya masih sangat bagus.  Mesin itu bersih mengkilap, tidak ada kotoran, karat atau percikan oli lapisan logam mesin itu


Dermaga

Menuju Yvoire

Mesin kapal buatan 1914

Tempat makan di dalam kapal


Sekitar 1 jam perjalanan, boat itu akhirnya berlabuh di dermaga kecil di Yvoire.  Penumpang bergegas turun dari kapal dan berjalan memasuki tempat tujuan.  Di bagian depan terlihat restaurant dengan menu Eropa dan bangunan kuno ala rumah batu tempo dulu.  Yang menarik bukan di bangunannya, tetapi tanaman anggur yang menutupi sebagian dinding samping restaurant.  Buah anggur yang berwarna hijau itu tumbuh rimbun di sepanjang tangkai.  Tidak hanya diriku, beberapa wisatawan juga tergelitik untuk memetik beberapa biji.  Rasanya manis dan juicy.


Bersandar di dermaga Yvoire

Boat turis yang bersandar di dermaga


Jalan masuk ke perkampungan Yvoire berupa tanjakan curam dengan tingkat kemiringan sekitar 45 derajat.  Untungnya jalan itu cukup pendek dan banyak yang bisa dilihat di sepanjang jalan.  Rumah-rumah berbentuk mungil dengan disain yang unik. Di persimpangan jalan, terdapat toko yang menjajakan produk-produk dari bahan kaca.  Sepintas produk yang dipasarkan itu mirip produk-produk kristal karena desainnya sangat detail, shiny dan menarik.  Ada yang berbentuk perhiasan, lampu, bunga hiasan meja, atau bentuk abstrak dengan cita rasa seni yang tinggi.  Namun, harga produknya relatif mahal untuk kantong orang Indonesia.  


Tempat penjualan produk-produk berbahan kaca


Kalau boleh jujur, tidak ada yang terlalu istimewa di tempat ini.  Puri dan taman bunga yang ditawarkan menurutku biasa-biasa saja.  Puri yang ada sama seperti puri-puri yang ada di benua Eropa, baik itu dari sisi bentuk bangunannya, material, lay-out dan eksteriornya.  Tapi penilaian terakhir ada pada wisatawan, bisa jadi mereka melihat dari sisi yang berbeda atau mereka punya tujuan yang lain ke kota ini.


Jalan-jalan di dalam area

Suasana pasar tempo dulu


Selain belanja produk-produk lokal yang kreatif, sepertinya wisatawan menyukai suasana dan alam di Yvoire.  Disini areanya sangat bersih.  Taman-taman tertata dan terawat dengan baik.  Sebagian wisatawan terlihat bersantai dan berjemur di pinggir pantai.  Sebagian juga ada yang berenang.  Kalau dicermati dengan baik, bangunan-bangunan dan disain kampung di Yvoire ini mirip sekali dengan perkampungan orang Perancis (French Village) yang ada di Ba Na Hills Vietnam.  Sekarang, tergantung dengan anda, apakah tertarik mengunjungi Yvoire atau cukup sekadar tahu saja dari cerita orang?






Senin, 08 Oktober 2018

Banda Aceh Bersolek Diri Pasca Tsunami

Aceh, demikian nama propinsi, suku, daerah di ujung pulau Sumatera ini, 14 tahun yang lalu luluh lantah oleh bencana alam Tsunami.  Tepatnya di tanggal 26 Desember 2004, 1 hari setelah umat nasrani merayakan natal dan 5 hari menjelang pergantian tahun 2005, Sang Penguasa seolah-olah memberi peringatan keras kepada dunia ini bahwa kekuasaanNya lebih kuat dari segala apapun yang ada di bumi ini.  Tidak ada yang tidak mungkin bagiNya.  Bila Dia berkata 'Jadi', maka 'Terjadi lah' hal-hal yang menurut akal manusia tidak mungkin terjadi.  Tidak ada satu pun yang dapat menghalangiNya, semuanya bisa dihancurkan dalam sekejap dengan kehendakNya.  Salah satu bukti kekuatanNya ya tsunami itulah yang terjadi di negeri serambi Mekkah itu.  Sepertinya banyak pesan, hikmah, pelajaran yang dapat dipetik dari musibah itu.  Apakah ada yang salah di bumi Aceh saat itu?  Apakah ini bentuk kemurkaan Tuhan kepada hambaNya yang tidak menjalankan perintahNya?  Atau ini hanya sekadar ujian kenaikan derajat ketaqwaan masyarakat Aceh di depan Sang Pencipta?  Jujur, hanya masyarakat Aceh yang selamat dari bencana itu yang lebih tahu jawabannya.


Maket kota Banda Aceh sebelum tsunami, padat pemukiman

Setelah tsunami, hancur lebur, daratan terlihat lebih luas

Masjid raya yang selamat dan tetap berdiri kokoh


Semua peristiwa besar itu terekam dengan baik dan dapat kita lihat di Museum Tsunami yang berada di tengah kota Banda Aceh.  Kondisi atau kehidupan masyarakat sebelum dan sesudah tsunami tergambar jelas disini.  Di setiap dokumentasi disajikan cerita singkat, sehingga mempermudah pengunjung memahami alur cerita kejadian. 


Fasad depan museum

Helikopter NBO-105 buatan IPTN yang hancur oleh tsunami

Area untuk melihat rekaman video singkat peristiwa tsunami

Jembatan dan bendera negara penyumbang


Foto-foto kesedihan berjejer dipajang di hampir seluruh ruangan.  Ada juga yang disajikan dalam bentuk video berdurasi pendek, ada juga dalam bentuk gambar-gambar statis namun menyiratkan sejuta arti.  Yang paling menyentuh lubuk hati kita adalah ruangan yang dikenal dengan 'Sumur Doa'.  Ruangan ini berbentuk melingkar seperti sumur dengan diameter sekitar 4 meter dan di seluruh dinding sumur itu tertulis nama-nama korban tsunami.  Ruangan ini sengaja dibuat agak gelap, tanpa suara, supaya pengunjung dapat dengan tenang melihat nama-nama korban sekaligus memanjatkan doa bagi mereka atau dapat meresapi arti musibah dan berdoa agar musibah itu tidak datang kembali menimpa bumi pertiwi ini.


Cerita di balik musibah

Dinding sumur doa

Nama-nama korban


Memang museum tidak dapat menampilkan semua bukti suatu peristiwa, apalagi kalau bukti itu dalam bentuk kapal besar seperti Kapal Apung Pembangkit Listrik Tenaga Diesel milik PLN yang terdampar di tengah-tengah pemukiman penduduk.  Ini bukti konkrit kedasyatan tsunami yang tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun.  Kapal dengan berat 2800 ton ini dihempas oleh tsunami sejauh 5 km ke daratan, tepatnya di area Punge Blang Cut, Banda Aceh.


Pintu gerbang ke Kapal Apung I

Kapal Apung I tampak dari samping

PLTD Apung I, bukti nyata tsunami Aceh 2004

Dikelilingi oleh pemukiman

Tugu peringatan


Sebenarnya pasca tsunami, PLN ingin mengembalikan kapal ini ke laut karena kondisi mesin tidak rusak parah dan diharapkan masih mampu memasok listrik sebesar 10,5 MW seperti sedia kala.  Namun, Pemerintah setempat justru ingin menjadikannya sebagai wisata sejarah.  Akhirnya PLN hanya mencabut mesin-mesinnya saja dan kapal ini sekarang menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Aceh.  


Dalam kapal-1

Dalam kapal-2

Dalam kapal-3

Dalam kapal-4


Ada juga peninggalan sejarah musibah tsunami Aceh yaitu kapal nelayan yang terdampar di atap rumah.  Pemandangan ini lebih unik dan menarik, tanpa bermaksud mengabaikan penderitaan korban saat kejadian itu, tapi bila dilihat dari sisi pariwisata, obyek ini layak untuk menjadi destinasi wisata bagi turis yang ingin melihat bukti nyata tsunami Aceh 2004.  Sebelum musibah itu terjadi, sebenarnya kapal kayu sepanjang 25 meter ini sedang berada di dock kapal di sungai Krueng Aceh di Lampulo dan siap untuk berlabuh tanggal 26 Desember 2004.  Tetapi Tuhan berkata lain, justru di hari diluncurkannya kapal dengan berat 20 ton ini menjadi sejarah tragedi tsunami.  59 orang menjadi saksi hidup selamat dari bencana dengan kapal ini.  Yang mereka tahu, kapal ini melindungi mereka dari hempasan gelombang besar.  Karena tersangkut di atap rumah inilah, kapal itu tidak hanyut terhempas jauh di laut lepas, sehingga saat gelombang pasang itu surut, mereka dapat dengan mudah turun ke darat.


Bukti nyata keganasan tsunami
Kampung nelayan dekat lokasi 'kapal di atas atap'


Mungkin kita dapat sejenak melewatkan kisah-kisah sedih tsunami karena Aceh sudah bangkit dari kehancuran alam dan ekonomi.  Tsunami memang membawa hikmah tersendiri dengan berhentinya konflik kekuasaan antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berkobar sejak tahun 1976.  Akhirnya pada tanggal 15 Agustus 2005 ditandatangani perjanjian damai antara Pemerintah RI dengan GAM di Helsinki Finlandia.  Perjanjian tersebut memberi harapan kembali untuk membangun Aceh bersama setelah tsunami.  Dan kini Aceh sudah menunjukkan banyak perubahan.  Perekonomian sudah bergerak cepat.  Masyarakat dan Pemerintah setempat juga terus berupaya membangun daerahnya agar tidak tertinggal dengan daerah-daerah lain di Indonesia termasuk di sektor pariwisata.  Pulau Sabang masih menjadi destinasi favorit turis asing yang menggemari wisata alam bawah laut.  Pulau kecil ini punya dermaga untuk kapal pesiar berukuran besar berlabuh disini.  Juga punya resort dan fasilitas untuk snorkeling atau diving.  Untuk menuju pulau Sabang dapat ditempuh dengan menggunakan kapal penyeberangan atau menggunakan penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta atau Bandara Kualanamu Medan.  Para turis lebih cenderung terbang dari Jakarta ke Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh lalu menggunakan transportasi ferry ke Sabang, karena jadwal keberangkatan lumayan banyak dan tidak lama, serta pemandangan di sepanjang perjalanan cukup menarik.  Hanya saja faktor cuaca menjadi penentu berangkat tidaknya kapal penyeberangan. 


Yang menyita perhatian dunia


Aceh punya pantai yang indah dan layak untuk dikunjungi.  Lokasinya memang lumayan jauh dari bandara atau dari pusat kota, tapi pengunjung dijamin akan betah berada disini menikmati keindahan alam pantai yang bisa dibilang belum setenar pantai yang ada di Bali atau Lombok.  Namun pantai ini punya daya tarik tersendiri selain hamparan pasirnya yang bersih dan ombaknya yang tidak begitu kencang, di pinggir pantai ini tumbuh pohon-pohon rindang dan dibangun gubuk-gubuk yang nyaman untuk acara berkumpul bersama teman atau keluarga.  Apalagi disini juga tersedia rumah makan atau warung minuman, sehingga terbayang betapa nikmatnya sore itu, berteduh di bawah gubuk menikmati matahari tenggelam sambil ditemani air kelapa muda yang fresh disajikan bersama batok kelapanya.  Namun ada satu hal yang perlu diingat bagi pengunjung, bahwa Aceh memberlakukan syariat Islam, artinya meskipun di pantai, anda tidak dapat dengan bebas mengumbar aurat disini.


Pantai Lhok Nga-1

Pantai Lhok Nga-2

Pantai Lhok Nga-3

Pantai Lhok Nga-4


Kalau masih suka dengan suasana pantai, tidak ada salahnya untuk mampir ke Lhok Aroen karena disini ada cafe yang bangunannya menjorok di pantai.  Kalau dilihat sepintas lalu mirip banget dengan cafe-cafe yang ada di Maldives.  Sangat nyaman rasanya, duduk-duduk santai minum kopi diiringi dengan sepoi-sepoi angin laut dan hamparan pemandangan alam yang indah.  


Lhok Aroen-1

Lhok Aroen-2

Lhok Aroen-3

Lhok Aroen-4


Bicara tentang kopi, Aceh lah tempatnya.  Kopi Aceh sudah sangat terkenal di bumi nusantara ini.  Disamping punya rasa yang khas, ada mitos atau respon senada dari para penyuka kopi Aceh.  Katanya kopi Aceh lain efeknya, kalau kopi biasanya bikin melek, kopi Aceh justru sebaliknya, bikin tidur.  Makanya tidak ada yang khawatir menikmati kopi Aceh di malam hari.  Namun semuanya kembali kepada penilaian masing-masing.  Tapi sekali lagi, kalau anda ke Aceh dan ingin bergaul atau diterima baik dengan masyarakat disana, maka anda harus menyukai kebiasaan yang mereka lakukan yaitu minum kopi.


Belum afdol bila ke Aceh tidak minum kopi Aceh

Kopi Aceh sudah mendunia


Satu lagi juga yang perlu anda coba bila sedang berkunjung ke Aceh.  Ayam tangkap, makanan khas Aceh yang sangat populer.  Rasanya juicy dan yummy banget.  Ayam itu sepertinya di bumbui terlebih dahulu dan didiamkan selama waktu tertentu sebelum digoreng di penggorengan yang sangat panas.  Disajikannya panas-panas dan selalu ditaburi goreng rempah-rempah seperti daun pandan, beberapa daun herbal dan cabe besar.  Dijamin, satu potong saja tidak akan cukup.  Anda akan bisa menghabiskan lebih dari 1 potong.


Full rempah dan berasa kelezatannya

Gulai kambing termasuk menu andalan

Yang paling dicari dan disukai banyak orang, Ayam Tangkap

Suasana restaurant 'Ayam Pramugari' dekat bandara

Semua diolah 'fresh' dan dijamin enak

Jam makan siang, restaurant sangat ramai, harus 'book' dulu


Itulah Aceh.  Propinsi di paling ujung kiri negara ini sekarang telah bangkit dan bersolek diri.  Mereka tidak pasrah begitu saja dengan musibah.  Mereka masih memegang asa.  Harapan menjadikan negeri ini makmur, damai dan sejahtera tidak akan sirna.  Banyak hal yang akan kita dapat bila berkunjung ke Aceh.  So, welcome to Aceh.