Jumat, 15 September 2017

Belitung, Negeri Laskar Pelangi Yang Menawan Hati

Pucuk dicinta ulam pun tiba, sungguh bahagia yang tiada terhingga, akhirnya aku dapat mengunjungi Pulau Belitung di Sumatera.  Aku memang terpesona dengan film 'Laskar Pelangi' karya Andrea Hirata yang sempat booming di tahun 80-an.  Semua pemirsa Indonesia termasuk aku dibuat kagum oleh karya anak bangsa ini yang membawa cerita lain di bidang sinema yang saat itu dibanjiri oleh film-film horor kacangan dan roman picisan.  Laskar Pelangi menyentuh sisi kehidupan jujur anak manusia di Belitong  (di pulau ini selalu tertulis Belitong, bukan Belitung).  Bukan ceritanya saja yang menarik, menyentuh hati pemirsa, tetapi keindahan alam Belitong dikuak habis oleh sang sutradara.  Jadinya semua orang pengin kesana.  Semua orang ingin menjadi saksi hidup keindahan alam khususnya pantai di Belitong.  Meskipun terlambat, aku akhirnya sampai juga disini dan siap berbagi cerita dengan kalian semua.


Selamat datang di Belitong, bukan Belitung

Ini yang dituju semua wisatawan


Pesawat Nam Air mendarat dengan selamat di Bandara Hanandjoeddin.  Kondisi permukaan landasan pacu yang kurang mulus sangat terasa bagi semua penumpang di pesawat Boeing 737 itu.  Mungkin hal ini perlu mendapat perhatian Pemerintah Daerah untuk membuat salah satu prasarana inti bandara ini menjadi lebih baik, termasuk terminalnya.  Sangat kecil, hanya memiliki 1 conveyor belt pengambilan bagasi dan memiliki area parkir kendaraan yang tidak luas.  Namun, mereka pandai menempatkan 1 spot foto yang menjadi idola penumpang yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Belitong.  


1 conveyor belt pengambilan bagasi
Sangat kecil areanya
Untungnya tidak terlalu lama menunggu bagasi


Ini spot idola penumpang
Terminal kedatangan
Area parkir kendaraan




Karena belum sempat sarapan di Jakarta, setibanya pagi hari di Belitong langsung menuju rumah makan mie Atep yang kabarnya super enak dan ngetop disini.  Restaurant ini lebih mirip seperti tempat kondangan.  Meja kursi dibalut dengan kain dan diberi pita seperti kalau kita diundang di acara perkawinan.  Tapi mie Atep memang enak, pas banget dilidahku.  Kuahnya agak kental kayak kare, ada potongan dadu kecil kentang, udang, irisan mentimun lalu emping melinjo.  Untuk melengkapi makan mie Atep, kita harus mencoba minum jeruk kunci.  Rasanya fresh banget, bikin mata melek, cocok untuk mengawali hari.  Tapi bagi yang sakit maag, sebaiknya jangan minum ini karena rasa asamnya tinggi banget.


Mirip acara kondangan kan?

Ternyata table manner disini memang seperti ini

Ini dia, mie Atep dan minuman jeruk kunci


Penduduk Belitong bervariasi keyakinannya, namun mereka hidup dengan harmonis disini.  Rasa saling menghargai, tenggang rasa yang tinggi membuat pulau ini terkesan damai dan tenang.  Bahkan orang-orang lokal yang kutemui mengatakan hal yang sama bahwa tingkat kriminalitas disini sangat rendah.  Artinya penduduk hidup dengan baik, tidak terlalu konsumtif dan tidak ingin merugikan orang lain.  Salah satu bentuk perdamaian di pulau ini adalah keberadaan beberapa tempat ibadah dari para penganut yang berbeda keyakinan.  Vihara Dewi Kwan-Im yang kukunjungi juga sekaligus melihat patung Dewi Kwan-Im yang super besar itu.  Sebenarnya patung ini belum dibuka secara resmi karena di beberapa bagian terlihat belum selesai, tapi pengunjung diperbolehkan memasuki area patung dan mengambil gambarnya.


Fasad depan vihara

Mendekati tempat sembahyang

Tempat sembahyang

Tangga menuju patung

Patung Dewi Kwan Im


Terobsesi oleh cerita film Laskar Pelangi, rasanya kita ingin melihat semua lokasi yang digunakan dalam film itu.  Salah satunya sekolah dasar atau SD Gantong.  Aku memang datang dan melihat dengan mata kepalaku sendiri bangunan SD yang persis ada dalam film.  Ternyata itu hanya replika-nya saja.  SD Gantong yang asli memang ada, tetapi tidak di lokasi syuting Laskar Pelangi.  Mungkin karena kondisinya sekarang sudah berubah, jadi kurang layak untuk menggambarkan kondisi SD saat itu.


Replika sekolah SD Gantong

Ingat film Laskar Pelangi kan?

Diresmikan oleh Menteri

Tulisan ini pasti teringat oleh kita


Di seberang jalan tempat replika SD Gantong, terdapat tempat wisata yang unik yaitu River Tour.  Ya, disini menyediakan wisata keliling sungai dengan perahu kecil.  Yang menarik perhatianku justru bangunan di dermaga sungai itu.  Shelter terbuat dari rotan itu unik bentuknya dan cocok untuk diabadikan.  Sayangnya, aku tidak bisa berlama-lama disini karena hujan turun dengan derasnya.  Shelter rotan itu tidak dapat menahan derasnya hujan.  Rongga-rongga di setiap rajutan rotan membuat air hujan dengan mudah menerobos atap shelter.  Daripada basah kuyup, aku segera menuju mobil dan beralih ke tujuan yang lain.


Jalan menuju River Tour

Bangunan unik di dermaga

Dermaga sungai

Spot yang bagus untuk berfoto

Shelter rotan


Rehat sebentar di Pantai Burung Mandi rasanya pas saat kita butuh recharging tenaga sekaligus menikmati pemandangan indah.  Deru ombak pantai dan hembusan angin di rimbunan pohon kelapa menambah harmonis suasana.  Perahu nelayan yang berwarna-warni diatas pasir pantai membuat tempat ini semakin menarik.  Meskipun hanya sebentar sambil menikmati sebatok kelapa muda, aku dapat merasakan kedamaian, kesejukan, dan ketenangan disini.


Pantai Burung Mandi (PBM)

PBM-1

PBM-2

Pengunjung sedang menikmati 'kursi malas'


Belitung kaya akan pantai-pantai indahnya.  Sebagian memang dipopulerkan oleh film Laskar Pelangi yang mengambil shooting langsung disini.  Namun itu hanya sebagian.  Masing-masing pantai punya sisi yang menarik, namun bisa dikatakan semuanya punya ciri khas yang sama yaitu terbentuk dari batu granit dalam (plutonik) yang mempunyai kristal-kristal kasar, terjadi dari hasil pembekuan magma berkomposisi asam pada kedalaman tertentu dari permukaan bumi.  Dan yang sekarang aku kunjungi adalah pantai Tanjung Kelayang yang memiliki pulau-pulau batu granit.  Speedboat kecil dengan kapasitas 20 orang melaju perlahan menuju Pulau Pasir.


Pantai Tanjung Kelayang

Area depan PTK

Speedboat kecil siap di bibir pantai

Pulau kecil-1


Pulau kecil-2


Awalnya aku kira Pulau Pasir itu hanya sekadar nama pulau yang memiliki pantai berpasir, tetapi ternyata, pulau ini benar-benar hanya berupa gundukan pasir di tengah lautan.  Ukurannya tidak begitu luas.  Kira-kira 5x50 meter, menurut perhitunganku karena perahu ataupun speedboat pasti akan 'stuck' di atas pasir itu.  Kata guide-ku, bersyukur kita datang di saat sedang surut, karena kalau sedang pasang tinggi, pulau pasir ini akan tenggelam ditelan ombak.  Menakjubkan, baru kali ini aku temui pulau yang super unik ini.  Alhasil kalau kita berfoto disini, kita terlihat seperti berada di tengah lautan.  Keren kan?


Pulau Pasir di tengah lautan

Perahu hanya sekadar disandarkan

Unik dan menarik


Sederetan pulau-pulau kecil sangat menarik perhatian,  Tidak sedikit yang hanya berupa tumpukan bongkahan batu granit berukuran besar.  Ada yang sebagian ditumbuhi tanaman-tanaman perdu, sebagian lagi hanya terlihat polos seperti aslinya.  Pulau-pulau kecil lainnya ada yang berpenghuni, tapi sebagian besar tidak berpenduduk sama sekali.  Katanya pulau ini sering menjadi tempat pemotretan komersial seperti iklan, film dan sebagainya.  Tapi tidak jarang juga menjadi tempat pemotretan pre-wedding.


Pulau-1

Pulau-2

Pulau-3

Pulau-4


Ada satu pulau yang menjadi tujuan semua wisatawan.  Satu-satunya pulau yang memiliki mercu suar dan pulau ini juga memiliki alam bawah lautnya yang super menawan.  Makanya, para wisatawan tidak pernah melewatkan diri untuk menikmati keindahan alam itu dengan ber-snorkeling.


Pulau Mercu Suar

Batu-batu granit 

Mercu suar terlihat megah

Bertumpuk rapi membentuk keindahan tersendiri

Ditengah-tengah tumpukan batu


Aku benar-benar tercengang kagum saat speedboat berhenti untuk mengantar penumpang yang sedang snorkeling.  Biasanya kita akan berhenti di area laut yang tenang, tidak dalam atau dari atas sudah terlihat coral-coral atau batu-batu karang bawah laut.  Bisa jadi kita juga melihat ikan hilir mudik di dalam laut.  Tetapi disini lain,  ikan-ikan itu menghampiri kita.  Mereka tidak takut dengan manusia.  Sepertinya mereka sudah terbiasa dengan manusia.  Ikan-ikan itu seperti sudah terlatih untuk mendekati manusia dan meminta belas kasihan untuk memberikan makan seperti biskuit atau remah-remah roti.  Yang sangat disayangkan, aku lihat penumpang di speedboat sebelahku malah berteriak kegirangan mengambil ikan-ikan itu dan menaruhnya ke dalam kantong plastik.


Ikan-ikan menunggu diberi makan

Tidak takut manusia

Snorkeling-1

Snorkeling-2

Snorkeling-3


Berkunjung ke Belitong belumlah lengkap kalau tidak mengunjungi Pantai Laskar Pelangi di Tanjung Tinggi.  Keindahan pantai ini menarik perhatian produser film Laskar Pelangi dan hasilnya luar biasa, perhatian penonton film langsung tertuju pada pantai ini.  Film Laskar Pelangi berhasil mempopulerkan pantai ini.  Setiap sudut dieksplor dengan baik seperti iklan tersembunyi.  Dikemas apik, sehingga penonton bertanya-tanya dimana pantai itu berada.  Kebanyakan tidak sabar ingin melihat sendiri keindahan pantai Tanjung Tinggi.   Upaya produser menggarap film di lokasi ini pada tahun 1980 akhirnya menorehkan prestasi dan kesan tersendiri bagi Pemerintah Daerah Belitong.  Akibatnya, Pantai ini diberi nama Pantai Laskar Pelangi.


Sisi kanan pantai

Tidak begitu banyak batu granitnya

Peresmian pantai Laskar Pelangi

Batu-batu besar

Sudah menyambut di bagian depan

Pantai sisi kiri


Yang menarik dari Pantai Laskar Pelangi ini terletak pada batu-batu granit di sepanjang pantai.  Bentuknya berbeda-beda, ada yang mirip kodok, ada juga yang mirip burung.  Tata letak yang teratur rapi ini membuat batu-batu granit seolah-olah diatur oleh manusia, padahal itu murni kreasi alam atau Sang Pencipta.  Pasir putih dan air laut berwarna hijau menambah poin positif bagi pantai ini.


Pantai Laskar Pelangi (PLK)

PLK-1

PLK-2

PLK-4

PLK-5

PLK-6

PLK-7


Disamping wisata pantai, kalau berkunjung ke Belitong, tidak ada salahnya mencoba produk minuman Kong Djie.  Yang ngetop sih kopinya yang memiliki beberapa varian, kopi O atau tanpa campuran, dan kopi susu.  Tapi Kong Djie juga punya minuman coklat yang ga kalah enaknya.  Mau dihidangkan panas-panas atau dingin pun tetap enak.  Bahkan kita tidak perlu menaruh gula di dalamnya karena menurutku rasanya sudah cukup manis.  Sangat mudah menemukan kedai kopi Kong Djie di Belitong.  Bahkan sekarang sudah dijual franchise di luar Belitong termasuk di Jakarta.


Lihat teko-teko unik itu

Bentuknya sederhana, tapi rasanya luar biasa


Meskipun sekarang Belitong sudah banyak didatangi wisatawan dalam dan luar negeri, namun menurutku masih ada yang kurang disini.  Hotel.  Rasanya masih sulit menemukan hotel yang representatif disini.  Maksudnya yang siap menampung tamu dalam jumlah besar, berlokasi di tempat strategis atau punya view yang bagus, serta memiliki fasilitas berstandar Internasional. Untungnya aku dapat menginap di satu-satunya hotel bagus disini yaitu BW Hotel yang dulunya dikelola oleh Aston.


Hotel-1

Hotel-2

Hotel-3

Hotel-4
Hotel-5


Aku bisa mengatakan bahwa pantai-pantai di Belitong lebih bagus daripada di Maldives.  Pemda hanya perlu mempertahankan kebersihan dan keindahan area sekitar pantai agar tidak dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.  Selanjutnya sudah barang tentu diperlukan promosi ke luar negeri untuk dapat menjaring wisatawan manca negara lebih banyak.

Kamis, 14 September 2017

The Pallas, Perpaduan Rasa dan Gaya Hidup Ibukota

Lama sekali aku tidak mengulas wisata kuliner khusus di blog-ku.  Meskipun tidak vakum total, aku cenderung menggabungan wisata mata dan wisata rasa.  Maksudnya, dalam satu topik, aku tidak hanya cerita apa dan bagaimana pengalamanku saat mengunjungi tempat wisata dan seluk beluk aktivitas serta hotel tempatku menginap, tetapi tidak jarang kuselipkan cerita mengenai apa dan bagaimana rasa makanan yang kusantap selama perjalanan plus informasi tentang tempat makannya.  Biasanya aku sajikan khusus acara makan-makan bila lokasi makan itu di Jakarta, karena kalau lokasinya di luar ibukota, sudah barang tentu kecil kemungkinan kalau aku jauh-jauh datang ke daerah itu hanya untuk makan.  Makanya, restaurant atau makan bukan menjadi prioritas utama dalam perjalananku.


Remang-remang tetapi tidak menyeramkan

Sisi samping ruangan


Kali ini aku ingin berbagi cerita tentang The Pallas.  Restaurant yang berada di kawasan bisnis SCBD Jakarta Selatan ini tidak terlalu menonjol kelihatan dari luar karena bergabung atau berada dalam satu gedung dengan tempat makan-tempat makan yang lain.  Fairground building nama gedung itu sesuai yang tertulis dalam alamatnya.  Check point untuk menuju ke tempat ini adalah Pacific Place (PP).  Jadi kalau sudah ketemu PP, maka kita dengan mudah untuk menemukan The Pallas.  Tempat parkir kendaraan tersedia terbatas di area basement.  Kalau melihat begitu banyaknya tempat makan di gedung itu, maka perlu difikirkan baik-baik bila ingin makan bersama dengan membawa mobil masing-masing.


Elegan dan terkesan megah

Partisi


Kesan mewah mulai terlihat saat petugas di depan membukakan pintu.  Lorong menuju tempat makan dihiasi dengan lilin-lilin imitasi tetapi tidak mengurangi kesan fancy.  Surprise kita dibuatnya saat memasuki area makan yang sebenarnya.  Sangat luas dan megah.  Design interior bergaya old colonial dengan langit-langit dan pilar-pilar yang tinggi.  Lampu-lampu kristal bergelantungan di kedua sisi menambah kesan megah tempat ini.  Sedangkan meja kursi dibuat berlainan di masing-masing area, mungkin sebagai batas atau pertanda perbedaan fungsi dan tidak harus menggunakan partisi.  Yang paling unik adalah kamuflase lemari di dinding sebelah kanan yang sepintas lalu terlihat seperti hanya sebuah lemari, tetapi sebenarnya itu adalah partisi ke dapur.  Brilliant.


Lorong pintu masuk ke area utama

Bar di tengah-tengah gedung

Yang tidak kalah menariknya adalah panggung besar di ujung tengah ruangan.  Bukan karena ada piano di atas panggung, melainkan dinding panggung yang terbuat dari layar presentasi.  Kalau kita amati dengan baik, background panggung itu jadi berubah-ubah.  Kenapa?  Karena background layar di-setting oleh pengelola restaurant.  Mungkin seperti kita sedang presentasi, kita bisa atur background-nya.


Panggung dengan background screen yang bisa berubah-ubah

Wine corner


Menu yang kupilih siang itu paket East Nusantara yang terdiri dari coto makasar, ayam rica, pampis cakalang, kerang bamboo woku belanga, sup kuah asam, udang garo rica, daging tuturuga, sayur acar kuning, konro bakar dan perkedel jagung.  Masih dalam paket itu, mereka memberikan 4 sampler sambal, sambal ijo, dabu-dabu, colo-colo dan sambal tomat.  Porsinya pas, rasanya pun luar biasa.  Coto Makasarnya cocok sebagai makanan pembuka, segar dan hangat.  Ayam ricanya tidak kalah enaknya, juicy dan lumayan pedas.  Sup kuah asam mengimbangi rasa pedas ayam rica.  Lidah kita dihibur dengan variasi rasa.  Dan yang paling berkesan adalah daging tuturuga.  Gila, lembut banget tuh daging, berasa lumer di mulut.  


Udang garo rica dan konro

3 macam nasi

Paket East Nusantara


Urusan harga, jangan khawatir, murah banget untuk ukuran Jakarta dan mempertimbangkan tempat dan service yang diberikan.  Pelayan restaurant ini sangat ramah dan sangat membantu memberikan rekomendasi makanan apa yang tepat bagi kita dan yang sesuai dengan keinginan kita.  So, jangan tunggu lagi, buruan datang dan buktikan sendiri kelezatannya.



Senin, 11 September 2017

Sensasi Puncak Becici dan Merapi


Adalah perusahaan ditempatku bekerja mengadakan acara jalan-jalan ke Yogyakarta sebagai agenda puncak dari rapat kerja teknis salah satu direktorat.  Kami mengunjungi beberapa tempat wisata dan menjelajahi kulineri makanan Jogja.  Namun aku hanya menampilkan acara yang penuh sensasi saja yaitu saat mengunjungi Puncak Becici dan bersafari jeep ke puncak Merapi.  Kenapa Puncak Becici? Karena menurutku ini seperti sudah menjadi tren wisata saat ini.  Orang masih senang bernarsis diri mengambil gambar dengan background menantang.  Maksudnya, mereka tidak hanya sekadar mengabadikan pemandangan, tetapi mereka ingin yang sedikit menantang untuk mendapatkan latar belakang yang menawan itu.  Terkadang mereka harus berdiri di pinggir jurang atau berada di ketinggian.  Jadilah, beberapa tempat sekarang menyajikan spot-spot foto yang sedikit adu nyali, termasuk di Puncak Becici.


Gubuk di atas tebing


Lumayan jauh menuju Puncak Becici dari hotel tempatku menginap.  Tiba di lokasi menggunakan bus ternyata punya cerita tersendiri.  Tempat parkir terbatas dan berupa tanah diatas permukaan yang mempunyai sempadan curam.  Space yang tersedia membuat manuver bus berbahaya bila sang sopir tidak hati-hati mengendalikan stir.  Bisa-bisa bus jatuh terguling ke bawah.


Persis di atas jurang
Yang takut ketinggian jangan mencoba yang satu ini


Beberapa spot foto menarik ada disini.  Mulai dari bersifat romantis dan aman lokasinya sampai dengan yang berisiko dan bikin hati miris.  Hanya satu hal yang membuat kurang nyaman disini, ternyata hawanya panas banget.  Meskipun berada di dataran tinggi dan rimbun oleh pokok pinus, tidak jaminan kita merasakan kesejukan alam di sepanjang area.  Malah sebaliknya, terik matahari berasa banget menerpa tubuh kita.  Semakin kita naik ke puncak, suhu semakin tinggi alias panasss.


Romantis, tidak perlu miris
Sedikit menantang nyali


Selain Puncak Becici, ada satu tempat lagi yang lumayan berkesan bagiku selama perjalanan di Yogya yaitu jeep tour ke puncak Merapi. Jiwa adventure sepertinya terpuaskan disini.  Pas banget aku dapat jeep willis dengan tampilan bak tentara Amerika di Perang Dunia ke-2.  Warnanya hijau army, benar-benar gagah kalau naik mobil ini.  Masker dibagikan kepada seluruh peserta karena kita akan melalui medan berdebu.  Makanya, semua peserta disarankan menggunakan kacamata juga. 


Jeep tour-1
Jeep tour-2
Jeep tour-3
Jeep tour-4
Jeep tour-5
Jeep tour-6



Bisa dikatakan di sepanjang perjalanan, kita akan digoncang terus oleh jeep ini.  Memang medan lumayan ekstrim, penuh dengan batu-batu cadas, lobang, sempit dan berdebu.  Untungnya semua sopir jeep sudah familiar dan cenderung tersenyum bila melihat peserta teriak karena guncangan keras.  Terkadang malah terlihat sang sopir cenderung memilih jalan yang menantang.  Semakin banyak guncangan semakin menarik, pikir mereka.


Rombongan berpose 

Merapi yang masih aktif

Semua ceria


Spot yang menarik disini adalah batu aliens, bongkahan super besar yang keluar dari gunung dan terbawa lava ke lembah.  Terbayang betapa dasyatnya semburan lava gunung Merapi sehingga bisa melontarkan batu sebesar itu.  Tak terbayang batu sebesar itu menimpa perumahan penduduk di lereng gunung.  Semua luluh lantah diterjang lahar panas dan batu-batu besar.  Jejak-jejak korban bencana dapat kita lihat di museum swadaya masyarakat yang terlihat kurang dirawat oleh Pemerintah Daerah.


Batu besar yang keluar bersama letusan Merapi


Rumah peninggalan penduduk korban Merapi menjadi saksi bisu kisah sedih yang mengenaskan hati.  Sejatinya tidak banyak yang bisa dilihat lagi bukti keganasan bencana alam itu.  Kalaupun ada yang tersisa, itu merupakan bagian yang tidak terlalu parah kena aliran lahar ataupun udara panas gunung Merapi.  Sebagian besar luluh lantah diterjang ombak lahar panas.  Bahkan jalan-jalan aspal di area pemukiman dibiarkan terkoyak hancur  dilibas lava.


Museum unik bukti korban bencana Merapi
Sampai sapi pun tinggal tulang belulang
Bukti murka sang alam
Ini juga
Bukti kejadian bencana 5 November 2010
Semua tinggal kenangan



Kisah pilu itu berlanjut saat kita mengunjungi bunker tempat berlindung warga dari bencana.  Disini malah terjadi cerita sedih meninggalnya orang yang katanya berprofesi sebagai wartawan di tempat yang seharusnya menjadi tempat aman dari bencana.  Artinya alam benar-benar murka dan tak kenal itu siapa.  Apapun mendapat ‘jatah’ dihampiri dan ketiban bencana.


Bunker di lereng Merapi

Isi di dalam bunker

Kondisi di atas bunker

Foto bunker sebelum dan sesudah bencana


Bila di artikel pertamaku tentang Jogja, perjalananku lebih cenderung mengulas tentang kekayaan wisata kuliner kota ini karena memang Jogja memiliki banyak tempat untuk memuaskan ‘kampung tengah’ kita.  Bahkan hampir sepanjang jalan selalu terdapat warung atau rumah makan.  Namun, seperti biasa, aku tidak mungkin mengulas tentang makanan atau rumah makan yang tidak asli atau menggambarkan budaya dan kehidupan sebenarnya penduduk lokal.  Misalnya, tidak mungkin aku menceritakan kenikmatan makan spaghetti di Jogja, karena spaghetti bukanlah makanan asli Jogja, kecuali warga setempat dapat menyajikan sesuatu yang berbeda dari sebuah spaghetti atau mengemasnya dalam perpaduan antara tradisi kuliner Itali dan Jogja.   Nah, ada yang layak aku tampilkan dalam blog-ku ini yang benar-benar khas Jogja yaitu kopi klotok.  Tempatnya lumayan jauh dari bandara dan bus tidak dapat masuk ke lokasi.  Kita terpaksa jalan kaki menuju rumah makan tradisional bergaya joglo.  Sesampai di lokasi pun aku dibuat terkagum-kagum dengan suasana di dalam rumah makan itu.  Pengelola kopi klotok membuat kita serasa memasuki dapur atau rumah penduduk biasa.  Meja kursi gaya rumahan, bahkan gelas dan piring makan pun bergaya rumahan penduduk lokal.  Area sekitar rumah makan ditanami padi dan beberapa tanaman umbi-umbian.  Unik dan menarik, cocok untuk wisatawan apalagi turis asing yang ingin mengenal lebih dalam kehidupan masyarakat setempat. 


Serasa kita di dapur penduduk lokal

Pemandangan di belakang rumah makan

Telur dadar yang unik dan lezat


Hotel tempatku menginap sudah ditentukan oleh panitia.  Swiss Belhotel yang berlokasi di tengah kota Jogja.  Kesan pertama lumayan bagus.  Lobby meski tidak luas, tetapi ditata dengan rapi dan menarik.  Staff hotel sangat ramah dan santun menyapa tamu.  Kamar tidur bergaya minimalis, bersih dan rapi.  Tetapi saat malam hari, masalah muncul.  Aku yang mendapat kamar di lantai 9 dibuat sulit tidur karena suara musik di bar yang ada di lantai 10 sangat mengganggu.  Bukan saja suara musik yang tidak diredam oleh pengelola hotel, tetapi dentuman musik terasa seperti ada gempa.  Benar-benar mengecewakan. 


Hotel-1

Hotel-2

Hotel-3

Hotel-4


Jadi perjalanan ke Jogja kali ini berbeda, lebih ber’’variasi’’.  Ada suka dan duka.  Untungnya masih banyak sukanya.  Maklum, kalau perjalanan di-arranged oleh orang lain dan tidak melibatkan kita dalam pengambilan keputusan, artinya kita harus siap untuk kecewa.  Rasanya panitia perlu belajar mengatur perjalanan dari orang-orang yang sudah malang melintang di banyak kota dan negara atau yang berpengalaman dalam acara jalan-jalan.  Apapun itu, memang benar kata orang bijak, lebih baik kita jalan sendiri, pakai uang sendiri dan bebas menentukan apa mau kita sendiri.  Bukan kah jalan-jalan itu tujuannya untuk mencari kesenangan?