Kamis, 14 September 2017

The Pallas, Perpaduan Rasa dan Gaya Hidup Ibukota

Lama sekali aku tidak mengulas wisata kuliner khusus di blog-ku.  Meskipun tidak vakum total, aku cenderung menggabungan wisata mata dan wisata rasa.  Maksudnya, dalam satu topik, aku tidak hanya cerita apa dan bagaimana pengalamanku saat mengunjungi tempat wisata dan seluk beluk aktivitas serta hotel tempatku menginap, tetapi tidak jarang kuselipkan cerita mengenai apa dan bagaimana rasa makanan yang kusantap selama perjalanan plus informasi tentang tempat makannya.  Biasanya aku sajikan khusus acara makan-makan bila lokasi makan itu di Jakarta, karena kalau lokasinya di luar ibukota, sudah barang tentu kecil kemungkinan kalau aku jauh-jauh datang ke daerah itu hanya untuk makan.  Makanya, restaurant atau makan bukan menjadi prioritas utama dalam perjalananku.


Remang-remang tetapi tidak menyeramkan

Sisi samping ruangan


Kali ini aku ingin berbagi cerita tentang The Pallas.  Restaurant yang berada di kawasan bisnis SCBD Jakarta Selatan ini tidak terlalu menonjol kelihatan dari luar karena bergabung atau berada dalam satu gedung dengan tempat makan-tempat makan yang lain.  Fairground building nama gedung itu sesuai yang tertulis dalam alamatnya.  Check point untuk menuju ke tempat ini adalah Pacific Place (PP).  Jadi kalau sudah ketemu PP, maka kita dengan mudah untuk menemukan The Pallas.  Tempat parkir kendaraan tersedia terbatas di area basement.  Kalau melihat begitu banyaknya tempat makan di gedung itu, maka perlu difikirkan baik-baik bila ingin makan bersama dengan membawa mobil masing-masing.


Elegan dan terkesan megah

Partisi


Kesan mewah mulai terlihat saat petugas di depan membukakan pintu.  Lorong menuju tempat makan dihiasi dengan lilin-lilin imitasi tetapi tidak mengurangi kesan fancy.  Surprise kita dibuatnya saat memasuki area makan yang sebenarnya.  Sangat luas dan megah.  Design interior bergaya old colonial dengan langit-langit dan pilar-pilar yang tinggi.  Lampu-lampu kristal bergelantungan di kedua sisi menambah kesan megah tempat ini.  Sedangkan meja kursi dibuat berlainan di masing-masing area, mungkin sebagai batas atau pertanda perbedaan fungsi dan tidak harus menggunakan partisi.  Yang paling unik adalah kamuflase lemari di dinding sebelah kanan yang sepintas lalu terlihat seperti hanya sebuah lemari, tetapi sebenarnya itu adalah partisi ke dapur.  Brilliant.


Lorong pintu masuk ke area utama

Bar di tengah-tengah gedung

Yang tidak kalah menariknya adalah panggung besar di ujung tengah ruangan.  Bukan karena ada piano di atas panggung, melainkan dinding panggung yang terbuat dari layar presentasi.  Kalau kita amati dengan baik, background panggung itu jadi berubah-ubah.  Kenapa?  Karena background layar di-setting oleh pengelola restaurant.  Mungkin seperti kita sedang presentasi, kita bisa atur background-nya.


Panggung dengan background screen yang bisa berubah-ubah

Wine corner


Menu yang kupilih siang itu paket East Nusantara yang terdiri dari coto makasar, ayam rica, pampis cakalang, kerang bamboo woku belanga, sup kuah asam, udang garo rica, daging tuturuga, sayur acar kuning, konro bakar dan perkedel jagung.  Masih dalam paket itu, mereka memberikan 4 sampler sambal, sambal ijo, dabu-dabu, colo-colo dan sambal tomat.  Porsinya pas, rasanya pun luar biasa.  Coto Makasarnya cocok sebagai makanan pembuka, segar dan hangat.  Ayam ricanya tidak kalah enaknya, juicy dan lumayan pedas.  Sup kuah asam mengimbangi rasa pedas ayam rica.  Lidah kita dihibur dengan variasi rasa.  Dan yang paling berkesan adalah daging tuturuga.  Gila, lembut banget tuh daging, berasa lumer di mulut.  


Udang garo rica dan konro

3 macam nasi

Paket East Nusantara


Urusan harga, jangan khawatir, murah banget untuk ukuran Jakarta dan mempertimbangkan tempat dan service yang diberikan.  Pelayan restaurant ini sangat ramah dan sangat membantu memberikan rekomendasi makanan apa yang tepat bagi kita dan yang sesuai dengan keinginan kita.  So, jangan tunggu lagi, buruan datang dan buktikan sendiri kelezatannya.



Senin, 11 September 2017

Sensasi Puncak Becici dan Merapi


Adalah perusahaan ditempatku bekerja mengadakan acara jalan-jalan ke Yogyakarta sebagai agenda puncak dari rapat kerja teknis salah satu direktorat.  Kami mengunjungi beberapa tempat wisata dan menjelajahi kulineri makanan Jogja.  Namun aku hanya menampilkan acara yang penuh sensasi saja yaitu saat mengunjungi Puncak Becici dan bersafari jeep ke puncak Merapi.  Kenapa Puncak Becici? Karena menurutku ini seperti sudah menjadi tren wisata saat ini.  Orang masih senang bernarsis diri mengambil gambar dengan background menantang.  Maksudnya, mereka tidak hanya sekadar mengabadikan pemandangan, tetapi mereka ingin yang sedikit menantang untuk mendapatkan latar belakang yang menawan itu.  Terkadang mereka harus berdiri di pinggir jurang atau berada di ketinggian.  Jadilah, beberapa tempat sekarang menyajikan spot-spot foto yang sedikit adu nyali, termasuk di Puncak Becici.


Gubuk di atas tebing


Lumayan jauh menuju Puncak Becici dari hotel tempatku menginap.  Tiba di lokasi menggunakan bus ternyata punya cerita tersendiri.  Tempat parkir terbatas dan berupa tanah diatas permukaan yang mempunyai sempadan curam.  Space yang tersedia membuat manuver bus berbahaya bila sang sopir tidak hati-hati mengendalikan stir.  Bisa-bisa bus jatuh terguling ke bawah.


Persis di atas jurang
Yang takut ketinggian jangan mencoba yang satu ini


Beberapa spot foto menarik ada disini.  Mulai dari bersifat romantis dan aman lokasinya sampai dengan yang berisiko dan bikin hati miris.  Hanya satu hal yang membuat kurang nyaman disini, ternyata hawanya panas banget.  Meskipun berada di dataran tinggi dan rimbun oleh pokok pinus, tidak jaminan kita merasakan kesejukan alam di sepanjang area.  Malah sebaliknya, terik matahari berasa banget menerpa tubuh kita.  Semakin kita naik ke puncak, suhu semakin tinggi alias panasss.


Romantis, tidak perlu miris
Sedikit menantang nyali


Selain Puncak Becici, ada satu tempat lagi yang lumayan berkesan bagiku selama perjalanan di Yogya yaitu jeep tour ke puncak Merapi. Jiwa adventure sepertinya terpuaskan disini.  Pas banget aku dapat jeep willis dengan tampilan bak tentara Amerika di Perang Dunia ke-2.  Warnanya hijau army, benar-benar gagah kalau naik mobil ini.  Masker dibagikan kepada seluruh peserta karena kita akan melalui medan berdebu.  Makanya, semua peserta disarankan menggunakan kacamata juga. 


Jeep tour-1
Jeep tour-2
Jeep tour-3
Jeep tour-4
Jeep tour-5
Jeep tour-6



Bisa dikatakan di sepanjang perjalanan, kita akan digoncang terus oleh jeep ini.  Memang medan lumayan ekstrim, penuh dengan batu-batu cadas, lobang, sempit dan berdebu.  Untungnya semua sopir jeep sudah familiar dan cenderung tersenyum bila melihat peserta teriak karena guncangan keras.  Terkadang malah terlihat sang sopir cenderung memilih jalan yang menantang.  Semakin banyak guncangan semakin menarik, pikir mereka.


Rombongan berpose 

Merapi yang masih aktif

Semua ceria


Spot yang menarik disini adalah batu aliens, bongkahan super besar yang keluar dari gunung dan terbawa lava ke lembah.  Terbayang betapa dasyatnya semburan lava gunung Merapi sehingga bisa melontarkan batu sebesar itu.  Tak terbayang batu sebesar itu menimpa perumahan penduduk di lereng gunung.  Semua luluh lantah diterjang lahar panas dan batu-batu besar.  Jejak-jejak korban bencana dapat kita lihat di museum swadaya masyarakat yang terlihat kurang dirawat oleh Pemerintah Daerah.


Batu besar yang keluar bersama letusan Merapi


Rumah peninggalan penduduk korban Merapi menjadi saksi bisu kisah sedih yang mengenaskan hati.  Sejatinya tidak banyak yang bisa dilihat lagi bukti keganasan bencana alam itu.  Kalaupun ada yang tersisa, itu merupakan bagian yang tidak terlalu parah kena aliran lahar ataupun udara panas gunung Merapi.  Sebagian besar luluh lantah diterjang ombak lahar panas.  Bahkan jalan-jalan aspal di area pemukiman dibiarkan terkoyak hancur  dilibas lava.


Museum unik bukti korban bencana Merapi
Sampai sapi pun tinggal tulang belulang
Bukti murka sang alam
Ini juga
Bukti kejadian bencana 5 November 2010
Semua tinggal kenangan



Kisah pilu itu berlanjut saat kita mengunjungi bunker tempat berlindung warga dari bencana.  Disini malah terjadi cerita sedih meninggalnya orang yang katanya berprofesi sebagai wartawan di tempat yang seharusnya menjadi tempat aman dari bencana.  Artinya alam benar-benar murka dan tak kenal itu siapa.  Apapun mendapat ‘jatah’ dihampiri dan ketiban bencana.


Bunker di lereng Merapi

Isi di dalam bunker

Kondisi di atas bunker

Foto bunker sebelum dan sesudah bencana


Bila di artikel pertamaku tentang Jogja, perjalananku lebih cenderung mengulas tentang kekayaan wisata kuliner kota ini karena memang Jogja memiliki banyak tempat untuk memuaskan ‘kampung tengah’ kita.  Bahkan hampir sepanjang jalan selalu terdapat warung atau rumah makan.  Namun, seperti biasa, aku tidak mungkin mengulas tentang makanan atau rumah makan yang tidak asli atau menggambarkan budaya dan kehidupan sebenarnya penduduk lokal.  Misalnya, tidak mungkin aku menceritakan kenikmatan makan spaghetti di Jogja, karena spaghetti bukanlah makanan asli Jogja, kecuali warga setempat dapat menyajikan sesuatu yang berbeda dari sebuah spaghetti atau mengemasnya dalam perpaduan antara tradisi kuliner Itali dan Jogja.   Nah, ada yang layak aku tampilkan dalam blog-ku ini yang benar-benar khas Jogja yaitu kopi klotok.  Tempatnya lumayan jauh dari bandara dan bus tidak dapat masuk ke lokasi.  Kita terpaksa jalan kaki menuju rumah makan tradisional bergaya joglo.  Sesampai di lokasi pun aku dibuat terkagum-kagum dengan suasana di dalam rumah makan itu.  Pengelola kopi klotok membuat kita serasa memasuki dapur atau rumah penduduk biasa.  Meja kursi gaya rumahan, bahkan gelas dan piring makan pun bergaya rumahan penduduk lokal.  Area sekitar rumah makan ditanami padi dan beberapa tanaman umbi-umbian.  Unik dan menarik, cocok untuk wisatawan apalagi turis asing yang ingin mengenal lebih dalam kehidupan masyarakat setempat. 


Serasa kita di dapur penduduk lokal

Pemandangan di belakang rumah makan

Telur dadar yang unik dan lezat


Hotel tempatku menginap sudah ditentukan oleh panitia.  Swiss Belhotel yang berlokasi di tengah kota Jogja.  Kesan pertama lumayan bagus.  Lobby meski tidak luas, tetapi ditata dengan rapi dan menarik.  Staff hotel sangat ramah dan santun menyapa tamu.  Kamar tidur bergaya minimalis, bersih dan rapi.  Tetapi saat malam hari, masalah muncul.  Aku yang mendapat kamar di lantai 9 dibuat sulit tidur karena suara musik di bar yang ada di lantai 10 sangat mengganggu.  Bukan saja suara musik yang tidak diredam oleh pengelola hotel, tetapi dentuman musik terasa seperti ada gempa.  Benar-benar mengecewakan. 


Hotel-1

Hotel-2

Hotel-3

Hotel-4


Jadi perjalanan ke Jogja kali ini berbeda, lebih ber’’variasi’’.  Ada suka dan duka.  Untungnya masih banyak sukanya.  Maklum, kalau perjalanan di-arranged oleh orang lain dan tidak melibatkan kita dalam pengambilan keputusan, artinya kita harus siap untuk kecewa.  Rasanya panitia perlu belajar mengatur perjalanan dari orang-orang yang sudah malang melintang di banyak kota dan negara atau yang berpengalaman dalam acara jalan-jalan.  Apapun itu, memang benar kata orang bijak, lebih baik kita jalan sendiri, pakai uang sendiri dan bebas menentukan apa mau kita sendiri.  Bukan kah jalan-jalan itu tujuannya untuk mencari kesenangan?



Minggu, 20 Agustus 2017

Phnom Penh, Cambodia (Kamboja), Berkelana Dengan Tuk Tuk Di Negeri 'Sihanouk'

Pesawat ATR Turboprop milik Angkor Air dengan nomor penerbangan K6 0116 mendaratkanku di landasan pacu Bandara Phnom Penh.  Aku yang untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di kota ini sudah tidak sabar ingin tahu bagaimana kondisi bandara Phnom Penh.  Aku sudah di'kaget'kan dengan Bandara Siem Reap yang super imut yang hanya memiliki satu cafe di area keberangkatan domestik.  Terminal Domestik terpisah dengan Internasional, tetapi keduanya sama-sama kecil ukurannya.  Juga aku di'kaget'kan dengan tarif Passenger Service Charge (PSC) atau orang umum lebih mengenalnya dengan airport tax yang lebih mahal dari Bandara Soekarno-Hatta (kode IATA: CGK) Jakarta.  Bayangkan, CGK yang punya 3 terminal besar untuk penerbangan domestik dan menyediakan puluhan restaurant/cafe di masing-masing terminal hanya pasang tarif PSC sebesar Rp 50.000 untuk Terminal 1, Rp 60.000 Terminal 2 dan Rp 130.000 untuk Terminal 3.  Kalau di-konversikan ke US dollar dengan kurs 1 USD = Rp 13.000, maka PSC di T1 menjadi 3,85 dollar, T2 menjadi 4,62 dollar dan Terminal 3 yang mewah itu hanya 10 dollar harga PSC-nya.  Bandara Siem Reap memasang harga 6 US dollar untuk PSC yang harus dibayar oleh penumpang domestik atau senilai dengan Rp 78.000!!  


Terminal Domestik Bandara Siem Reap
Check-in counter yang sepertiganya Terminal 1A
Ruang tunggu, 1 cafe, 2 toko
ATR 72-500 milik Angkor Air yang membawaku ke Phnom Penh


Bandara Phnom Penh (kode IATA: PNH) lebih 'mengagetkan'.  Walaupun berstatus bandara Internasional dan menjadi bandara terbesar yang dimiliki negara Kamboja, PNH ternyata sama mungilnya dengan REP atau Bandara Siem Reap.  Conveyor belt tempat pengambilan bagasi domestik cuman 1 unit!  Sudah begitu, waktu tunggu bagasi lama banget, lebih lama dari bagasi di CGK.  Area keberangkatan juga kecil, sebesar satu sub terminal atau bisa dikatakan seukuran Terminal 1A CGK.  Jumlah check-in counter terbatas dan dibuka 2 jam sebelum keberangkatan. So, jangan buru-buru ke bandara PNH kalau tidak ingin menunggu lama di kursi depan check-in counter.  Sama juga di REP atau malah lebih parah.  Waktu aku naik pesawat Angkor Air dari Siem Reap ke PNH karena saking takutnya ketinggalan pesawat dan terbiasa datang lebih awal di bandara, malah dibikin sakit hati menunggu lama untuk check-in.  Petugas Angkor Air membuka counter malah 1 jam sebelum keberangkatan.  Mentang-mentang pesawatnya kecil dan kapasitasnya rendah.  Tapi kami penumpang sudah dibuat kesal menunggu lama di area check-in yang sangat kecil dan kursi yang sangat terbatas juga.  Banyak penumpang yang terpaksa berdiri.  Parahnya, tidak ada yang dapat kami lakukan selain menunggu atau ngobrol sesama penumpang karena di area check-in tidak ada cafe, restaurant atau sekadar toko.  Kita harus bersyukur punya CGK yang jauh lebih baik dari REP dan PNH.


Conveyor bagasi hanya 1 untuk domestik
Nomor 1 sampai 3 untuk bagasi internasional
Petugas bea cukai kedatangan internasional
Check-in area ruang keberangkatan
Ruang tunggu keberangkatan
Restaurant di ruang tunggu internasional


Kunjungan pertama dalam perjalananku ke Phnom Penh adalah royal palace atau istana raja.  Aku harus 'permisi' dulu sama yang punya negara ini hehe........Istana tempat kediaman sang raja ini memiliki area yang sangat luas.  Masyarakat diijinkan masuk melihat isi istana tetapi hanya di bagian yang memang terbuka untuk umum.  Bagian yang menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya, tidak boleh dimasuki dan dijaga ketat oleh petugas bersenjata.  Halaman depan istana pun sangat luas dan menjadi spot menarik untuk mengambil gambar istana secara keseluruhan. Satu lagi, aku harus 'permisi' dulu ke Sang Raja, Norodom Sihanouk yang sekarang tinggal sejarah dan diabadikan dalam bentuk patung di tengah jalan.  Tepat sejajar dengan Patung Sihanouk, terdapat satu obyek foto favorit turis yaitu Independence Monument.


Royal Palace
Patung Norodom Sihanouk
Taman kota di depan patung
Independence Monument



Dari istana, aku meluncur menuju National Museum.  Disini kita bisa melihat segala bentuk kerajinan asli masyarakat Kamboja, peninggalan bersejarah, pakaian tradisional dan sedikit cerita tentang Pemerintahan Khmer Rogue atau Khmer Merah.  Aku merasa tidak puas dengan cerita tentang sepak terjang pasukan Pol Pot yang menghabisi masyarakat Kamboja dengan sadis, makanya aku segera menuju Choeung Ek tempat killing field, pembunuhan besar-besaran orang Kamboja oleh Khmer Merah.  Lokasi Choeung Ek jauh dari pusat kota.  Kita berasa masuk dari kampung ke kampung.  Setelah melalui jalan raya yang besar dan ramai oleh kendaraan bermotor, kita akan dibawa ke jalan seperti di tengah perumahan, sempit dan terkadang melewati tempat pembuangan sampah. 


National Museum


Masuk ke Choeung Ek kita harus bayar tiket masuk 6 dolar bila ingin menggunakan audio guide yang kita dapat dari petugas di loket pintu depan.  Tetapi kalau kita tidak ingin pakai audio guide, kita cukup bayar 3 dollar. Aku sangat excited datang ke tempat ini.  Dulu, waktu menonton film Killing Field, aku hampir tak percaya kalau peristiwa itu benar-benar terjadi.  Ribuan orang dibantai tanpa alasan.  Hanya prasangka berbicara.  Bila pasukan Pol Pot menganggap mereka yang warga biasa itu tidak kooperatif, maka mereka akan segera masuk dalam daftar 'orang yang harus dibunuh'.  


Choeung Ek Genocidal Center atau the Killing Field
Pintu gerbang
Loket tiket persis di samping dalam pintu gerbang


Mataku langsung tertuju pada sebuah bangunan tinggi satu-satunya di museum itu.  Semua turis yang datang pun selalu mengarahkan perhatiannya ke bangunan ini.  Sangat beralasan, karena di dalam bangunan yang berukuran 6x6 meter persegi tetapi punya ketinggian sekitar 10 meter itu, dipajang ratusan tulang tengkorak kepala manusia korban rezim Khmer Merah.  Mereka tersusun rapi dalam lemari display berkaca dan terbagi atas usia mereka saat dibunuh.  Di dalam Choeung Ek juga dapat kita lihat lokasi atau saksi bisu tempat pembantaian manusia, mulai dari tempat tinggal mereka sebelum dibunuh, tempat penyiksaan, tempat isolasi, sampai dengan kuburan masal.


Gedung penyimpan tengkorak korban Killing Field
Rak display yang dipenuhi tengkorak kepala
Ini bukti kekejaman Pol Pot


Cara-cara pembantaian yang dilakukan oleh tentara Khmer Merah mengingatkanku saat aku berkunjung ke Auswitcz, camp Nazi tempat pembantaian ribuan orang Yahudi.  Keduanya mengunakan racun, alat gantung diri, penyiksaan fisik dan kuburan masal.  Di Choeung Ek, kuburan masal ditemukan dimana-mana.  Lokasinya saling berdekatan.  Yang mengagetkan, area kuburan sangat kecil tetapi berisi ratusan mayat.  


Kuburan masal
Sekitar area penuh oleh kuburan masal
Kuburan masal (lagi)
Tulang-tulang korban


Untuk melengkapi cerita kekejaman Khmer Merah, kita harus datang ke Tuol Sleng Museum.  Harga tiket masuk sama dengan Choeung Ek, 6 dollar per orang.  Disini tempat interogasi dan penyiksaan para warga biasa oleh tentara Khmer Merah.  Juga disini dipajang foto-foto para korban dan foto-foto aksi Pol Pot dengan pengikutnya.  Oiya, pasukan Pol Pot selalu mendokumentasi semua orang yang ditangkap dan dibunuh.  Mereka semua harus masuk ke ruang pemotretan.  Ada yang setelah itu dibunuh, tetapi ada juga yang dipekerjakan secara paksa di ladang-ladang pertanian atau perkebunan.  Makan tidak setiap hari diberikan.  Apalagi mereka yang dicurigai sebagai mata-mata musuh, nasib mereka di dunia tidak akan lama.  Berakhir di tiang gantung, ruang penyiksaan, ruang tanpa makanan, atau ditembak mati kepala mereka oleh tentara Khmer Merah.  Bayangkan, ada seorang ibu dengan bayinya yang difoto sebelum dibunuh secara bersamaan. Di museum ini diberlakukan ketentuan, kita tidak boleh memotret semua yang berada di dalam ruangan termasuk foto-foto yang dipajang itu.   


Pintu gerbang masuk museum
Gedung museum terlihat dari samping
Gedung tempat pajangan foto-foto korban dan rezim Pol Pot
Tempat penyiksaan 'The Gallows' yang ngetop itu


Tempat berikutnya, pasar.  Ya, Phnom Penh memiliki beberapa pasar yang dipromosikan menjadi tujuan wisata.  Aku termasuk turis yang penasaran ingin tahu apa hebat atau uniknya pasar itu.  Tujuan pertama yaitu Russian Market atau Pasar Rusia atau Toul Tompuong dalam bahasa Khmer.  Awalnya kupikir pasar ini tempat bertemunya orang-orang Rusia karena rezim Pol Pot menganut ajaran komunis, sama seperti Uni Sovyet.  Atau bernama 'Russian market' karena menjual produk-produk Rusia?  Ternyata salah semua.  Aku tidak melihat sesuatu yang unik di pasar ini.  Bentuk dan penampilannya sama seperti pasar kebanyakan, tidak ada yang istimewa.  Makanya aku malas berlama-lama disini.  Masih mending Central Market yang lokasinya tidak jauh dari Russian Market.  Bangunannya lebih menarik, tertata rapi para pedagangnya, dan lebih bersih.  


Russian market-1
Russian Market-2
Central Market-1
Central Market-2


Sebagai negara yang didominasi oleh penganut agama Budha, di kota Phnom Penh banyak kita temui tempat-tempat peribadatan agama Budha.  Beberapa yang terkenal dan menjadi obyek wisata seperti Wat Langka dan Wat Oenamon.  Kedua tempat ibadah itu berada di tengah kota.  Mudah mencari lokasi keduanya.  Masyarakat umum dan turis bebas berkunjung dan mengambil gambar tempat ini.  


Wat Langka-1
Wat Langka-2
Wat Langka-3
Wat Oenalom-1
Wat Oenalom-2


Merasa aku menyukai tempat-tempat unik seperti Wat Langka, Lee supir tuk tuk-ku selama di Phnom Penh berkali-kali mengantarku ke tempat para biksu berada.  Ada satu tempat ibadah yang lokasinya agak ke dalam atau di tengah gang sempit yang ternyata adalah pusat asrama para biksu.  Lee antusias mengajakku kesana.  Jujur saja, aku agak khawatir kalau disini tidak boleh ada orang asing atau tidak boleh memotret.  Tetapi, entah bagaimana, sopirku yang satu ini luar biasa ramah sama semua orang dan ngetop di kota ini.  Aku tidak pernah mengalami kesulitan dalam menemukan tempat yang kuinginkan.  


Wat Phnom
Ini tempat ibadah di asrama para biksu
Asrama biksu


Di Phnom Penh juga menyediakan wisata sungai.  Kalau kita mau, kita tinggal datang ke jalan Oknha riverside yang memang berada persis di pinggir sungai.  Disana ada pelabuhan kecil dan bersandar beberapa kapal pesiar sederhana ala Kamboja yang siap mengantarkan penumpang mengelilingi sungai Mekong selama 2 jam.  Ongkos pesiar sungai ini hanya 20 dollar.  Aku kurang tertarik karena kulihat tidak ada yang istimewa yang kudapat dari wisata cruise ini.  Lebih baik aku pergi ke Mekong Island sekalian karena pulau ini berada di tengah sungai Mekong dan di pulau ini berasal perajin tenun sutra yang terkenal itu.  Lokasinya memang jauh, tapi bagiku tempat ini harus didatangi sebelum aku kembali ke tanah air.  Alasan pertama karena aku ingin tahu sungai Mekong yang terkenal itu dan yang kedua, aku ingin beli souvenir tenun sutra buat ibunda tercinta.


Dermaga rakyat, sangat sederhana
Tidak ada tembok beton untuk kapal bersandar
Tetapi keberadaannya sangat dibutuhkan warga
Menelusuri sungai Mekong
Dermaga hanya berupa tanah yang diperkeras
Manusia dan kendaraan masuk semua


Perjalanan dari hotel tempatku menginap sampai ke pulau Mekong sangat jauh.  1,5 jam perjalanan sekali jalan menggunakan tuk tuk.  Kita harus menyeberangi sungai dengan kapal rakyat berukuran besar yang bisa menampung kendaraan sekalian.  Kapal ini melayani dan tersedia setiap 10 menit mengantarkan penumpang dari/ke pulau.  Hanya 15 menit penyeberangan kita sudah tiba di pulau. Sesampainya aku di pulau Mekong atau Silk island ini, beberapa perempuan bermotor menghampiriku menawarkan jasanya dengan bahasa Khmer.  Aku kira awalnya mereka itu supir ojek, ga tahunya ternyata mereka menawarkan para turis untuk datang ke tempat pembuatan tenun sutra.  Dan ternyata mereka juga lumayan fasih berbahasa Inggris.  Terbukti setelah aku bilang kalau aku tidak paham dengan bahasa Khmer, mereka langsung menjelaskan maksud dan tujuannya dengan bahasa Inggris.


Peta pulau dan promosi tenun sutra
Perajin tenun sutra
Jembatan yang sempit
Jalan pun sempit di pulau ini

Pulau ini ternyata memiliki beberapa tempat ibadah penganut agama Budha yang unik bentuk bangunannya.  Aku sempat mengabadikan beberapa keunikan itu.  Berkendara dengan tuk tuk membawa keuntungan tersendiri bagiku karena aku jadi hemat waktu, tidak lelah harus jalan kaki dan sering disapa sama anak-anak kecil yang tinggal di pulau ini.  Hi, hello, where you come from, kalimat yang sering diucapkan mereka kepadaku.  Keramahan mereka membuatku nyaman berkeliling pulau.  


Kuil Budha-1
Kuil Budha-2
Kuil Budha-3
Kuil Budha-4
Kuil Budha-5


Bicara tentang kulinari, jangan khawatir, di sepanjang jalan Sisowath Quay terdapat berbagai macam  restaurant, mulai dari western food sampai asian food.  Pilihanku sudah pasti local food alias makanan asli Kamboja.  Salah satu restaurant yang kudatangi di area Sisowath yaitu Tonle Khmer.  Tonle artinya sungai. Ya, memang tepat sekali namanya karena restaurant itu memang berada di seberang sungai Khmer.  Aku menyantap habis makanan yang kupesan.  Rasanya enak banget.  Makan disini semakin terasa nikmat dengan pelayannya yang super ramah dan tempatnya yang bersih.


Ikan asam pedas ala Khmer

Salad mangga muda

Juice kelapa orange



Hotel tempatku menginap di Phnom Penh bernama Okay Boutique.  Lokasinya di tengah kota tetapi masuk ke gang kecil.  Perasaan pertama waktu menuju hotel ini agak ragu, jangan-jangan aku salah pilih. Jujur saja, aku memilih hotel Okay Boutique karena hotel ini mendapat komentar paling baik dari tamu yang pernah bermalam disini.  Mereka memberikan kredit yang sangat baik dari segala sisi.  Ternyata aku salah bila meragukan fakta itu.  Hotel ini memberikan rasa nyaman mulai dari saat kita check-in.  Suasana lobby seperti ruang tamu rumah penduduk lokal.  Apalagi resepsionis yang ramah dan dengan wajah ceria menjelaskan beberapa tempat wisata yang recommended.



Lobby lumayan luas dengan sofa-sofa besar
Patung Ganesha menghadap pintu masuk
Meja kerja, minibar di dalam kamar
2 ranjang besar dan sofa
Bath-up unik
Sederhana desain dan perlengkapan mandi-nya


Selain aku mendapat kamar yang super besar dan super lengkap tanpa ada tambahan biaya, aku terkesan dengan hotel ini saat sarapan.  Tempat sarapan ada di lantai 15 dekat dengan kolam renang.  Yang unik adalah kita harus melepaskan alas kaki kalau mau memasuki ruangan makan.  Semua tamu memang dilarang menggunakan alas kaki.  Sandal atau sepatu harus dilepas dan diletakkan di atas rak yang tersedia di anak tangga.  Kita diberi dua pilihan cara makan, duduk di kursi atau lesehan.  


Tempat breakfast
Mau duduk di kursi atau lesehan?
City view dan kolam renang menambah selera makan
Tempat favorit tamu hotel di sore hari


Perjalananku di Phnom Penh memberikan kesan tersendiri.  Banyak cerita lucu dan seru yang tidak bisa semuanya aku share via blog.  Namun sekurang-kurangnya aku masih mau berbagi cerita.  Blog ini tetap sebagai database pengingat bagiku karena sebagai manusia biasa, aku tidak akan bisa ingat tempat, nama, rasa, suka dan duka yang terjadi selama perjalanan.  Sekalian tidak ada salahnya kalau memanfaatkan sosial media untuk menyimpan semua memori itu, iya kan?.  So, happy holiday.......have fun