Selasa, 13 Oktober 2015

Harum Manis Yang Memberi Kenangan Manis

Sebenarnya ini bukan kunjungan yang pertama aku ke rumah makan Harum Manis di bilangan Sudirman, tepatnya di Jl.KH Mas Mansyur masuk kawasan Apartemen Pavilion.  Kesan pertama masuk ke resto ini adalah keramahan petugasnya dan tempatnya yang nyaman dengan interior yang tertata apik dan menawarkan tema yang berbeda-beda.  Pengunjung tidak akan bosan saat menunggu makanan yang dipesan datang bila menyempatkan diri untuk berkeliling di dalam restaurant ini.  Sirkulasi udara, tata letak perabot dan disainnya, penempatan jendela dan permainan ornament di dinding benar-benar diperhitungkan dengan baik, sehingga ruangan terasa lapang, nyaman, dan yang pasti kita jadi betah berlama-lama di dalam.  Apalagi restaurant ini juga menyediakan wifi gratis.  Nah, kalau pengunjung betah di dalam, artinya potensi pelayan menawarkan makanan atau minuman semakin tinggi dan artinya potensi pemilik restaurant mendapatkan margin laba juga semakin tinggi.
 
Ruang resepsionist
Area belakang resepsionist
Ornament di dinding lorong menuju ruangan makan
Bicara restaurant sudah barang tentu kita akan bicara tentang makanan atau minuman yang disajikan.  Percuma tempatnya bersih, lapang, nyaman, indah atau pelayannya ramah, tapi makanannya ga enak.  Sepertinya Harum Manis tidak mau sekadar dikagumi desain ruangan dalamnya saja.  Mereka punya menu signature yang lumayan banyak.  Yang paling ngetop atau jadi pembicaraan orang adalah satu 1 meter!!  Kayaknya di Jakarta cuman dia yang punya.  Sayangnya siang ini aku yang sedang makan ber-enam dengan klien tidak sedang pengin makan sate 1 meter.  Masing-masing sedang punya selera bermacam-macam, so kami putuskan pesan sate yang 1/4 meter saja haha.........takut ga habis kalo yang 1 meter.
 
Bufet dekat meja makan tempat kami duduk
Bagian tengah ruangan, keren kan?
Tata ruang yang apik dan unik
Bar yang tidak sekadar pajangan tapi menambah kesan wah
Bebek panggang harum manis yang porsinya lumayan besar karena bebeknya 1 ekor utuh!  Jangan kaget dulu, utuh bukannya disajikan dalam bentuk 1 ekor, tapi dipotong-potong menjadi beberapa bagian.  Dihidangkan dalam 1 baki kayu unik dan didalamnya sudah termasuk nasi bakar, 2 tusuk sate ayam, telur rebus dibelah 2, kering kentang dan sambal.  Rasanya hmm.......aku bisa makan melebihi limit. Ikan bakarnya pun rasanya nikmat banget karena bumbunya meresap dan benar-benar pas di lidah kita.  Saat itu ada juga pengunjung yang notabene orang asing karena terlihat dari wajah dan bahasa yang digunakan, mereka sangat menikmati semua makanan yang disajikan.  Mereka pesan sate 1 meter dan kulihat ludes disantap mereka.
 
Bebek panggang harum manis (kanan) dan rendang (kiri)
Walau 1/4 meter tapi lengkap macamnya
 
Ikan bakar benar-benar menggugah selera
 
Salah satu temanku pesan rendang daging sapi dan nasi hijau.  Saat makanan itu datang, temanku yang memang sudah sangat lapar langsung menyantapnya.  Karena suapan ke mulut tidak pernah berhenti dan wajahnya terlihat sangat menikmati makanan itu, kami jadi tergerak untuk mencicipi rendang dan nasi hijau.  Ternyata lezatnya full......................

Nasi hijau yang lezat itu
 
Kami jadi saling incip masing-masing makanan yang kami pesan.  Sayur cah kangkungnya enak, orak-arik tahu (sorry aku lupa nama menunya) juga sama enaknya.  Minumannya pun tidak kalah enaknya.  Es kopyor, es teh kelapa, juice dan semua minuman yang kami pesan pun ludes diminum kami semua.  Menu minumannya memang sama banyaknya dengan makanan dan sangat bervariasi.  Bahkan di resto ini menyediakan bir pletok atau minuman khas Betawi, suku asli Jakarta.  Aku pernah nyoba pesan dan meminumnya.  Rasanya sangat menyegarkan. 
 
Cah kangkung dan orak-arik tahu yang lezat itu
Soal harga sesuai dengan kualitas makanan, kualitas pelayanan dan tempatnya.  Worth it lah....Yang perlu menjadi perhatian pemilik/pengelola restaurant ini hanyalah tempat parkir yang terbatas dan harus share dengan café di sebelahnya yang juga lumayan rame pengunjung pada jam-jam dan hari tertentu.
 
Aku rekomendasi restaurant ini bila ada tamu-tamu asingku yang ingin makan makanan Indonesia dengan suasana tempo doeloe dan selalu memberikan kesan manis.  Beberapa teman asingku malah sering minta diantar kembali ke restaurant ini.  Super!!

Minggu, 11 Oktober 2015

Sajian Unik Ala Dapur Daun

Tidak ada rencana atau persiapan saat aku memutuskan membelokkan mobilku ke restaurant Dapur Daun di kawasan Tomang Jakarta Barat.  'Kampung tengah' dari tadi sudah teriak-teriak minta diperhatikan, maklum jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, waktunya makan siang.  Kesan pertama waktu masuk rumah makan itu terlihat bersih, terang karena bagian depan tidak ada sekat sama sekali dan memang sepertinya di-setting menjadi area terbuka plus kawasan merokok bagi pengunjung yang sekaligus ahli hisap.  Menu makanan yang ditawarkan tersusun rapi dalam etalase kaca yang bersih, terlihat jelas dan menggugah selera.  Otakku langsung memerintahkan jari untuk menunjuk makanan ini dan itu.  Rasa-rasanya aku sanggup makan 1 ekor kuda karena saking laparnya he...he...

Sedang asyik-asyiknya milih makanan, pelayan perempuan menawarkan paket makan siang ala Dapur Daun yang katanya unik dan murah.  Menunya terdiri dari nasi putih, urap, orek kering tempe, kerupuk singkong, dan 1 lauk terserah kita, tapi semuanya disajikan tidak pake piring, melainkan selembar daun pisang.  Wah, boleh juga nih, pikirku.  

Setelah masuk ke ruangan AC yang non-smoking, beberapa menit berikutnya seorang pelayan perempuan meletakkan selembar daun pisang lalu nasi dengan takaran sesuai keinginanku.  Menyusul, datang 2 orang pelayan laki-laki membawa nampan unik terbuat dari logam seperti aluminium yang terdiri dari beberapa kuah sayur, ikan atau daging dan beberapa makanan isi paket.  Selain milih paket, aku juga pesan lauk tambahan yaitu ayam pop, dendeng balado, jengkol balado dan juice kedondong.  Semua pesananku dalam waktu tidak kurang dari 10 menit sudah lengkap tersaji diatas meja.

Entah itu panci atau nampan namanya
Kebersihan tempat dan makanan menentukan
 


Nasi boleh banyak lho....
Kuah ikan pilihanku sedang dituangkan
Nasi pulen, urapnya segar, kering tempenya mantap
Jengkol baladonya...hmm....berasa banget!!!
Aku yang memang sudah sangat lapar, langsung saja menyantap satu-persatu makanan.  Impresi pertama terkait dengan ruangan dan lay-out-nya, kebersihan tempat dan kenyamanannya, keramahan petugas-nya membuat suasana makan siang itu semakin nikmat.  Aku yang tidak bisa makan nasi lebih dari 5 sendok makan, kali ini porsinya lebih banyak yang masuk ke perutku.  Secara keseluruhan aku bisa mengatakan, makanan di Dapur Daun enak, bersih dan sehat. Ini selalu menjadi prioritas utamaku, kalau harga aku ga pernah peduli.  Bicara tentang harga, makan di Dapur Daun tidak akan menguras dompet, menurutku sih murah. So, rumah makan ini cocok menjadi pilihan kita bila sedang jalan ke daerah Tomang.

Sabtu, 10 Oktober 2015

OMAN, Penuh Kejutan dan Kekaguman

Kupilih Oman sebagai awal dari catatan perjalananku di blog ini sebagai bukti keseriusanku menjawab saran dan masukan dari teman-teman yang selama ini hanya dapat melihat foto-foto perjalananku via Facebook.  Mereka bilang,"share dong pengalaman jalan-jalan keluar negerinya, siapa tahu kami punya kesempatan pergi kesana".  Awalnya aku agak ragu karena sudah lama meninggalkan dunia tulis menulis cerita apalagi untuk media publik.  Dulu sih saat SMP memang cukup sering membuat artikel-artikel singkat tentang tingkah polah anak muda di majalah dinding sekolah.  Kebiasaan itu berlanjut saat SMA dan kuliah.  Saat sudah berprofesi sebagai karyawan sebuah perusahaan pun aku lumayan sering mengirim artikel ke majalah internal perusahaan.  Topiknya memang sangat serius membahas permasalahan perusahaan dan terobosan atau ide penyelesaiannya.  Karena kesibukan pekerjaan dan keraguan pada diri sendiri membuatku lama vakum menuangkan ide, pengalaman, atau opini dalam bentuk tulisan.  Apalagi penyakit malas mulai menggerogoti semangatku memainkan pena di atas kertas atau menggerakkan jari-jariku di deretan keyboard computer.  Ya begitulah sekilas cerita tentang kebiasaan tulis menulisku.  It's not too late for starting over, right?
Kembali ke cerita tentang Oman.  Perjalananku diawali dengan penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menggunakan pesawat Oman Air yang terbang sesuai schedule jam 5 sore.  Seperti biasa, kalau aku mengadakan perjalanan keluar negeri, sebisa mungkin menggunakan airline dari negara tersebut supaya totalitas merasakan sensasi dari negara itu.  Namun terkadang keinginanku tidak dapat terpenuhi karena tidak semua airlines terbang ke Jakarta.  Meskipun tidak ada penerbangan langsung dari negara tersebut ke Jakarta, namun semaksimal mungkin aku berupaya menggunakan airlines setempat pada rute-rute pendek atau saat transfer melanjutkan penerbangan berikutnya, contohnya saat aku ke New Delhi India, karena tidak ada penerbangan langsung ke India, aku naik Singapore Airlines dari Jakarta ke Singapura, selanjutnya aku naik Air India dari Singapura ke New Delhi.
Bersyukur ada penerbangan langsung Oman Air dari Jakarta ke Muscat.  Perjalananku kali ini berkelas koper bukan backpacker karena aku ngga punya banyak waktu.  Maklum, dapat ijin dari Boss cuman 2 hari kerja dan di kantor sedang lumayan banyak tugas, so memutuskan pergi sebentar saja ke Oman sekadar refreshing agar sepulangnya nanti dari jalan-jalan, otak dan hati ini ceria kembali.  Jujur saja, aku lebih suka ber-backpacker karena lebih nyantai, murah dan lebih banyak surprise-nya di perjalanan.  Tapi sorry, sejak tanggung jawab makin berat di pekerjaan, waktu untuk berlibur semakin sulit saja.  Hobby traveling tidak dapat terpenuhi seperti saat masih menjadi pelaksana atau karyawan biasa.  Dulu masih bisa memanfaatkan libur hari raya yang banyak itu untuk berwisata sepuasnya ke beberapa negara, bahkan aku bersyukur dapat menikmati kesempatan cuti besar 3 bulan, wah itu merupakan anugrah yang luar biasa, so aku sangat puas menjelajahi Eropa.
Pelayanan di udara Oman Air sangat menyenangkan.  Pramugari dan pramugara bergiliran melayaniku mulai dari menawari kopi Oman yang rasanya lebih mirip wedang jahe.  Kemudian mereka menyodorkan kurma muda yang katanya lebih berkhasiat daripada yang tua untuk menambah stamina, apalagi kalau anda wanita, kata si Pramugari, kurma muda dapat menyuburkan rahim anda.  Pelayanan mereka belum selesai.  Selanjutnya mereka memberikan 1 paket toiletries yang dikemas elegan dalam sebuah tas kecil berlabel Oman Air berisi sikat dan pasta gigi, shaver dan cream-nya, ear plug, penutup mata, kaos kaki, dan masing-masing 1 tube lip balm, eye gel, facial moisturizer, serta hand & body lotion.  Urusan perut jangan khawatir, lidah kita akan diajak ber-kulinari dengan masakan-masakan timur tengah, meskipun mereka juga menyediakan menu western.  Tapi sayang kan kalau kita berwisata ke Timur tengah tapi yang dimakan makanan Eropa?  Aku sih merasa sayang kalau melewatkan kesempatan untuk bertotalitas merasakan sensasi wisata.

IMG_5542
Elegan dan sangat bermanfaat buat penumpang

Mendarat di Bandara Internasional Muscat dengan kode IATA: MCT dan kode ICAO: OOMS, aku mulai merasakan suasana Arab disana.  Sempat bingung karena ga biasa saja melihat petugas bandara menggunakan baju gamis putih.  Aku ngiranya mereka penumpang seperti kami.  Biasalah atau bisa dikatakan hampir semua laki-laki di jazirah Arab cenderung menggunakan baju panjang warna putih (aku sih bilangnya gamis hehe....) dan sorban di kepala.  Jadi aku sangka mereka adalah orang yang mungkin penumpang atau pengunjung di bandara, tapi setelah mereka mengarahkan kami penumpang yang baru turun dari bus di area kedatangan agar menuju ke antrian petugas Imigrasi, aku jadi berfikiran kalau mereka bukan penumpang atau pengunjung, melainkan petugas di bandara.  Setelah bayar Visa On Arrival di counter dekat line Imigrasi, aku segera menuju ke salah satu konter Imigrasi yang terlihat masih sepi. Benar! Ternyata semua petugas bandara menggunakan baju gamis warna putih termasuk petugas Imigrasi yang lumayan menanyakan beberapa pertanyaan terkait Indonesia.  Sontak saja aku menjawabnya dengan senang hati apa itu Indonesia dan kelebihan-kelebihannya.  Rasa Nasionalisme ku otomotis muncul dengan segera kalau ada orang asing menanyakan negaraku.  Semua hal-hal yang baik dan membanggakan di Indonesia langsung saja aku jelaskan dengan wajah tegap dan dada mengembang.
Setelah mengambil bagasi dan bertemu teman yang sudah menetap lama di Oman, kami keluar terminal menuju tempat parkir kendaraan.  Wusss........udara panas spontan menerpa wajahku.  Hangat dan tidak beberapa detik berikutnya, keringat mulai mengucur dan membasahi tubuh.  Teman Oman-ku hanya tersenyum melihatku sambil berkata,"Ini belum seberapa panasnya.  Kemaren suhunya mencapai 48 derajat!"  OMG, gila......Di Jakarta saja aku sering merasa kegerahan kalau berada di luar ruangan, padahal suhunya masih berkisar 30-33 derajat celcius.  Ini 42 derajat!! Makanya aku langsung berkeringat meskipun jam menunjukkan pukul 8 malam.  Alamat bakal sering di indoor daripada outdoor, pikirku.
Aku menginap di Hotel Holiday Inn, yang kata temanku lumayan baru dan strategis tempatnya karena dekat dengan banyak tempat-tempat wisata.  Hotel bintang 4 ini bergaya minimalis dengan desain interior yang cenderung bergaya modern dengan sedikit ditambahi dengan sentuhan khas jazirah yaitu menempatkan seperangkat coffee set warna putih perak khas Arab di area lobby persis depan pintu masuk. Banyak wajah-wajah Asia yang bekerja di hotel ini, tapi sepertinya tidak ada yang dari Indonesia, beberapa kali aku tanya, mereka berasal dari Filipina.  Ini mengingatkan saat aku traveling ke Toronto Canada, hampir semua tampang Asia di sebuah mal dekat Hard Rock Café adalah Filipino.

Holiday Inn-Room 1
Bersih dan lay out yang sempurna
Holiday Inn-Room 5
TV channel serba Arab, bung!!
Holiday Inn-Room 2
Sebelah minibar ada lemari berisi sajadah & Al Quran
Holiday Inn-Room 3
Minimalis tapi terkesan lega
Holiday Inn-Room 4
Lengkap & bersih

Kamar hotel lumayan lega dengan minibar berisi beberapa sachet teh, kopi, gula dan creamer, juga air mineral 2 botol gratis.  Lemari pakaian dan lemari perkakas yang berisi strika pakaian dan mejanya, lampu emergency dan satu lagi kelebihannya yaitu sajadah dan Al Qur'an.  Mungkin karena ini negara Islam kali ya?  Kamar mandi lumayan lengkap dengan handuk-handuk, sabun cair, shampoo, sikat dan pasta gigi.  Kalau kurang, kita tinggal telpon house keeper, mereka segera datang ke kamarmu sambil membawa apa yang kita inginkan.  Wifi tersedia di dalam dan luar kamar plus kualitasnya ok. Kalau sarapan, kita tinggal turun ke restaurant yang dekat dengan kolam renang yang lebih tepat kalau dibilang kolam berendam karena ukurannya ga cukup untuk berenang.  Menunya bervariasi, mulai dari western, eastern sampai yang khas Arab.  Oiya, buah-buahan Indonesia seperti manggis, rambutan, mangga, kelengkeng sangat popular dan mahal di Oman tersedia juga di hotel ini, tapi sayangnya yang di hotel bukan asli Indonesia, melainkan diimpor dari Thailand.  Rasanya kurang enak, lebih mantab yang aslinya. So, kalau mau bawa oleh-oleh buat teman di Oman, lebih baik bawa saja buah-buahan Indonesia, oh mereka pasti kegirangan menerimanya.
Tempat wisata yang aku kunjungi pertama adalah Hawiyat Najm Park di Dabab area, sebuah sinkhole atau lubang besar tempat jatuhnya meteor.  Lokasinya sangat jauh dari Muscat, tapi kita tidak akan rugi kalau kesana karena akan bertemu dengan keindahan alam ini.  Air dalam kubangan itu berwarna hijau dan aman untuk berenang atau pun diminum.  Kenapa?  Karena banyak sekali ikan-ikan kecil yang hilir mudik siap menyambut kaki kita kalau kita benamkan ke air.  Seperti pijat ikan, mereka siap menggigit dan memakan kulit-kulit luar atau mungkin jamur atau bakteri yang ada di kaki kita.  Kalau ga biasa memang sangat geli rasanya.

Sinkhole-1
Wow 1
Sinkhole-2
Wow 2
IMG_3085 (1)
Wow 3

Oman terkenal dengan Wadi-nya yang dalam bahasa Inggris berarti Valley, tapi aku lebih suka mengatakan oasis karena bentuknya mirip sungai kecil dengan tanaman kurma di samping-samping sungai.  Karena saking banyaknya wadi, aku hanya sempat berkunjung ke wadi di sekitar area Sur.

Wadi-2
Wadi di area Tiwi
Wadi-3
Kambing gurun
Wadi-1
Boat kecil siap mengantar keliling wadi
Oasis yang menyejukan
      
Yang wajib dikunjungi di Oman yaitu landmark atau icon Negara dan kebanggaan rakyatnya, Masjid Raya Sultan Qaboos di Muscat.  Aku sempat meng-capture sisi-sisi unik, indah dan megahnya masjid ini melalui Canon 5D dan Iphone 6 plus.

IMG_3178
Tampak depan
Al Qaboos-1
Pintu pertama yang aku temui
Al Qaboos-2
Menakjubkan
Al Qaboos-3
Megah
Al Qaboos-4
Presisi simetris
IMG_3199
Mewah
IMG_3194
Mengagumkan
  
Perjalananku berlanjut ke gurun padang pasir di Bidiyah.  Aku sangat exciting saat tahu akan dibawa temanku ke gurun.  Sebenarnya temanku ingin menempatkan aku di hotel yang berada di tengah-tengah gurun, tapi karena suhu saat itu sedang panas-panasnya, dia khawatir aku ga kuat dengan panasnya Oman.  Waktu SD dulu aku tahunya ada 2 gurun yang besar yaitu Sahara dan Gobi.  Aku akhirnya tahu kalau gobi itu artinya gurun, jadi kalau gurun Gobi artinya gurun-gurun dong haha...

IMG_3131
Gurun dalam bidikan Iphone 6 plus
desert-1
Jalan menuju spot yang tepat untuk berfoto ria
desert-2
Unta pun bahagia menyambutku he...he..
   
Tidak lengkap berkunjung di suatu Negara kalau tidak berwisata kuliner.  Dalam perjalanan balik ke Muscat dari Sur, aku menyempatkan diri minum kopi Karak yang rasanya lebih mirip bandrek daripada kopi.  Selanjutnya aku mampir ke Zaki restaurant keluarga yang sangat terkenal di daerah itu yang menyajikan menu ikan dan daging domba khas Oman.  Setelah dapat tempat duduk dan pesan makanan, restaurant itu dalam sekejap sudah penuh oleh pengunjung.  Kita memang harus pesan tempat terlebih dahulu kalau ingin makan disana apalagi kalau pada jam makan siang.  Wisata kulinerku lumayan terpuaskan dengan mengunjungi berbagai macam restaurant yang menyajikan makanan khas Oman atau minimal tempat itu favorit bagi orang-orang Oman.  Aku pantang kalau berkunjung ke suatu Negara tapi tidak merasakan makanan khas Negara itu.  Urusan cocok atau tidak dengan lidah kita itu ga masalah, minimal aku merasakan sensasi-nya dan punya cerita.  Masa' ke Oman makannya Mc Donald? ga aci lah...... Banyak tempat makan enak di Oman.  Kamu perlu coba makan siang di restaurant Al Sablah.  Sekali lagi, harus booking dulu karena tempatnya ramai pengunjung dan favorit untuk keluarga.  Pesan saja salonah, shwah, menu favorit restaurant ini, kalau beruntung maksudnya masih ada, kamu akan dapat menikmati daging super empuk dan lezat itu.  Restaurant ini punya 2 pilihan tempat, pake tempat duduk atau lesehan.  Favorit dan susah banget dapatnya yaitu yang lesehan.  Jumlahnya hanya 3 bilik kamar kapasitas masing-masing 7 orang atau 8 lah per kamar.  Setiap kamar hanya ditutup oleh tirai dan tirai itu ditutup bila ada orang di dalamnya.  Biasanya yang bawa istri atau anak lebih memilih tempat ini dan benar-benar unik.  Oiya, semua makanan porsi orang Arab ya, so jangan sekali-sekali kalian 1 orang pesan 1 menu, bisa-bisa ga habis dan terbuang sayang. Malamnya aku ke the Jungle restaurant untuk dinner yang katanya temanku tempatnya oke dan ternyata memang benar-benar oke.  Kita dibawa ke suasana pedalaman hutan rimba, dengan tanaman yang cukup lebat dan patung-patung hewan mirip taman safari.  Yang lebih kusuka adalah tempat ini menyediakan daging unta.  Di Jakarta kan susah kalau pengin makan daging unta. Kalau ke Muscat, jangan lupa juga menikmati minuman juice buah campur Al Sham, dijamin segar dan sehat........Campurannya banyak banget, ada mangga, papaya, alpokat, kacang almond, dan lain-lain.  Supaya lengkap wisata kuliner-nya, aku pergi ke Tche Tche café dekat pantai atau jalan cinta kata orang Oman untuk menikmati sisha.

IMG_3091
Lihat label Karak Taste? Inilah tempat beli kopi Oman
IMG_3232
Baru 1 menu Al Sablah keluar. langsung bengong lihat porsinya
IMG_3269
Daging unta panggang The Jungle kusantap habis

Satu lagi, ternyata Oman punya sejarah ibukotanya.  Dulu bukanlah di Muscat seperti sekarang melainkan jauh sekali keluar dari Muscat.  Kota tua itu dikelilingi oleh bukit-bukit tinggi dan dekat dengan laut yang strategis dari serangan musuh.  Dekat dengan kota tua itu, aku menyempatkan diri ke hotel Shangrila, hotel bintang 5 plus yang sebelumnya akan jadi tempat menginapku. Karena lokasinya yang super jauh dari tempat-tempat wisata lainnya, makanya aku pilih Holiday Inn.  Yang menarik dari hotel Shangrila adalah lokasinya yang diatas batu-batu cadas dan tanah gersang.  Minyak menjadi kekuatan Negara Oman dan Rajanya, Sultan Qaboos yang arif dan dekat dengan rakyatnya yang berhasil membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi sesuatu yang menakjubkan.  Pemandangan dari hotel ini sangat bagus, benar-benar mengagumkan!!

Kota tua bekas ibukota Oman
Tempat pemerintahan Oman dulu
Keindahan pantai di hotel Shangrila & benar-benar tanning!!
Tanaman tumbuh subur diatas batu cadas, amazing!!
Berikut beberapa spot-spot menarik yang aku abadikan dengan Iphone 6 plus-ku dapat menjadi referensi bagi yang mau jalan-jalan ke Oman.

Benteng dekat kantor pemerintah
Kayak Golden Bridge San Francisco ya?


Kapal bersejarah

Pelabuhan tua yang masih terawat dengan baik
 

Banyak kenangan dan keceriaan selama perjalanan di Oman. Semoga ada kesempatan kembali kesana.