Minggu, 01 Juli 2018

2 Obyek Wisata Yang Belum Siap Untuk Diungkap (Edisi Solo 2018)

Bisa jadi aku terlalu peduli dengan Solo sehingga perhatianku begitu detail dengan kota yang satu ini, apalagi menyangkut obyek-obyek wisata yang ada disini.  Pengalaman kali ini merupakan anti klimaks dari perjalananku yang benar-benar tidak ingin terulang lagi.  Tidak ada unsur benci, dongkol, atau marah atas pengalaman ini, tapi setidaknya ini menjadi pelajaran bagi diriku pribadi untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi dengan obyek wisata yang baru diluncurkan, salah duanya yang akan aku sampaikan secara singkat di bawah ini.

1. The Heritage Palace
Obyek wisata ini baru diluncurkan sebulan yang lalu oleh pengusaha swasta yang ingin memberikan warna baru bagi pengunjung di Solo.  Sepertinya sengaja dibuka di peak season Lebaran karena Solo sampai sekarang masih menjadi destinasi 'mudik' dan jalan-jalan warga Indonesia.  Kontras banget dengan Jakarta yang menjadi sangat sepi di Idul Fitri.  Penerbangan, kereta api, bus sudah di-booking jauh-jauh hari oleh warga Solo yang bermukim atau sekadar mencari penghasilan di ibukota.  Ditambah lagi yang nekat atau 'suka' mudik dengan mobil sendiri dan para penduduk non muslim ibukota pun ikut-ikutan memanfaatkan libur panjang untuk bersenang-senang ke Solo, meskipun sebenarnya bukan itu alasannya.  Faktor penyebab utama sebenarnya karena si asisten rumah tangga alias pembantu sudah pada mudik semua, jadinya tidak ada yang bersih-bersih rumah.  Penyebab yang lain, Jakarta sangat sepi dan belum bisa menjadi tempat yang énak' untuk berlibur lebaran.  Suasana Idul Fitri tidak bisa didapat di Jakarta, kecuali kalau kita memang tidak merayakannya atau memang hidup sebatang kara, atau memang kita lebih suka suasana yang sepi.  Akibatnya, Solo menjadi sangat sibuk menyambut kehadiran 'warga baru' dari luar kota.  Kendaraan berplat B hilir mudik di jalan-jalan kota Solo.  Aku hanya bisa tersenyum melihat pemandangan ini.  Masa' dari kota macet ketemu macet lagi??


The Heritage Palace, tempat hiburan baru di Solo

Gedung tua dan mobil kuno sebagai daya tarik THP


Keramaian kota Solo oleh penduduk asli dan pendatang dimanfaatkan pengelola The Heritage Palace (THP) untuk me-launching produknya.  Wajar saja menurutku, karena bagi seorang pengusaha, moment ini tidak boleh disia-siakan.  Ini saat yang tepat untuk memanfaatkan 'pasar' yang ada.  Tapi apakah kita siap atau tidak menerima respon dari pasar?  Apakah kita siap menerima dan melayani pengunjung yang datang berduyun-duyun?  Apakah kita siap memberikan perhatian dan kepuasan bagi semua pengunjung?  Itu yang menurutku perlu disiapkan dengan matang oleh THP dan sepertinya mereka belum siap betul menyambut tamunya.


Tempat parkir yang lumayan luas

Seharusnya tenda-tenda tidak menutupi keindahan gedung tua


Dengan membayar Rp 50.000 untuk tiket masuk yang harus kita beli di loket yang dibangun ála kadarnya', kita boleh menikmati fasilitas yang ditawarkan THP.  Pintu masuk menjadi satu dengan pintu keluar.  Petugas di depan hanya menanyakan tiket kita, lalu memberikan stempel kecil bertinta di tangan kita sebagai tanda kita telah bayar.  Tiket masuk dapat kita tukar dengan segelas minuman ringan kemasan plastik di dalam gedung 3D.  Oiya, THP juga menyediakan arena 3D selain mobil-mobil kuno yang di pajang di area terbuka.


Tiket yang bisa ditukar dengan minuman plus bonus stiker

Resto di dekat pintu masuk, debu lantai harus diantisipasi

Pemandangan tidak sedap yang harus segera diatasi oleh Pengelola


Aku acungin jempol untuk pemilihan lokasi dan gedung tuanya.  Konsep heritage yang vintage menjadi nyambung.  Tapi jumlah mobil yang dipajang serta area untuk mempertontonkan mobil-mobil jadul sangat terbatas, bahkan sangat sempit menurutku.  Apalagi THP berani mengusung promosi sebagai Museum Angkut, ekspektasiku langsung teringat Museum Angkut yang ada di Malang.  Kalau boleh jujur, jauh sekali perbandingannya, baik dari sisi jumlah koleksi maupun luasannya.  Meskipun yang di Malang tidak punya bangunan outdoor yang seindah THP, tapi desain interiornya lebih unggul dan boleh diacungin jempol. 


(hanya ini) area terbuka tempat pajangan mobil kuno

Petugas berkaos merah yang siap membantu pengunjung berfoto


Aku juga menghargai upaya pengelola THP untuk mempekerjakan tenaga-tenaga muda yang stand by membantu pengunjung dalam mengabadikan atau berfoto di area pameran.  Mereka menggunakan seragam casual kaos merah dan cukup ramah melayani pengunjung, namun dengan jumlah koleksi terbatas dan area yang tidak luas, serta pengunjung yang berjubel itu apakah kita bisa dengan leluasa dapat berfoto dengan nyaman?  Pengunjung cenderung sulit diajak kompromi untuk bergantian.  Mereka merasa punya hak untuk menikmati fasilitas disini karena mereka sudah bayar.  Pekerja THP pun merasa tidak enak hati kalau harus 'menghalau' mereka saat membantu pengunjung lain yang minta difoto.  Kebayang kan harus ngantri berdiri di tempat terbuka yang panas?  Apalagi suhu di Solo sangat panas akhir-akhir ini, aku dan bisa jadi pengunjung lainnya benar-benar kurang nyaman berlama-lama disini. 


Museum 3D penambah variasi hiburan

Antusias pengunjung sehingga ruangan terasa sesak dan panas


Hal lain yang perlu menjadi perhatian yaitu museum 3D.  Meskipun menempati area yang luas dan menawarkan berbagai macam ilustrasi, tapi aku kurang sreg dengan material yang dipakai.  Sebaiknya mereka menggunakan lukisan atau gambar tempel yang tidak glossy karena yang dipakai di THP ini hasil fotonya malah kurang hidup dan memantulkan sinar.  Siapa pun pasti menginginkan punya foto yang seakan-akan menyatu dengan latar belakang gambar yang ada, makanya pemilihan material, tata cahaya ruangan dan penempelan atau seni lukis background itu menjadi prioritas.


Spot favorit, arena World Cup 2018

Cukup bervariasi

Material gambar perlu diperhatikan



2. Agrowisata Jawa Unik
Tempat wisata ini lebih parah dari THP.  Mulai dari pintu depan sampai dengan wahana ataupun spot-spot di dalamnya, benar-benar belum siap menerima pengunjung.  Mungkin tidak perlu diulas secara detail kekecewaanku setelah berkunjung disini, tapi minimal memberikan gambaran yang riil dan jujur tentang tempat ini.  At least bisa menjadi pelajaran bagiku agar tidak terlalu berharap dengan obyek wisata baru dan pelajaran juga buat pengelola tempat wisata agar tidak terburu-buru meluncurkan produk dengan persiapan yang minim.


Brosur promosi


Agrowisata Jawa Unik (AJU) ini baru diluncurkan di tanggal 17 Juni 2018, tepatnya di musim liburan Lebaran 2018.  Awalnya aku super antusias saat mengetahui ada obyek wisata baru di Solo.  Maklum, selama ini aku belum pernah punya pengalaman buruk jalan-jalan ke Solo, bahkan kota ini menjadi tempat favoritku dengan berbagai alasan.  Intinya, aku ingin lebih dalam mengetahui kelebihan ataupun potensi kota ini, sama seperti saat aku memutuskan untuk berangkat ke AJU.  Yang ada dibenakku saat itu adalah tempat yang berada di dataran tinggi dengan tanah yang subur dan ditumbuhi pohon-pohon rindang serta mempunyai desain landscape yang fenomenal, sehingga punya nilai komersial yang layak untuk menjadi obyek wisata.  Terbayang di pikiranku, aku bisa berjalan di kebun-kebun buah dan bunga, menapaki pematang sawah, memanen beberapa buah yang sudah ranum di pohon, atau melihat cipratan air dari ikan-ikan di kolam.  Tapi, apa yang kubayangkan tidak sama seperti kenyataan.


Pintu depan tempat pembelian tiket masuk

Tiket masuk dengan harga tertulis, bukan tercetak

Patung buah naga, buah aslinya belum ada

Patung buah lagi


Dengan ongkos masuk Rp 50.000 per orang yang menurutku terlalu mahal untuk ukuran Solo, pengunjung harus kecewa dengan fasilitas yang ada di AJU.  Akses jalan menuju lokasi memang sudah baik, tapi jalan yang mendekati lokasi terasa sempit untuk lalu lalang mobil dan belum diaspal.  Tempat parkirnya cukup luas untuk kendaraan roda empat dan roda dua, tapi petugas parkir terlihat bekerja asal-asalan, tidak menggunakan seragam, kurang cekatan membantu pengunjung memarkirkan atau mengeluarkan kendaraan dan sepertinya hanya peduli dengan uang parkir saja.  Bayangkan suasana hati pengunjung siang itu yang sudah kepanasan bertemu dengan tukang parkir yang begitu?  Jelas saja, kesan pertama sudah tidak baik sebelum memasuki lokasi.


Bagian depan luar yang masih banyak perbaikan

Bagian depan dalam setelah pintu masuk

Pajangan di dekat pintu masuk

Bangunan 2 lantai terlihat dari halaman depan

Pengunjung cukup menikmati patungnya dulu


Di AJU terdapat bangunan 2 lantai yang berisi desain-desain interior dalam rumah.  Pengunjung bisa melihat berbagai macam pahatan daun pintu, jendela, atau partisi ruangan yang semuanya terbuat dari kayu.  Sayangnya, penjelasan atau pun cerita singkat dari masing-masing produk itu sangat kurang, sehingga pengunjung dipaksa memahami sendiri pajangan yang dilihat.  Belum lagi pengaturan suhu di setiap ruang pameran yang kurang diperhatikan, sehingga pengunjung merasa kegerahan.  


Mebelair kayu di lantai bawah

Coba kalau ada sejarah atau cerita singkat tentang meja ini?

Furniture kayu ukir di sepanjang lorong

(kembali lagi) miskin informasi, pengunjung tidak mendapat pengetahuan


Boleh-boleh saja pihak pengelola memberlakukan larangan bagi pengunjung untuk membawa makanan atau minuman dari luar, tapi bagaimana kalau pihak pengelola tidak memberikan banyak pilihan makanan dan minuman yang dijual di dalam?  Saat aku berada di dalam, kulihat ada beberapa tempat untuk makan atau minum di pinggir kolam, tetapi disitu tidak ada petugas ataupun informasi menu makanan, sehingga pengunjung mengira itu sekadar tempat untuk duduk-duduk santai.  Ada juga beberapa orang berseragam kaos hijau yang kutanya tentang hal ini dan mereka menjawab bahwa pengunjung boleh menempati tempat itu tapi harus pesan makanan yang ada di restaurant dekat situ.  Aku pun langsung menuju restaurant.  Sontak saja aku ilfil setelah melihat menu makanan yang kurang menarik dan harganya yang menurutku terlalu mahal untuk ukuran Solo yang terkenal super murah bila dibanding Jakarta. 


Resto pinggir kolam

Masih sepi atau kurang promosi?

Rumah tradisional berukuran besar

Yang ini berukuran kecil


Memang aku tidak mengeksploitasi keadaan dengan menampilkan gambar-gambar buruk dari kedua obyek wisata itu dengan maksud agar kita tidak fokus pada hal-hal yang tidak baik yang hanya akan mengingatkanku atas pengalaman buruk ini. Juga aku harus tetap yakin serta memberi kesempatan kepada pengelola untuk setiap hari berusaha memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumennya.  Tapi catatan pribadiku ini harus bisa jujur menuturkan kondisi yang sebenarnya yang aku lihat dan aku rasakan.  Minimal adalah bukti dari penglihatanku tanpa bermaksud untuk menjelek-jelekan tempat wisata itu.  Kalau orang bijak bilang, berikan informasi yang berimbang, sampaikan dengan jujur, dan selanjutnya biarkan pembaca yang menilai.


Kolam ikan sekaligus pasar apung

Masih sepi pengunjung

Spot menarik untuk foto

Colorful dan eye catching


Semoga informasi ini bermanfaat sebagai masukan buat kedua pengelola wisata THP dan AJU serta pengelola wisata lainnya, dan juga untuk pemerhati sekaligus penikmat obyek wisata dalam merencanakan tempat wisata yang akan dikunjungi.  Aku berharap saat artikel ini dibaca publik, kondisi THP dan AJU menjadi lebih baik.  Jangan berhenti berkarya dan memberikan yang terbaik bagi negeri ini.  Maju terus pariwisata Indonesia.




Rabu, 20 Juni 2018

Menelusuri Kota Tua Hoi An di Vietnam

Kalau ke kota Da Nang, jangan lupa mampir ke Hoi An (baca Hoyan).  Meskipun harus menempuh 1 jam perjalanan via darat, Hoi An menjadi tempat wajib dan sering ditawarkan dalam satu paket perjalanan ke Da Nang.  Itulah yang terjadi dengan perjalananku kali ini.  Berkunjung ke Ba Na Hills sekalian mengunjungi Hoi An.  Travel agent lokal menyarankan aku ke Hoi An yang katanya menjadi obyek wisata sangat terkenal karena mempunyai kota tua yang telah diklaim UNESCO sebagai tempat bersejarah dunia.


Bangunan di kota tua

Umurnya sudah ratusan tahun

Jembatan tua di atas anak sungai Thu Bon


Jam 9 pagi kendaraan dan pemandu sudah siap mengantarku pergi.  Berdasarkan itinerary, hari ini aku akan dibawa ke beberapa tempat wisata.  Sebelum ke kota tua Hoi An, aku akan diantar ke Linh Ung Pagoda di Son Tra Peninsula. Katanya kuil dan patung Budha disini cukup unik dan sakral bagi orang Vietnam.  Awalnya aku bertanya dalam hati, bukankah aku sudah sering melihat patung-patung Budha di Thailand dan Sri Langka?  Apalagi aku juga barusan melihat patung Budha berukuran besar di Ba Na Hills, terus apa bedanya dengan yang di Hoi An?  Pikir punya pikir, daripada mikir doang dan tidak tahu jawabannya, lebih baik aku ikuti saja saran guide-ku.


Patung Budha


Dalam perjalanan sebelum sampai di pagoda, kami melewati pantai dengan puluhan perahu kecil nelayan yang sedang bersandar.  Dari aromanya yang masuk ke mobil, aku merasakan bau amis yang menyengat hidung.  Tebakanku benar, kata guide, daerah yang kita lintasi sekarang adalah perkampungan nelayan.  Dia mengajakku keluar untuk melihat pantainya yang bersih dan perahu yang berwarna-warni.  Siapa tahu aku ingin berselfi ria disini, katanya.  Dengan halus kutolak ajakannya karena aku tidak kuat dengan bau amis itu.  Kalau dari dalam mobil saja sudah tercium santer, gimana berdekatan langsung dengan sumbernya?  Terlihat juga beberapa aktivitas pembangunan hotel di pinggir pantai, sepertinya daerah ini sedang disiapkan untuk menjadi salah satu objek wisata.  Tapi bagaimana dengan bau amis itu?  Dan juga bagaimana dengan sampah di pinggir jalan sepanjang pantai?  Semuanya memang tidak akan kelihatan kalau kita melihatnya dari seberang bukit.  Fatamorgana.


Kota Hoi An terlihat dari jauh


Setibanya di lokasi, aku memang melihat bangunan pagoda di seberang jalan tempat kami parkir kendaraan. Si guide pribadi malah langsung mengajakku ke arah patung Budha berada.  Kulihat beberapa turis dari Korea kepanasan dengan suhu di Vietnam siang itu.  Ada yang pakai payung, ada juga yang bawa kipas angin wajah yang berukuran kecil.  Namun sebagian besar sepertinya tidak peduli dengan panasnya matahari.  Seakan-akan perhatian semuanya tertuju pada objek-objek menarik disini.


Pagoda Linh Ung


Semua pada berfoto disini


Yang ini kurang diminati turis



Selain patung Budha, ada juga tanaman bonsai yang sengaja ditempatkan di sekitar patung.  Banyak juga yang tertarik dengan kreasi tanaman itu, apalagi dipadukan dengan patung-patung binatang di bawahnya.  Ada yang berumur puluhan tahun dan semua hanya diletakkan begitu saja tanpa pengamanan sedikit pun.  Memang tidak ada tangan-tangan usil memetik daun atau merusak tanaman.  Bisa jadi mereka takut terkena akibatnya bila berbuat buruk di tempat suci.


Kuil di tengah lokasi

Ini juga spot menarik untuk foto

Tanaman bonsai dimana-mana

Dipadukan dengan patung binatang

Umurnya ada yang ratusan tahun, katanya


Kota tua Hoi An merupakan kawasan khusus yang galak dipromosikan Pemerintah Vietnam.  Menurut data pariwisata, sudah 5 juta lebih turis asing yang mengunjungi tempat ini.  Kebanyakan mereka dari Asia seperti China, Korea dan Jepang.  Makanya di bandara Da Nang terlihat beberapa maskapai asing yang terbang langsung dari/ke Da Nang.  Hebat juga, pikirku, kota kecil tetapi punya bandara besar dan ramai oleh maskapai besar.  Bila ingin masuk ke kawasan kota tua ini, kita harus beli tiket masuk terlebih dahulu.  Jangan tanya harga kalau di Vietnam, disini semua lebih murah daripada di Jakarta.


Bale-bale di depan

Silakan nilai sendiri bangunan di kota tua

Sebagian besar masih terawat dengan baik

Tapi sebagian besar sudah beralih fungsi


Semua pengunjung hanya diperbolehkan berjalan kaki, naik becak lokal atau naik sepeda.  Ada juga yang naik motor, tapi kata pemanduku, mereka itu warga setempat yang tinggal di kota tua.  Ya, memang benar, sebagian besar kota tua itu sudah berubah fungsi.  Rumah-rumah atau bangunan kuno yang ada disini sudah beralih menjadi bangunan komersial seperti toko, restaurant, cafe dan lain-lain.  Sayang seribu sayang, feel memasuki kota tua jadi hilang.  Coba kalau mereka mempertahankan bangunan itu seperti dulu lagi atau membatasi area komersial?  Mungkin atmosfer kembali ke jaman dulu akan langsung dirasakan oleh pengunjung.  


Pengunjung lebih cenderung hanya jalan kaki dan lewat begitu saja

Sebagian kecil saja yang berfoto

Pos becak menunggu customer

20 Dollar, harga turis sekali putaran

Pasar rakyat


Seperti yang kukatakan tadi, memang tidak semuanya berubah fungsi, ada sebagian yang dipertahankan seperti rumah tertua disini yang dimiliki oleh Pemerintah lokal dan dijadikan sebagai museum.  Folk Culture Museum namanya.  Di museum yang dibuka pada tanggal 24 Maret 2005 ini kita bisa melihat 490 artifacts yang menceritakan sejarah perkembangan peradaban masyarakat setempat misalnya bagaimana mereka bercocok tanam, membuat pakaian, dan lain-lain.


Pintu depan Folk Culture Museum

Pintu belakang Folk Culture Museum

Kaligrafi Vietnam

Perahu nelayan

Alat pemintal benang

Jas hujan

Teh tradisional


Namun kalau kita kurang menyukai bangunan kuno, kita dapat menelusuri sungai Thu Bon dengan perahu nelayan.  Tapi kalau boleh jujur, tidak ada yang menarik dengan river cruise ini karena air sungainya coklat, tidak jernih dan pemandangan di sekitar sungai sama sekali kurang enak dilihat.  


Sang nahkoda

Berderet perahu nelayan di dermaga sungai

Meninggalkan dermaga

Air sungai kecoklatan

Ada resort yang menjadikan sungai sebagai 'view'

Menuju ke jembatan


Tempat yang paling dituju oleh turis asing adalah Covered Bridge atau Japanese Bridge, jembatan kecil yang dibangun di awal abad 17 Masehi oleh komunitas warga Jepang yang berdiam di daerah ini untuk berbisnis.  Jembatan ini berfungsi untuk menyatukan area pemukiman warga Jepang dengan area komersial yang didominasi oleh warga Cina dan lokal Vietnam.  Setelah warga Jepang meninggalkan area ini, warga Cina dan lokal melakukan restorasi jembatan dan menambahkan beberapa ornamen tradisi Tiongkok dan Vietnam.  Alhasil jembatan ini menjadi cerminan perpaduan seni Jepang, Cina dan Vietnam.  Kalau aku antara kagum dan heran melihat jembatan ini.  Kagum karena bangunan yang kecil tidak sarat dengan sejarah dan biasa-biasa saja bisa menarik perhatian dunia dan mendatangkan devisa bagi negara.  Dan herannya, kali kecil di bawah jembatan itu jorok, tidak bersih.  Juga hawa di dalam jembatan itu panas dan pengab oleh manusia, tapi anehnya semua orang ingin datang kesini.


Lihat jembatan kecil di kali itu

Bagian dalam jembatan

Tempat sembahyang di tengah jembatan

Turis asing pada tidak kuat dengan panasnya

Foto jadul jembatan Jepang

Patung Dewa Monyet di dalam gerbang


Masih seperti jembatan Jepang itu, guide mengajakku masuk ke Chinese Assembly Hall.  Katanya, rumah ini dulunya milik saudagar terkaya di Hoi An dan kerap menjadikan rumahnya sebagai tempat pertemuan.  Maklum saja, di jamannya, bangunan sebesar itu sudah menjadi bangunan yang paling megah saat itu.  Apalagi beberapa bagian bangunan menggunakan material batu, semen, yang jarang digunakan oleh orang-orang miskin.  Dan di dalam rumah itu pun masih tersimpan benda-benda bersejarah berupa peralatan rumah tangga yang mahal harganya.  Tapi yang jadi masalah dan membuatku enggan berlama-lama disini adalah tempatnya yang terlalu sempit untuk menampung puluhan turis yang datang.  Udara menjadi pengab dan panas.  Apalagi turis Cina yang selalu berisik, tidak pernah bisa pelan kalau berbicara.  Pemandu lokal tempat itu pun terlihat kecapaian dan terburu-buru menjelaskan sejarah dari rumah ini.  


Tampak dari luar

Ranjang

Turis Cina yang super berisik memadati bagian tengah ruangan


Peninggalan si saudagar kaya itu


Ada tempat yang lebih menarik dan nyaman untuk dikunjungi yaitu kuil kuno satu-satunya yang ada di kota tua.  Kalau dari luar, sebenarnya tidak terlalu istimewa bentuknya, tapi kata guide-ku, kuil ini banyak meninggalkan sejarah komunitas Cina yang sangat menjunjung tinggi dewi, bukan dewa.  Terbukti di dalam kuil ini ditempatkan di bagian tengah, sebuah patung seorang dewi. Hanya karena sudah kepanasan dari tadi dan badan sudah lengket semua karena keringat, aku jadi kurang memperhatikan penjelasan guide-ku.  Aku lebih cenderung berteduh di tempat ini dan mengambil gambar beberapa bagian.


Tempat beli tiket masuk

Gerbang depan

Kuil tampak depan

Lukisan di dalam kuil

Bagian tengah kuil

Lihat patung dewi di bagian tengah itu

Tempat berdoa di bagian belakang gedung


Kalau aku lebih menyukai tempat makannya alias restaurant tempatku bersantap siang dan malam.  Disamping tempatnya teduh, nyaman karena ber-AC atau kipas angin, makanan yang disajikan juga enak banget, khususnya salad sebagai makanan pembuka.  Sangat fresh dan enak.  Makan siang aku di Tam Tam restaurant sedangkan makan malam di Morning Glory.  


Tam Tam-1

Tam Tam-2

Morning Glory-1

Morning Glory-2

Morning Glory-3

Morning Glory-4


Untungnya di kedua restaurant itu, saladnya hampir sama bentuk dan rasanya.  Hanya berbeda di variasi appetizer-nya saja.  Namun aku merasa lebih nyaman di Morning Glory karena pelayannya lebih ramah, cekatan dan informatif. 


Salad yang penuh herbal, sehat dan menyegarkan

Sup ikan melengkapi makanan pembuka


Bagi yang menyukai kerajinan tenun sutra, di kota tua ini terdapat beberapa tempat kerajinan tersebut.  Tidak hanya produk-produk yang dijual saja, tetapi tempat ini sekaligus menjadi workshop bagi pekerja pembuat produk itu.  Maksudnya disini kita bisa melihat bagaimana mereka dengan trampil mengolah kain sutra menjadi produk yang mempunyai nilai jual seperti lukisan, seprei, sarung bantal, taplak meja, dan lain-lain.  Bahkan kita juga bisa melihat bagaimana mereka membuat kain tenun dari ulat sutra.  Pegang kepompong dan ulat sutra yang masih hidup pun bisa.


Bangunan home industry kerajinan sutra

Mau tahu apa yang ada di tampah itu?

Ulat sutra hidup, berani pegang?

Kepompong yang siap untuk dipintal

Mesin pintal jadul

Sudah menjadi benang, siap untuk ditenun menjadi kain

Pekerja kain sutra


Jujur saja, rasa-rasanya cukup 1 kali saja aku mengunjungi kota tua ini.  Katakanlah sekadar tahu dan menjadi tambahan di catatan perjalananku.  Kalau disuruh memilih, aku lebih suka ke Ba Na Hills daripada ke Hoi An.  Makanya bagi yang belum pernah ke sini, semoga informasi ini bermanfaat bagi anda yang ingin memutuskan kemana mau pergi.